Tahun Baru, Tradisi yang Membelenggu

Tahun Baru, Tradisi yang Membelenggu

Oleh Rika Rahmad Darniati

 

Penghujung tahun, 2011 akan menjadi sejarah ketika 2012 datang tepat jam 00.00 wib. Jalanan di penuhi terompet, orang-orang sibuk dengan perencanaan menyambut tahun baru, hanya tinggal hitungan detik. Persiapanpun dilakukan, beberapa panitia sibuk mempersiapkan acara penyambutan tahun baru masehi itu. Latihan, dekorasi, mereka bekerja berkuras tenaga, fikiran dan materi. Entah apalah sebabnya Indonesia, Sumatera Barat, Minangkabau khususnya yang mayoritas penduduknya muslim ini sangat bergairah menyambut tahun baru masehi dibanding dengan penyambutan tahun baru Hijriah yang merupakan tahun baru islam.

Kebudayaan adalah ide, gagasan, pola fikir masyarakat yang kemudian berbuah prilaku diwujudkan dengan perayaan tahun baru masehi. Banyak cara, banyak acara, semuanya hanya kegiatan yang menghambur-hamburkan uang dan kepuasan nafsu belaka. Pantai Padang, taman Budaya, Taman Melati, Jembatan Siti Nurbaya dan banyak lagi lainnya menjadi pusat perayaan malam tahun baru. Ratusan manusia malam ini lalu lalang, malam ini tak terasa malam hari. Hiruk pikuk bunyi teropet dan suara mesin kendaraan manjadi saksi pergantian tahun ini.

Merayakan tahun baru masehi yang sesungguhnya merupakan moment perayaan umat kristiani. Namun budaya itu seolah dekat dan melekat dengan masyarakat kita dan menjadi sebuah tradisi. Tradisi, kebiasaan yang dilakukan dengan gamblang tanpa beban. Merayakan tahun baru bagi mereka yang merayakan sesungguhnya terjebak dengan suasana hangat berbagai media cetak maupun elektronik. Berapa banyak iklan dan program acara televise menyambut tahun baru menjadikan sebagian besar kita ikut serta di dalamnya tanpa alasan rasional. Merayakan tahun baru seolah menjadi tindakan yang wajib, semua itu di pengaruhi oleh kebudayaan yang merupakan wujud pola fikir masyarakat itu sendiri. Seperti apa sikap masyarakat menanti tahun baru, itulah cerminan masyarakat muslim daerah sumatera barat saat ini.

Pertanyaannya adalah masihkah minang kabau berpegang teguh dengan filsafah adat basandi sarak, sarak basan di kitabullah, syarak mangato adaik mamakai ? Pribadi muslim yang selama ini dijunjung tinggi putra-putri minang apakah masih menjadi tradisi atau telah tenggelam di telan arus gloalisasi. Jika syar’i perintahkan “Wahai orang-orang yang beriman masuklah kedalam islam secara kaffah, dan janganlah engkau ikuti ajaran setan, karena sesungguhnya setan itu adalah musuhmu yang sangat jelas”(QS Albaqarah 108). Maka tindakan yang seharusnya kita laksanakan adalah sesuai dengan visi dan misi seorang muslim.

Sebagai seorang muslim, tidak mungkin megingkasi eksistensi diri dengan mengabaikan visi dan misi ajaran islam yang harusnya melekat dan menjadi karakter individu setiap pemeluknya. Dua hal ini merpakan quantum yang saling megisi untuk membuahkan sebuah tindakan yang mempunyai arti. Visi yang merupakan cara kita memendang diri sendiri, peran dan posisi diri kita secara menyeluruh dan mencangkup tiga dimensi sejarah, keyakinan, dan masa depan. Visi juga harus ditanamkan pada diri mencangkup seluruh nilai dan penilaian diri kita atas eksistensi diri kita di tengan pergaulan manusia, lebih substansial adalah cara pandang kita menempatkan diri dalam berhadapan dengan Allah SWT.

