jump to navigation

Jam Sekian Lewat Sekian Desember 2, 2009

Posted by frestialdi in Artikel untuk mereka.
Tags: ,
add a comment

Jam Sekian Lewat Sekian

Saya menghadiri sebuah rapat yang katanya “penting”. Dalam undangan, ditulislah, atau mungkin disepakatilah waktu yang akan ditentukan jam sekian lewat sekian. Karena, rapatnya “penting” saya mesti bersiap-siap dari awal agar tak terlambat menghadiri rapat penting itu.

Tepat jam sekian lewat sekian itu, saya telah berada pada tempat rapat penting itu. Namun, tak seorang pun menampakan batang hidungnya, jangankan batang hidungnya, batang tubuh mereka juga tak pernah terlihat pada jam sekian lewat sekian itu.

Jadilah saya menunggu sekitar satu setengah jam. Dalam hati, saya mengomel sendiri “ini bukan terlambat, tapi sudah molor.” Tapi  begitulah kejadiannya, satu setengah jam bukan waktu yang sebentar untuk sebuah kata ‘keterlamatan”. Semangat saya dari rumah yang awalnya sudah berapi, malam padam seketika.

Anehnya, sang tuan rumah yang punya undangan berlaku tak sopan. Kenapa saya bilang tidak sopan? Bayangkan saja, saya sudah menunggu satu setengah jam, tapi mereka masih saja asyik beraktivitas yang bukan diluar rapat ini, kelihatannya main-main. Tak selangkah pun kakinya masuk kedalam ruangan rapat penting ini.

Setelah acara dimulai dan dimulai, seorang teman yang juga kesal atas keterlambatan ini menanyakan perihal keterlambatan ini yang molor satu setengah jam dari jam sekian lewat sekian itu. Lucunya, sang punya acara berkata “Acara ini sengaja kami mulai jam sekian lewat sekian karena sebagaian tamu penting yang menjadi bagian dari acara ini datang biasanya terlambat, jadi kami sengaja membuat lebih awal di undangan.”

Saya jadi heran, kenapa orang-orang selalu berpikiran demikian. Selalu berpikiran lebih kuno dari orang kuno. Menganggap terlambat adalah sebuah hal yang biasa. Padahal, banyak pepatah yang mengatakan. Waktu adalah uang, kalau seperti ini Negara kita memang tak bias kaya jika semua orang masih berpikiran kuno kuno. Negara kita juga tak akan menjadi lebih cerdas jika mengabaikan pepatah yang satunya lagi, waktu adalah ilmu. Entahlah, apa yang telah melanda pikiran orang-orang kita, saya harap ada sebuah alat yang dapat menyetel pemikiran kuno ini, membuang kebiasan ngaret ini, agar bangsa kita lebih baik dalam segala hal. (***)

Takut Bila Melanggar November 14, 2009

Posted by frestialdi in Artikel untuk mereka.
Tags:
add a comment

Takut karena Melanggar

Oleh: Fresti Aldi

 

Salah satu atribut yang aku kenakan hari itu tidak sesuai dengan peraturan. Sampai di depan gerbang ada sedikit kecemasan. Di depan gerbang telah berdiri seorang guru yang biasanya ditakuti oleh semua murid karena kedispilinannya. Ada perasaan takut dalam hati. Tapi, sebuah ide melintas  di otak.

 

Akhirnya, dengan sedikit trik dan tipuan aku bisa juga menembus gerbang sekolah tanpa dicegat oleh sang guru dan kedapatan melanggar aturan. Perasaan senang jelas sekali karena bisa lewat dari pantuan sang guru sedangkan teman-teman yang lain harus dicegat. Agak kejam, tapi demi keselamatan.

 

Aku salah ternyata, di dalam lingkungan sekolah aku melihat guru yang berdiri di depan gerbang itu lagi. Perasaan senang tadi berubah kembali menjadi ketakutan. Aku takut lagi jika harus tertangkap basah karena melanggar peraturan. Aku lagi-lagi menghindar dan selamat lagi sampai jam pelajaran habis. Namun, pas pulang aku juga mesti berhati-hati jika bertemu lagi dengan guru yang sama dan harus dihukum. Dan akhirnya selamat lagi.