Visi yang berkaitan dengan eksistensi inilah sebenarnya yang melahirkan cara mengambil posisi dan membuat formulasi tentang tujuan, dan kemudian mengarahkan seluruh prilaku menuju sebuah tujuan yang ingin diraih. Maka misi yang erat kaitannya dengan cara pandang kita terhadap makna keberadaan, eksistensi diri hendaknya disadari setiap pribadi muslim dalam arti dan makna “ada”. Ada bukan hanya sekedar keberadaan fisik dan ucapan semata. Namun sikap utuh dari keimanan dan amal saleh yang terdapat dalam Alquran harus menjadi formulasi terhadap kesadaran daneksistensi diri kita sebagai muslim sejati.

Maka persoalannya adalah boleh atau tidak boleh merayakan tahun baru masehi. Kita semua sebagai seorang muslim tentunya paham makna sebenarnya tahun baru masehi. Kita juga harusnya mampu mengambil sikap bukan dengan alasan kong kalehong semata. Namun sesuai dengan nilai dan prinsip dan identitas diri seorang muslim. Jika ingin merayakan tahun baru, bukankah moment tahun baru hijriah dengan makna perubahan menuju kebaikannya lebih bermakna dari tahun baru masehi yang kita sendiri tidak mengerti maknanya. Rasa bangga dan kesetiaan terhadap nilai-nilai islamiah akan menjadikan kita merasa memiliki islam dan hidup ditengah tradisi-tradisi kehidupan yang islamiah dan qurani. Insyallah

 

| Tinggalkan komentar

Jika Menjadi Anggota DPD

Sebuah Handphone, Laptop. Jaringan Internet dan Helikopter Mini

Jika saya diberi kesempatan menjadi anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD), saya akan bersyukur. Sebab, dengan syukur saya bisa membalas terima kasih untuk daerah yang mengamanahkan saya, Sumatera Barat.

Untuk melengkapi rasa syukur itu saya mengumpulkan gaji saya dalam beberapa bulan untuk membeli kebutuhan yang saya anggap penting seperti: sebuah handphone dan kartunya, sebuah laptop lengkap dengan jaringan internet. Nanti, (mungkin) ditambah sebuah helikopter mini.

Saya serius, jangan tertawakan saya atau menganggap saya tolol dengan ucapan saya ini. Sebab saya ingin menjalin kerjasama dengan masyarakat daerah saya dengan bantuan telepon genggam. Nomornya akan saya sebar di setiap jalan, di pelosok negeri. Jika ada masalah yang dikeluhkan masyarakat daerah saya, cukup hubungi saya via telepon dan SMS, insya Allah saya akan menanggapinya.

Laptop dan jaringan internet saya gunakan untuk memantau aktifitas masyarakat. Saya tahu masyarakat sudah semakin cerdas dengan teknologi. Sayangnya penggunaannya tidak dimaksimalkan. Saya ingin menularkan semangat melapor kepada masyarakat di dunia maya. Jika ada yang butuh saya, silhkan cari saya pada tuan facebook, twitter, email ataupun YM. Sekarang dengan handphone 300 ribu saja, orang sudah bisa berintenet. Banyak masyarakat desa pun yang demam internet. Saya rasa ini peluang lebih dekat dengan masyarakat.

Yang terakhir, jika memang ada helikopter mini, saya akan bolak balik ke daerah asal saya. Bisa jadi sekali, dua kali atau tiga kali seminggu. Rutenya jelas beda-beda. Selama lima tahun, saya ingin menjangkau semua pelosok wilayah daerah saya. Saya ingin kenal betul dengan masyarakatnya secara langsung, tidak hanya mendengarkan kabar di radio televisi ataupun koran.

Ah, jika tak bisa membeli helikopter, tak apa-apalah. Saya tak akan berhenti untuk datang ke seluruh pelosok daerah saya. Pokoknya dalam waktu lima tahun, semua daerah yang ada di Sumbar akan saya kunjungi. Dan kiranya ada yang setuju, ide ini akan saya tularkan kepada anggota DPD lainnya.Mudah-mudahan yang lain tak keberatan. (fresti aldi)

Padang, Desember 2011.

| Tagged , , | 1 Komentar

Jika Harus Berpisah

SEBUAH hukum alam, setiap pertemuan pasti diakhiri dengan perpisahan. Kenyataannya memang seperti itu. Pertemuan terkadang menjadi sebuah hal yang tidak mengenakkan. Kenapa harus berpisah?