 

Karena hari itu sukses. Beberapa hari kemudian aku kembali melanggar aturan dengan tapi dengan kasus yang berbeda. Kembali sang guru berdiri lagi di depan gerbang, mengamati setiap siswa yang lewat, kalau-kalau ada yang melanggar. Otakku berputar-putar lagi dan ingat sesuatu yaitu mencoba trik beberapa hari yang lalu, dan berhasil lagi.

 

Tapi di dalam lingkungan sekolah ada rasanya yang hilang karena aku melanggar peraturan. Perasaan demi perasaan takut, menghindar dan menghindar dari sang guru membuatku memahami suatu hal yang hilang dari diriku selama melanggar peraruran.

 

Kebebasan, itulah yang telah terampas dari diriku karena telah melanggar peraturan. Aku tak mendapatkan kebebasan yang didapatkan oleh teman-temanku. Aku hanya berada pada lingkungan tertentu saja, artinya aku hanya bebas melakukan aktivitas ditempat yang tidak ada guru yang mencegat. Tak bebas pergi ketempat yang ada banyak guru.

 

Selanjutnya yang membuatku tak bebas adalah rasa ketakutan. Aku seringkali merasa takut. Kemana-kemana takut jika bertemu guru yang menjaga di depan gerbang tadi dan hukumannya pasti lebih berat dari yang biasanya. Jadinya aku hanya bisa berdiam-diri.

 

Begitu juga di kelas kebebasan itu kembali terampas dan ketakutan itu kembali datang. Aku tak bebas kemana-mana. Hanya duduk di kursi paling belakang dan harus mendengar suara guru samara-samar serta dengan konsentrasi yang samara-samar pula. Selain itu, ketika ada instruksi dari guru untuk maju ke depan dan menjawab pertanyaan yang diberikan aku semakin takut juga maju, padahal aku tahu jawabannya. Namun, karena aku melanggar peraturan dan takut diketahui guru aku terpaksa menyimpan jawabanku di kursi belakang menyimpan semua kelebihan yang kumiliki hanya karena melanggar.

 

Saat sang guru berjalan ke belakang, padahal bukan ke kursi ku, aku sudah takut duluan. Segera mungkin kusembunyikan diriku dan menutup atribut yang kulanggar, benar-benar gerakku terasa tak bebas. Tapi begitulah kenyataannya. Aku harus berulang-ulang terampas kebeebasannya dan kembali ketakutan karena ulahku sendiri melanggar peraturan.

 

Suatu hari, aku tak berhasil meloloskan diri dari sang guru. Ketika itu ada razia mendadak ke kelas-kelas. Kelasku di razia, setiap murid diperiksa apakah atributnya sesuai dengan ketetapan. Akhirnya aku ‘ditangkap’ dan dihukum, betapa malunya aku dengan teman-teman yang tidak melanggar aturan. Kami (karena yang tertangkap bukan hanya aku, tapi ada beberapa siswa) pun disuruh berjanji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama, disamping diberikan hukuman.

 

Setelah hari itu, aku mencoba mengikuti aturan dan aku serasa merdeka karena aku tak merasa terkurung lagi. Aku sudah merasa bebas. Bebas ke kantin, bebas keruangan guru. Tak mesti cari jalan pintas lagi jika masuk kelas. Aku juga tak pernah takut lagi jika duduk di bangku depan. Aku  juga mendapatkan nilai plus ketika maju ke depan kelas dan menjawab pertanyaan sang guru, jawabanku tak lagi tersimpan. Intinya, aku merasa lebih tenang dengan cari aman dengan tidak melanggar aturan. Padahal, kalau dipikir-pikir tak ada yang salah juga dengan aturan yang diberikan, semuanya menjadikan kita lebih disipilin, teratur dan lebih baik.

 

Dari Kegiatan Mencatat September 16, 2009

Posted by frestialdi in Artikel untuk mereka.
add a comment

Dari Sebuah Kegiatan Mencatat

Memasuki Taman Kanak-Kanak, pelajaran mengenal huruf disuguhkan guru kepada muridnya. Mulanya hanya satu huruf saja, setelah itu mulai dua huruf, tuga huruf, empat huruf dan lainnya. Pelajaran di Taman Kanak-Kanak memang hanya sederhana, yaitu mengenal huruf dan mencoba menyebutkannya. Lantas ditambah dengan sederetan permainan dan bernyanyi untuk menyeimbangkan kemampuan

Beranjak Sekolah Dasar, pelajaran mengenal huruf berlanjut. Di Sekolah Dasar, tak hanya menyebutkan beberapa huruf, tapi sudah mulai mencoba menuliskan hurufnya.  Semakin lama, pelajaran demi pelajaran akan berlanjut. Huruf B yang telah ditulis dicoba dirangkai dengan huruf U, D, dan I. Sehingga menjadi sebuah kata. Tak hanya “Budi,” kata yang akan dirangkai dari huruf demi huruf yang telah dikenal. Tapi bisa saja, “Ibu Budi, Bapak Budi, Nenek Budi, Budi Pergi Sekolah, Budi Sedang Membaca” dan lain sebagainya.

Kegiatan-kegiatan itu disebut dengan nama menulis. Menulis rangkaian-rangkaian huruf yang membentuk sebuah kata. Awalnya memang sulit untuk menuliskannya, namun, setelah terbiasa mungkin tak akan kesulitan lagi. Lama-lama kegiatan menulis sudah beralih menjadi mencatat. Entah apa beda kedua kata ini, yang pasti kedua kata ini mengacu pada sebuah tujuan yang sama.

Di sekolah, SMP maupun SMA kegiatan mencatat menjadi kegaiatan yang rutin dilakukan. Bisa dikatakan, semua pelajaran disekolah harus disalin kedalam buku catatan. Setiap guru, selalu mengingatkan hal yang sama untuk mencatat setiap pelajaran.

Sejatinya, mencatat adalah sebuah kegiatan yang bermanfaat. Sebab mencatat akan membantu menolong ingatan apabila otak tak mampu lagi mengingat apa yang pernah didengar, dilihat dan diperhatikan. Katanya memang otak manusia memang unik sebab bisa mengingat banyak hal dan kapastitasnya lebih canggih dari computer sekalipun Mestinya, kita juga tak mengandalkan ini untuk tidak mencatat. Sebab, dengan sekian banyak pelajaran yang masuk. Mulai dari TK, menghapal lagu, SD menghapal Budi dan SMP dengan beberapa jenis pelajaran yang masuk tentu saja akan mengurangi kecepatan otak untuk berpikir. Bisa dibilang, otak akan melemah atau ada juga orang yang bahkan mulai lupa.

Kegiatan mencatat tentunya akan membantu dari masalah itu. Mencatat berarti menuliskan kembali apa yang telah dilihat atau didengar. Apabila lupa, tinggal buka saja buku dan akan sangat mudah mengingatnya lagi. Satu hal lagi, saat mencatat, tentunya tak hanya tangan saja yang bekerja. Namun, sesungguhnya otak kita telah bekerja mengingat apa yang telah ditulis. Dengan begitu otak tentu akan lebih fokus untuk menerima sesuatu dan tentunya juga sangat mudah mengingatnya lagi.

Pernakah berpikir kenapa guru menyuruh mencatat? Jawabannya mungkit seperti yang disebutkan tadi yaitu untuk mempermudah ingatan. Mungkin tak hanya itu saja, kita mungkin telah dilatih untuk membaca lebih cepat dari biasanya. Saat mencatat, berarti kita juga membaca. Dengan banyak mencatat tentu saja bacaan membaca lebih lancar. Mungkin, waktu SD kita terlalu lama untuk mengeja kata “Budi”. Tapi, ketika lebih sering menulis, berarti juga lebih sering membaca, dengan mudah otak akan mencerna bacaannya. Coba dicontohkan dengan kata dalam bahasa asing, ketika kita tak sering membacanya, maka kita akan terbata mengucapkannya.