Entah kenapa, ketika mendengar kata pisah raut wajah selalu berubah berkerut dan air mata selalu ingin keluar. Perasaan sedih jelas datang begitu saja ketika kata pisah itu terucap. Tapi, bisa apa? Semua harus seperti itu, perpisahan itu memang harus terjadi. Berpisah sudah menjadi hal yang lumrah terjadi dalam hidup. Ketika lulus sekolah kita mesti berpisah dengan teman-teman sekelas. Bahkan jika ada yang memilih kuliah di luar kota juga mesti harus berpisah dengan keluarga. Perpisahan memang sebuah pilihan yang harus dijalani.

Bapisah, bukannyo bacarai, ungkapan ini seakan menjadi motivator dalam menghadapi perpisahan yang terjadi. Lagu Minang yang satu ini menjadi ngetop saat dilangsungkan acara perpisahan di sekolah dan di tempat lainnya.

Bapisah bukannyo bacarai menjelaskan jika perpisahan itu tak perlu disesali. Artinya, perpisahan tidak menutup jalan untuk tetap melakukan komunikasi, melakukan hubungan silahturrahmi satu dengan yang lainnya. Lantas bagaimana dengan rasa yang sempat tertumpah?Apakah harus begitu saja hilang?

Perpisahan memang merupakan hilangnya wujud suatu benda atau orang se¬hingga kita tak bisa lagi melihat dengan jelas bagaimana rupa orang tersebut sebagaimana yang sering kita lihat. Namun, rasa tak bisa dibohongi, rasa itu akan tetap melekat sampai kapanpun walaupun dipisahkan oleh jarak, ruang waktu bahkan dipisahkan oleh dunia yang berbeda.

Mengenang mungkin hal yang pantas dilakukan untuk kembali membangun rasa itu. Bagaimana mencoba mengingat kembali kenangan saat-saat bersama, ketika sama-sama tertawa, sama-sama menangis. Kenangan tersebut akan memberikan kekuatan baru untuk bertemu dengan perpisahan. Mengenang juga akan menimbulkan rasa rindu. Rasa rindu itu pula lah yang membuat perpisahan menjadi semakin berarti. Ketika pernah rindu berarti telah membuat berpisah menjadi suatu hal yang yang tidak menyakitkan lagi. Sebab, rindu akan membangkitkan kembali rasa yang tertinggal. Namun, apakah rindu harus dibayar dengan pertemuan? Mungkin tidak, sebab ketika pertemuan tidak berhasil maka bisa kembali pada rencana awal yaitu mengenang.

Bagaimanapun, hukum alam jika perpisahan itu harus terjadi memang harus dilaksanakan. Hanya saja, kita harus percaya jika semangat atau rasa itu suatu saat bisa tumbuh kembali oleh ruang dan waktu yang berbeda. Perpisahan hanyalah suatu masa yang terputus yang membuat kuta harus menyerahkan rasa yang sempat ada.

Padang, Januari 2010

Posted in Catatan | 3 Komentar

Tiga tokoh dapat Penghargaan dari Iluni IAIN

Padang- Reuni Akbar IAIN Imambonjol Padang tak hanya menjadi ajang temu kangen dengan alumni. Namun, pada acara malam temu kangen yang diadakan pada Sabtu (23/04) Malam, di Palanta Walikota Padang, Ikatan Alumni (ILUNI) IAIN IB  juga memberikan penghargaan dalam tiga kategori.

Penghargaan pertama diberikan kepada non alumni IAIN IB yang telah berjasa untuk melakukan tugas yang semestinya dilakukan oleh alumni IAIN. Penghargaan pertama ditujukan kepada Walikota Padang, Dr H Fauzi Bahar, M.Si yang telah berjasa menciptakan suasana religius di kota Padang. Selanjutnya, penghargaan kedua diberikan kepada Romeo Rizal pandji Alam, selaku pimpinan Bank Indonesia (BI) cabang Padang yang telah berjasa menciptakan dan menerapkan sistem Ekonomi Syariah. Sedangkan untuk tokoh ketiga yang menerima penghargaam adalah Walikota Jakarta Selatan, H Syahrul Efenddi, SH, MM selaku tokoh Gerakan Sosial Orang Rantau (Gesor)

Dalam pertemuan itu juga diberikan penghargaan kepada mantan dosen di lingkungan IAIN yang tidak mengajar lagi secara formal. Masing-masing fakultas diberikan satu dosen. Dari fakultas Adab penghargaab diberikan kepada Dr. H Nukman. Dari fakultas dakwah diberikan kepada Drs H Nazaruddin. Sementara dari Fakultas Tarbiyah pengharhaan diberikan kepada Dra Hj Nusfa. Selanjutnya dari fakultas Syariah penghargaan diberika  kepada Prof Dr H Amir Syarifuddin dan Prof Dr H Fauzan Mishra El Muhammadi dari fakultas Adab.

Selain penghargaan tokoh non IAIN dan dosen, alumni juga memberikan penghargaan kepada mahasiswa berprestasi yang juga berasal dari kalangan aktifis kampus. Masing-masing fakultas diberikan satu orang mahasiswa yang berhak menerima penghargaan.

Sementara itu, Fauzi Bahar, dalam memberikan sambutannya menuturkan jika ia memiliki kekuatan emosional yang tinggi dengan institusi IAIN Imam Bonjol. Dalam sehari itu saja (Sabtu red) Fauzi Bahar tiga kali datang ke IAIN. Yang pertama dalam rangka memberikan seminar pada pembukaan acara alumni, selanjutnya melantik anggota resimen mahasiswa dan juga menghadiri acara temu kangen pada Sabtu lalu.

Sedangkan Rektor IAIN Imambonjol Padang juga mengucapkan terima kasih kepada tokoh dan dosen yang telah mendapat penghargaan dari tiga kategori tersebut. Bagi Sirajuddin Zar, hal tersebut merupakan apresiasi dari alumni kepada tokoh, dosen purnawirawan dan mahasiswa. Dalam malam temu kangen tersebut turut hadir alumni IAIN yang juga telah berkiprah di tengah masyarakat seperti Anggota DPD, Emma Yohana, Anggota DPRD Sumbar Irdinansyah Tarmizi yang sekaligus ketua ILUNI IAIN dan beberapa tokoh lainnya. [fresti aldi]

Posted in Berita | Tinggalkan komentar

Band Jadul Yang Pernah Berjaya

Band Indonesia yang Populer Masa Lalu

Grup band seperti God Bless, Koes Plus, Panbers, Bimbo, The Favourite’s Group, D’lloyd, The Mercys, The Rollies, AKA memang terasa agak asing di telinga remaja hari ini. Sebab, mereka populer bukan pada zaman sekarang, melainkan jauh hari sebelum kita lahir. Kehadiran merekalah yang menjadi cikal bakal grup band di Indonesia hingga hari ini. Bagaimana ceritanya?

Agak sulit untuk mengungkapkan sejarah grup band di tanah air, sebab tak ditemukan data yang konkrit tentang awal muncul dan lahir grup band pertama di tanah air. Namun, dari data yang ditemukan, nama Idris Sardi (pemain biola sekaligus ayah kandung Lukman Sardi) disebut-sebut sebagai orang yang turut andil menciptakan kelahiran grup band beraliran pop di tanah air.

Diceritakan bahwa Idris Sardi pertama kalinya bereksperimen untuk mengarasemen lagu Sunda “Antosan” yang dinyanyikan oleh Lilis Suryani pada tahun 1964. Idris Sardi mencoba menggabungkan antara elemen musik kalsik dan musik pop dengan perpaduan orkestra. Perpaduan inilah awal cikal bakal kelahiran aliran band bergenre pop progresif.

Setelah nama Idris Sardi, juga muncul nama-nama lain yang ikut meramaikan band di tanah air pada masa silam. Mulai dari Rhapsodia, The Rollies, Giant Step, Harry Rusli, Rasela, The Rhythm Kings, AKA, SAS, Godbless, Superkid , Shark Move dan Favourite’s Group. Nama-namanya memang agak janggal di telinga remaja saat ini, namun pada masa silam, nama mereka menjadi buah bibir di era 70-an.