Saking berharga sebuah kegiatan mencatat. Ada sebagian orang-orang tua yang selalu membawa kertas dan pena  kemana-mana. Mereka tentu saja yakin itu akan berguna apabila sewaktu-waktu mereka bertemu sesuatu. Mereka tentu tak terlalu berani mengandalkan otaknya, alasannya karena mereka sudah tua, sudah mulai pikun.

Banyak hal yang dapat dipelajari dari sebuah kegiatan mencatat. Melatih kecepatan daya ingat, melatih kemantapan membaca, melatih fokus, dan banyak hal lagi. Jika dari SD kita sudah terbiasa mencatat mungkin tak akan susah untuk melakukannya ketika sudah SMA.

Sayangnya, masih banyak dari kita yang malas untuk mencatat. Jika disuruh mencatat pelajaran di buku, tinggal photo copy saja. Jika disuruh menuliskan tugas di folio, memilih diketik saja, bisa tinggal cari di internet, lalu copy paste. Jika disuruh mencatat, lebih memilih untuk menyalin catatan teman. Disuruh menyalin catatan ceramah ramadhan, malah minta tolong kakak atau adik, dan menunggu beres saja.Berarti, telah melewatkan banyak hal, melewatkan banyak manfaat dari sebuah kegiatan mencatat. Uji saja, seseorang hanya menyalin catatan teman, ketika disuruh menjelaskan isi catatan pasti akan kesulitan karena tak pernah melihat, mendengar. Coba bandingkandua orang yang sama-sama mencatat nomor handphone, bila orang pertama meminta nomor handphone dan mencatatnya sendiri sedangkan orang kedua meminta orang lain memasukkan nomor ke handphonenya. Pasti orang pertama akan ingat lebih banyak angka dibanding orang kedua, bahkan mungkin orang kedua tak ingat satupun nomor sama sekali. Jadi, mulailah mencatat sendiri, baik itu  pelajaran atau ceramah ramadhan saja, cobalah untuk mencatat hal-hal kecil yang pernah ditemui, yakinlah, pasti bermanfaat karena ada sebuah ungkapan, hal kecil bisa menjadi besar bila kita bisa memanfaatkannya.

Hidup dalam Ramalan Agustus 29, 2009

Posted by frestialdi in Artikel untuk mereka.
add a comment

Seorang teman saya datang membawa sebuah majalah remaja ke kelas. Sementara itu,  teman yang lainnya juga bermaksud meminjam majalah tersebut. Banyak juga yang mengantri meminjam majalah tersebut, termasuk saya, saya juga ingin membacanya. Tapi, siapa cepat dia dapat, begitulah kata yang punya majalah.

Seorang teman saya mendapat kesempatan meminjamnya lebih dulu. Majalah tersebut dibolak-baliknya hingga mendapatkan halaman yang diinginkannya. Saya yang tak jauh dari tempatnya juga ikut membolak-balik mata mengikuti arah buku yang dibaliknya. Sampailah pada akhirnya pada halaman yang diinginkannya. Saya hanya mengikut saja padanya, karena dia duluan meminjam, jadi mau tak mau saya harus ikut membaca apa yang dibacanya.

Ia membaca sebuah halaman horoskop atau yang lebih populer dikenal dengan nama zodiak. Ia tampak asyik sekali membaca kata demi kata yang ada pada horoskop yang ia miliki sesuai dengan angka kelahiran. Setelah membacanya, ia senyum-senyum sendiri dan tertawa sendiri lalu berlalu meninggalkan majalah itu dan meninggalkan tanda tanya saya, ada apa dengan teman saya ini? Apa dia, akh, tidak mungkin dia tidak waras, dia kan termasuk teman yang pintar di kelas saya.

Saya mendapatkan hal yang sama setiap kali teman yang lain membacanya. Sama seperti teman yang tadi, ia hanya membuka satu halaman, yaitu halaman horoskop. Tapi kejadiannya tak terlalu aneh seperti teman yang pertama tadi, senyum-senyum dan tertawa sendiri setelah membaca kata demi kata, sugesti demi sugesti yang ada.

Ternyata banyak teman saya yang terlalu percaya pada sebuah horoskop. Mereka malah menganggapnya sebagai sesuatu yang benar. Malahan, ada juga yang mengangapnya sebagai sesuatu yang menjadi pijakannya dalam melakukan berbagai hal, tak hanya  masalah percintaan saja tentunya, termasuk masalah keuangan, kesehatan dan lainnya. Kita ternyata terlalu hidup dalam sebuah pengaturan hidup, pengaturan dalam 12 sifat dan karakter. Benarkah, dari jutaan penduduk dunia ini, hanya ada 12 orang yang mempunyai karakter atau sifat yang sama dalam satu hari, atau mungkin satu minggu dan satu bulan.

Sebenarnya, saya juga bukan orang yang anti pada ramalan. Saya membacanya, tapi tidak menjadikannya pandangan hidup ke depan, menjadikannya sebuah tempat untuk mempertaruhkan nasib, mengikuti apa yang yang dikatakannya. Saya membacanya hanya sekedar ingin mengetahui semata, melihat-lihat adakah yang benar ramalannya? Atau sama sekali tak benar?

Menyingung benar tak benarnya semua ramalan, rasanya ada satu hal yang salah pada diri kita selama ini. Kita hanya melihat suatu ramalan hanya dari kebenarannya saja dan mencoba menghubung-hubungkan dengan apa yang terjadi dengan diri kita. Sebenarnya, ada hal yang tak ada hubungannya dengan diri kita, tapi karena kita terlalu percaya pada sebuah ramalan kita malah mencoba membenar-membenarkan fakta yang mungkin tak benar sama sekali. Apakah pernah kita berkata? Wah, ini salah ramalannya? Saat membaca ramalan, pasti kita hanya melihat dari sudut kebenaran dan mencoba tertawa, menganggap itulah kebenaran hidup yang sebenarnya. Sementara itu, pada sisi ketidakbenaran kita tak pernah untuk mengungkapnya sama sekali.

Seseorang yang membaca ramalan menerima sebuah sugesti, begitu para peramal menyebutnya. Maka seseorang yang telah menerima sugesti akan mencari cara untuk mewujudkan sugesti yang diterimanya itu. Contohnya begini, seorang teman saya yang suka membaca ramalan tadi diramal oleh seseorang. Si peramal bilang, kalau teman saya itu akan mendapatkan seorang pacar seorang yang berkulit putih, mau tak mau teman saya tersebut mencari orang yang berkulit putih dan menjahui orang yang tidak berkulit putih untuk dijadikannya pacar. Ketika teman saya tersebut mendapatkan pacar yang berkulit putih, maka dia menyebutnya sebagai kebenaran dari sebuah ramalan, padahal itu merupakan bagian dari sugesti yang diterimanya. Artinya hidupnya telah diatur. Teman saya tadi menjadi orang pemilih, dan tak percaya pada kenyataan hidup, hanya percaya pada sugesti dari ramalan, mencoba mencari kebenaran ramalan.

Kenapa kita tak menyebut horoskop sebagai sebuah prediksi. Sebuah prediksi bisa saja terjadi atau bisa saja tidak terjadi, tak seperti ramalan yang kita sudah terbiasa untuk mempercayainya. Prediksi juga tak memberikan kita sebuah sugesti, prediksi tak mengharuskan kita untuk percaya. Sekarang tinggal bagaimana kita menjadikan hidup kita, apakah mau diatur dengan 12 gambaran singkat atau kita yang mengaturnya. Semuanya berada ditangan kita, pada keputusan kita. Kita pasti tahu yang terbaik. (***)

Bila Menunggu Agustus 29, 2009

Posted by frestialdi in Artikel untuk mereka.
1 comment so far

Membosankan, begitulah kata yang seringkali terucap bila sedang menunggu. Apa saja, baik itu menunggu seseorang, menunggu bel istirahat berbunyi, menunggu kepastian yang tak jelas. Semua nya akan tertuju pada satu kata, membosankan.