Di tahun 1975, Guruh Soekarno Putra dan anak-anak Gipsy mencoba untuk menawarkan musik band baru dengan menggabungkan unsur gamelan Jawa dengan unsur rock. Ini jauh berbeda dengan hal yang dilakukan Harry Roesli. Karena Harry Roesli mencoba untuk mentradisonalkan musik rock. Grup band Prambors Rasisonia juga membuat suatu revolusi baru dalam blantika musik Indonesia yaitu dengan menkreasikan gabungan musik pop, klasik dan rock.

Grup Band Koes Plus yang cukup populer pada zamannya dikenal sebagi pelopor lahirnya grup band dengan aliran pop dan rock n roll. Tak kalah uniknya, Panjaitan bersaudara atau Panbers meramaikan musik tanah air pada tahun 1969 yang personilnya merupakan kakak-beradik kandung keluarga Panjaitan.

Grup band D’LLoyd juga tak kalah populernya di era 70-an. Lagu-lagunya seperti Keagungan Tuhan, Tak Mungkin, Oh Di Mana, Karena Nenek, Semalam di Malaysia, Cinta Hampa dan Mengapa Harus Jumpa sampai sekarang masih sering didengar bahkan diaransemen ulang oleh penyanyi dan grup band baru.

Lantas Bagaimana dengan God Bless? God Bless adalah grup musik rock yang telah menjadi legenda di Indonesia. Dasawarsa 1970-an bisa dianggap sebagai tahun-tahun kejayaan mereka. Salah satu bukti nama besar mereka adalah sewaktu God Bless dipilih sebagai pembuka konser grup musik rock legendaris dunia, Deep Purple di Jakarta pada tahun 1975.

Lain lagi dengan grup band Bimbo. Band yang berdiri pada tahun 1967 ini lebih eksis pada tahun 80-an dengan lagu-lagunya yang bertemakan kritik sosial. Bahkan, pada tahun 2007, di usia band mereka yang senior mereka masih sempat menelorkan album baru. Diantaranya menampilkan karya terbaru Taufiq Ismail yang berpola kritik sosial yaitu Jual Beli dan Hitam Putih.

Nama lain yang disebut-sebut cukup fenomenal pada zaman dahulu adalah band A.KA. singkatan dari Apotik Kali Asin. Apotik tersebut milik orang tua Ucok Harahap, tempat mereka bermarkas dan latihan. Band yang berdiri di tahun 1967 ini digawangi oleh Ucok Harahap. Mereka lebih sering membawakan lagu rock dengan lirik berbahasa inggris.

pANBERS

Kalau kita melihat perkembangan band di tanah air yang pesat, tentunya kehadiran band-band baru di tanah air seperti Kerispatih, Dewa, D’masiv, Viera, Armada, ST 12, dan lainnya tak terlepas dari sejarah band legendaris di atas. Setidaknya mereka telah berusaha berkarya demi perkembangan band Indoneisa yang semakin membaik hingga hari ini. [fresti aldi/ panbers.com, wikipedia, kaskus dan berbagai sumber]

Posted in Artikel | Tinggalkan komentar

Saya Menyukai Pasaraya Kala Pagi

Pasaraya memang menyimpan banyak cerita. Cerita tentang pedagang kaki lima, tentang macet, tentang kesembrautan. Terakhir, yang membuat saya terkadang jengkel adalah tentang jalan di Pasar yang sangat padat. Saya selalu kesulitan untuk berjalan dari arah Matahari menuju Permindo. Semua bertumpuk di jalan raya, seperti pedagang kaki lima, pejalan kaki hingga pengendara sepeda motor dan mobil.

Tapi pagi ini, saya sedikit lega. Sekitar pukul tujuh pagi, suasana masih damai dan lengang. Tak ada lalu lalang kendaraan, tak ada pedagang kaki lima yang bersorak-sorak berjualan di sepanjang jalan.

Ini pertama kali saya berjalan pagi-pagi di Pasaraya, hari ini saya berangkat dari rumah untuk menuju kampus. Biasanya saya hanya berangkat ke kampus dari kos saja. Sehingga jarang sekali saya melewati Pasar, apalagi pagi-pagi sekali.