Mungkin banyak yang setuju bila kata bosan terlontar bila kita menunggu. Siapa pun pastinya tak akan suka menunggu bila akhirnya juga akan membosankan. Tapi kenapa kita mesti menunggu? Jawabannya karena rangkaian dari proses kehidupan kita bermulai dari menunggu dan akan berlangsung menunggu demi menunggu, apapun itu. Suka tak suka, walaupun membosankan kita mesti menunggu.

Lantas tak ada kata yang lebih indah daripada membosankan apabila menunggu? Sepertinya ada, tapi mungkin kita tak pernah tertuju pada kata itu. Kita hanya terlalu menyetujui kata yang telah popular, seperti kata membosankan.

Coba sedikit setel pikiran, pinggirkan sementara kata membosankan dari memori, ketika kita sedang menunggu, mungkin itu akan membantu menemukan kata yang akan dimaksud. Rasanya memang tak mudah menyetel atau mengganti pikiran membosankan, tapi cobalah sedikit berusaha, pasti bisa.

Selain itu, saat menunggu kita hanya fokus pada satu kegaiatan, yaitu menunggu. Akibatnya, rasa bosan, jenuh, dan tak menyenangkan muncul kala kita menunggu. Kita selalu merasa tak sabaran kala menunggu. Rasa-rasanya hal yang kita tunggu sudah di depan mata, padahal masih agak jauh, hanya saja kita merasa buru-buru, sehingga tak menyadari hal-hal kecil lain yang akan bermanfaat.

Kenapa kita tak mencoba melakukan hal lain saat menunggu. Misalnya saja, saat menunggu seseorang dari rumah, kenapa tak mencoba menyalakan televisi untuk menghilangkan rasa jenuh dan mengisi kegaiatan menunggu.  Saat sedang menunggu angkot kenapa tak menyetel musik pada hape dan mencoba mendengarkannya, atau kenapa tak mencari seseorang yang diajak berkenalan dan mengobrol selama menunggu, atau lagi kenapa tak mencoba memperhatikan apa saja yang melintas di jalanan dan mencoba mencari ide dari apa yang kita lihat atau juga mencari tahu.

Tak pernah bukan kita melakukan hal itu. Coba saja kita memikirkan hal ini, pasti saja kita tak akan bertemu pada kata membosankan. Sebenarnya saat menunggu, kita mesti mencoba melihat apa yang akan kita tunggu dan melakukan hal yang tidak membosankan seperti kita menunggunya.

Ada hal lain kenapa kita juga mesti melakukan hal-hal lain saat menunggu. Resiko, itulah hal lain yang harus kita terima. Prediksi buruknya, mungkin apa yang kita tunggu tak akan datang, tak sempat datang, atau tak bisa datang. Memang, kita harus selalu berpikiran positif. Namun, adakalanya kita juga menyiapkan alternatif dari sebuah keputusan menunggu

Itulah gunanya mencari alternatif lain atau melakukan kegiatan lain. Contoh sederhanaya, seperti yang ada tadi. Misalnya saat jenuh menunggu angkot tadi, ketika kita menunggu di tempat yang kita tak kenal siapa-siapa kenapa, ketika kita mencari seseorang untuk diajak berkenalan, sdetidaknya kita telah membunuh rasa jenuh. Tapi hal lain yang mesti kita perhatikan adalah ketika tak ada angkot yang lewat, kita bisa mengajak orang yang telah kita kenal tersebut untuk sama-sama jalan. Bukankah jalan bersama daripada jalan sendiri lebih terasa tak membosankan. Sama-sama jalan hinga melihat angkot, kalau pun masuk tak ada angkot yang lewat, bisa juga memnafaatkan informasi dari ojek dan menimbang-nimbang akan naik ojek atau jalan kaki bersama.