Yang ada hanya jalanan lengang, bebarapa pejalan kaki seperti saya juga terasa nyaman berjalan. Di kiri kanan, terlihat toko yang masih tutup. Satu-satu ada yang baru membuka kedainya. Ada juga petugas kebersihan yang menjalankan tugasnya, menyapu sekitar jalanan.

Sepertinya saya menyukai Pasaraya kala pagi. Saya suka pasaraya yang lengang, saya menyukai pasaraya yag tak menghambat ketika saya harus berjalan melewati Pasaraya. Sebab, tak semua orang juga ke Pasar untuk membeli sesuatu. Seperti saya, melewati Pasar hanya untuk menunggu angkot yang lewat Pasaraya. Saya rasa, Pasaraya mesti direshufle. Pasaraya mesti direnovasi, saya ingin Pasaraya yang nyaman untuk dikunjungi seperti tadi pagi.

[Fakultas Dakwah, IAIN IB Padang/15.29]

Posted in Melihat Dunia | 1 Komentar

Mengintip Sejarah fotografi

Dunia fotografi, makin hari makin enak untuk disimak. Beberapa orang banyak yang mulai menjamah dunia fotografi. Dan, yang paling menarik lagi, tak hanya profresional saja yang menggeluti dunia fotografi. Beberapa remaja pun ambil bagian dalam dunia fotografi. Buktinya, banyak remaja yang mulai menenteng kamera dan jepret-jeprat sana sini, kemudian upload via facebook.

Menurut sejarah, fotografi sudah muncul jauh-jauh sebelum masehi. Dalam buku The History of Photography karya Alma Davenport, terbitan University of New Mexico Press tahun 1991, disebutkan bahwa pada abad ke-5 Sebelum Masehi (SM). Dijelaskan jika seorang pria yang bernama Mo Ti menemukan sebuah  fenomena ketika dinding ruangan yang gelap terdapat pinhole atau semacam lubang kecil. Dari lubang kecil tersebut akan tereflesikan pemandangan luar secara terbalik. Fenomena ini dikenal dengan fenomena camera obsura yang menjadi kamera yang pertama kali dipakai untuk menggambar dan memotret.

Secara artian fotografi berarti proses atau metode untuk menghasilkan gambar atau foto dari suatu objek dengan merekam pantulan cahaya yang mengenai obyek tersebut pada media yang peka cahaya. Fotografi biasanya mengunakan kamera. Dari dulu hingga hari ini, perkembangan kamera sudah mengalami perkembangan yang pesat. Mulai dari zaman kamera obsura hingga zaman digital yang berkembang hari ini.

Foto Heliografi adalah alat pertama kali yang ditemukan dalam dunai fotografi. Tahun, 1826, Joseph Nicephore yang pertama kali menemukan foto heliografi. William Henry Fox Talbot menemukan proses positif/negatif yang disebut Tabotype. Tidak ketinggalan juga Andre Adolphe Eugene Disderi memperkenalkan rotating camera yang dapat merekam delapan citra berbeda dalam satu film. Setelah hasilnya dicetak di atas kertas albumen, citra tersebut dipotong menjadi delapan bagian terpisah dan direkatkan pada lembaran kartu. Kartu ini menjadi inspirasi penyebutan visiting card. Lantas tahun 1902, Arthur Korn membuat teknologi phototelegraphy yang mengubah citra menjadi sinyal yang dapat ditransmisikan melalui kabel. Wire-Photos digunakan luas di daratan Eropa pada tahun 1910 dan transmisi antarbenua dimulai sejak 1922. Sedangkan penggunaan Vest Pocket Kodak menggunakan 127 film ditemukan pada tahun 1912. Sedangkan negatif film pertama kali ditemukan oleh John Hendri Fox Talbot dari inggris. Negatif film tersebut di buat selama 40 detik dibawah terik matahari.