Mungkin, menunggu juga erat kaitannya dengan kehidupan yang kita jalani. Contohnya, bila telah ikut SNMPTN dan menunggu hasilnya. Tak ada salahnya juga mencoba mencoba mengikuti cara yang yang lain atau mengikuti tes yang lain. Jadi, ketika hasil menunggu hasil SNMPTN tidak memuaskan kita sudah ada rencana lain dan tidak terlalu merasa kecewa. Begitulah, membosankan atau tidak menunggu tergantung dari bagaimana cara kita menunggu dan melakukan apa saja saat menunggu. Selain itu, berusahalah untuk  menyingkirkan kata “membosankan” dan mengubahnya menjadi kata yang kita cari tadi, yaitu menyenangkan. (***)

Randai Mahasiswa dan Siswa Luar Biasa Juli 6, 2009

Posted by frestialdi in Artikel untuk mereka.
add a comment

Randai Luar Biasa

Apa jadinya bila mahasiswa serta pelajar yang memiliki keterbatasan disuruh bermain randai? Setidaknya itulah yang terjadi dengan sekelompok mahasiswa dan siswa kelompok randai inklusi Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) jurusan Pendidikkan Luar Biasa Universitas Negeri Padang (UNP)

Luar biasa, itulah kata yang mewakili penampilan randai dari kelompok randai inklusi ini. Mereka tampil dengan maksimal saat kegiatan ramah tamah Jurusan Pendidikan Luar Biasa Fakultas Ilmu Pendidikkan Universitas Negeri Padang (PLB FIP UNP) dengan Jabatan Pendidikkan Khas Fakulti Pendidikkan Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM) pada Selasa (16/06) pukul 10.00 Wib di Auditorium Rektor UNP.

Tepuk riuh penonton memberi semangat pada penampilan kelompok randai ini. Setiap gerakan mereka selalu diiringi tepukan tangan oleh penonton. Penampilan randai yang berjudul “Puti si Kambang Urai ini memang berbeda.

Suara indah mengalun mendendangkan lagu saat randai pertama kali dimulai. Jika diperhatikan dengan seksama, ada yang berbeda pada si pendendang. Pandangannya kemana-kemana, begitu juga dengan seorang peran yang pertama kali membuka salam, bahkan seorang pemain gendang lebih menyedihkan lagi. Matanya tak terlihat, karena tertutup kulit. Ia sama sekali tak bisa melihat. Tapi bukan itu yang menjadi pusat perhatian penonton melainkan kesempurnaan mereka yang membawakan randai berdurasi setengah jam lebih ini.

Cerita randai pun meawakili para pemainnya. Puti si Kambang Urai diceritakan sebagai anak yang memiliki keterbasan khusus. Bahkan, keluarganya tidak menerima anaknya yang memiliki keterbatasan khusus. Sesekali saat para pemain menampilkan perannya, tawa penonton terdengar saat dialog-dialog biasa dibawakan mereka dengan gayanya, begitu bersemangat dan maksimal. Nawal, Mahsiswi Pendidikkan Khas Universiti Kebangsaan Malaysia pun ikut berkomentar. Ia sangat menyukai penampilan randai ini. Kendati pun baru pertama melihat penampilan randai, ia langsung suka dengan penampilan ini. Bahkan yang membuat Nawal salut adalah para pemainnya yang memiliki keterbatasan khas.

Berbekal Keinginan yang Kuat

Melihat penampilannya yang begitu menarik, P’mails pun jadi penasaran dengan kelompok randai ini. P’mails pun mencari tahu tentang kelompok randai ini. Mulai dari awal terbentuk serta hal lain yang menyangkut dengan kelompok ini.

Randai ini secara resmi terbentuk pada bulan Februari 2009. Sebuah perjuangan yang luar biasa bagi empat orang mahasiswa Pendidikkan Luar Biasa Universitas Negeri Padang Yakni Liliana Sari, Rahmadani Ulfa, Weni Irmavera dan Arif Sulmardi. Keempat mahasiwa ini membuat proposal kepada Program Kreatitivitas Mahasiswa.  Sedangkan ide membuat kelompok randai ini.

Setelah proposal disetujui, mereka lantas mengumpulkan mahasiswa yang memiliki kebutuhan khusus untuk dilatih. Sebelumnya, mereka dibariskan bersama dan disuruh melakukan gerakan randai. Dari sana didapat siapa yang berpotensi menjadi pemain peran, pemain musik, pendendang dan sebagainya.