Selanjutnya, dunia fotografi seakan mendapat angin. Tahun 1920, Yasujiro Niwa menemukan peralatan untuk transmisi phototelegraphic melalui gelombang radio. Tiga tahun setelah itu, Doc Harold Edgerton menemukan xenon flash lamp dan strobe photography. Sedangkan tayangan berwarna Tayangan berwarna pertama dari Technicolor bertajuk Flowers and Trees dibuat oleh Disney pada tahun 1932. Sedangkan tahun 1936, Ihagee membuat Ihagee Kine Exakta 1. Kamera SLR 35mm yang pertama. Agfacolor membuat print film modern yang pertama dengan materi warna positif/negatif ditemukan tiga tahun berikutnya.

Kamera pun mengalami pekembangan teknologi. Citra digital ditemukan baru tahun 1957. Citra digital ini ditemukan oleh Russell Kirsh dengan menggunakan komputer.  Sedangkan, AGFA memperkenalkan kamera otomatis yang pertama, Optima pada tahun 1959. Bahkan hingga sekarang, jenis kamera pun sudah banyak yang ditemukan. Hingga hari ini, jenis kamera pun beragam, mulai dari merek, kualitas pengambilan gambar, hasil dengan berbagai merek dan bentuk. Tinggal pilih saja, sesuai dengan saku dan kebutuhan. Bahkan juga sekarang kita sering mengenal kamera dengan jenis digital dan analog.

Perbedaannya, kamera digital merekam dengan piksel sedangkan kamera analog merekam dengan film negatif berwarna, slide film negatif dan slide hitam putih. Perbedaan lainnya adalah kamera analog sudah hampir mampu menangkap seluruh warna yang dipantulkan oleh matahari dan kamera analog juga cukup sensitive. Sedangkan kamera digital belum mampu menangkap semua warna yang dipantulkan oleh matahari namun warna yang dihasilkan lebih kontras. Kamera digital juga kurang sensitif. (fresti aldi/ berbagai sumber)

 

 

 

Posted in Artikel | Tinggalkan komentar

Saya Pelupa

Umurku baru 20 tahun, tapi penyakit lupa sudah bersarang di benakku. Aku sering melupakan apa pun. Bahkan hal-hal yang sebenarnya tak harus kulupakan. Kacamata, handphone, buku dan semuanya lupa. Aku sering lupa dimana menaruhnya. Padahal baru beberapa menit saja aku menaruhnya.

Aku bahkan sering bermasalah mengingat apapun. Aku lupa nomor handphoneku sendiri. Ketika mengisi pulsa, seringkali aku melupakan beberapa angka nomor handphoneku.  Aku terpaksa melirik kontak nama yang ada di handphoneku. Masalah angka, aku memang sulit mengingatnya. Aku bahkan tak ingat jumlah uang dalam saku yang kubawa dari rumah saat berpergian.

Orang yang sudah lama tak berjumpa juga sering terlupakan. Bahkan, teman-teman SMA yang akhirnya ketemu lagi, aku lupa siapa namanya. Beberapa orang yang ketemui lagi juga sulit kutebak.

“Kayaknya pernah kenal, tapi dimana ya?”

Kalimat tersebut selalu kusebut dalam hati melihat orang yang rasanya-rasanya kukenal. Padahal baru beberapa bulan saja aku tak bertemu dengannya. Entalah, aku jadi sering melupakan apapun akhir-akhir ini. Mengingat jalan, mengingat nomor, mengingat nama. Bahkan berangkat kuliah, aku sering berbalik beberapa kali karena selalu ada-ada saja yang tertinggal.

Suatu saat, aku takut tak bisa mengingat apapun. Aku takut melupakan apapun. Aku takut jika suatu saat semua yang pernah kuingat terhapus begitu saja. Aku ingin mengingat semuanya. Aku tak ingin melupakan apa pun. Umurku masih 20 tahun, terlalu dini untuk menjadi pelupa. *

[ Asrama Jurnalistik, 03 April 2011 // 07.56]

Posted in Catatan | 1 Komentar

Cerita Sore di RTH Imambonjol

Ruang Taman Hijau (RTH) Imambonjol, sore ini menarik perhatian. Lapangannya dipenuhi oleh anak-anak yang saling berkejaran, berebut bola dan saling memasukkannya ke dalam gawang lawan.

Mereka berlari sesukanya, kadang-kadang sebuah sentakan dan teriakan terdengar dari pelatihnya. Sementara, di sisi RTH sudah banyak orang-orang yang memfokuskan pandangan ke lapangan hijau. Daya juga tak mau ketinggalan untuk ikut memfokuskan pandangan bersama banyak orang di sana.

Saya sudah mengambil posisi duduk di pinggir lapangan. Di lapangan hijau, lapangan sudah “diacak-acak” oleh anak-anak yang saya prediksi masih duduk di bangku sekolah dasar. Lapangan sudah dibagi menhadi beberapa bagian. Bebarapa bagian diisi dengan pertandingan sepakbola, beberapa bagian lagi ada yang sekedar pemanasan bersama pelatihnya.

Saya mengganti posisi ke tempat yang lebih padat. Dari percakapan orang-orang disamping saya, saya menyimpulkan jika mereka adalah orangtua anak-anal yang sedang berlari dilapangan hijau. Beberapa diantaranya tak mau memasuki lapangan. Ia asik berlari-lari di pinggir lapangan sesukanya. Perkiraan saya, anak yang berlari di pinggir lapangan tersebut baru menduduki kelas 1 atau 2 SD. Saya menyimpulkannya melihat postur tubuhnya.

Apakah maraknya pertandingan sepakbola di televisi memberikan efek terhadap orangtua memasukkan anaknya ke sekolah bola. Apakah ini hanya sekedar tren atau memang murni kemauan. Dan bagaimana dengan keinginan si anak? Apakah mereka ikhlas menjalani aktifitas tersebut atau hanya sekedar ikut-ikutan mengiyakan kata orangtuanya. Saya rasa tak ada yang bisa memaksakan bakat seoarang anak. Semua terletak pada keinginan masing-masing anak. Jika mereka senang, tak ada salahnya. Dan jika tidak senang, tak usah terlaku dipaksakan.

 

[Asrama Jurnalistik, 31 Maret 2011  // 20. 18]

Posted in Melihat Dunia | 1 Komentar

Elegi Musisi Jalanan

Melewati Toko Buku di Permindo, saya mendengar sesuara yang menarik perhatian saya. Tak terlalu asing lantunan kalimat yang dilontarkan beberapa remaja seusia saya yang duduk tak jauh dari tempat saya berdiri. Hanya saja, suara tersebut terasa berbeda karena sepotong lirik lagu tersebut dinyanyikan dengan peerpaduan alat musik sederhana, gitar dan gendang yang dimainkan apa adanya.

Rasanya tak ada yang istimewa dari lirik lagu yang saya dengar tersebut. Hanya saja, perasaan saya dibawa dalam kesederhanaan yang terpancar lewat alunan musik tersebut. Tak ada yang istimewa dari yang melantunkan potongan lirik lagu tersebut. Mereka bukan artis, bukan grup musik yang biasanya sering kita tonton di televisi. Mereka hanyalah anak yang sering menghuni jalanan. Tak hanya saya saja yang menikmati sepotong lirik lagu tersebut. Beberapa orang yang berada tak jauh dari saya berdiri juga ikut menggoyangkan kepala pertanda mereka menikmati lirik lagu tersebut.
Begitula para remaja penghuni jalanan tersebut mengekspresikan dirinya. Tanpa beban mereka menikmati jalanan yang mereka punya. Mereka hanya melakukan hal-hal yang kiranya membuat mereka senang, termasuk dengan bermain musik. Mereka tak terlalu memikirkan persoalan yang sebenarnya tengah menempel di otak mereka. Apakah itu masalah pendidikkan, masalah ekonomi, masalah keluarga dan sederetan masalah lainnya.
Mereka, teman-teman kita yang menghuni jalanan, sama halnya dengan kita. Mereka juga mempunyai impian, cita-cita dan harapan. Hanya saja, teman-teman kita tak seberuntung kita. Mereka hanya bisa menerima kenyataan mesti berkawan dengan jalanan. Berkawan dengan musik, berkawan dengan realitas. Musisi jalanan, semestinya mendapatkan perhatian khusus, dan entah dari siapa?

[Asrama Jurnalistik, 31 Maret 2011 // 19.59]

Posted in Melihat Dunia | Tinggalkan komentar