Kelima belas penampil randai ini bukanlah semuanya memiliki keterbatasan khusus, 8 orang merupakan mereka yang memiliki keterbatasan khusus sedangkan 7 orang lagi merupakan mahasiswa normal. Dari lima belas ini dua diantaranya merupakan pelajar SLB Wacana Asih.

Ditempatkannya 7 orang mahasiswa ini adalah untuk menjadi tutor sebaya bagi pemain yang berkebutuhan khusus. Peran 7 orang ini hanya untuk membantu, sementara yang ditonjolkan adalah mereka yang berkebutuhan khusus, mulai dari pendendang, pemain gendang, pemain peran dan pemain musik. Ada pemain yang menderita tuna netra, untuk membantu perannya 7 orang mahasiswa ini memberikan petunjuk, misalnya ada gerakan yang kurang tepat, atau arahnya membelakangi penonton.

Ternyata tak mudah memberikan latihan randai kepada mereka. Pertama-tama mereka harus diberi pengenalan ruang terlebih dahulu, bagi mereka yang tuna netra. Kebannyakkan dari pemainnya memang menderita tuna netra. Ada yang sama sekali tak bisa melihat. Ada juga yang hanya bisa melihat cahaya saja, ia tak dapat melihat dengan sempurna, tapi bisa membedakan antara siang dan malam, gelap dan terang. Gangguan ini disebut low vision. Ada lagi yang memiliki tuna rungu dan ketunaan lainnya.

Untuk menyempurnakan penampilan mereka. Setiap empat kali seminggu, kelompok ini rutin melakukan pertemuan dan latihan yang bertempat di Aula Kampus PLB FIP UNP di Limau Manis. Mereka dilatih oleh Da Das, begitu sebutan pelatih yang melatih kelompok randai modifikasi ini.

Kendati pun berbaur dengan mahasiswa yang tidak memiliki keterbatasan, ternyata daya tangkap mereka jauh lebih baik dari pada mahasiswa biasa. Hal ini diakui Sari salah satu pemain yang juga terlibat dalam penampilan ini. Menurutnya mereka yang berkebutusan khusus lebih cepat membaca not. Disisi seni, mereka jauh memang lebih pintar, sauar pendendang nya pun begitu merdu terdengar saat melantunkan dendang-dendang.

Semuanya berkat keinginan yang keras. Keinginan yang keras yang membuat kelompok randai ini lahir. Keinginan yang keras serta semangat yang kuat pula membuat penampilan mereka begitu sempurna. Rasanya, memang tak patut kita memberikan pandangan remeh terhadap mereka yang berkebutuhan khusus karena disisi lain mereka juga memiliki bakat di bidang lain. (Fresti Aldi)

Belajar Untuk Kesempatan kedua Juli 6, 2009

Posted by frestialdi in Artikel untuk mereka.
Tags: ,
add a comment

Kesempatan hanya datang sekali. Setidaknya ungkapan ini telah menjadi renungan kita selama ini. Ungkapan ini telah menjadi motivasi kita untuk menghargai sebuah kesempatan, untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan, dan untuk memenfaatkan kesempatan.

Banyak orang berpendapat kalau kesempatan itu datang hanya sekali. Sehingga, apabila datang sebuah kesempatan hendaknya mengambil kesempatan tersebut dengan sebaik mungkin, karena tak akan ada kesempatan kedua. Atau, masih banyak orang yang masih kecewa karena tak bisa memanfaatkan kesempatan itu.

Jika memang benar kesempatan hanya datang sekali, berarti dalam hidup manusia hanya diberikan satu kesempatan untuk mendapatkan sesuatu. Rasanya terlalu singkat dan sedikit sekali kesempatan itu, sementara untuk menjalankan hidup manusia mempunyai waktu yang panjang.

Bagaimana dengan kesempatan kedua? Ada atau tidak mungkin tergantung dari usaha kita untuk mencarinya. Jika kita hanya berhenti pada kesempatan pertama, berarti kesempatan itu memang datang hanya sekali. Tapi, jika kita mencoba sedikit saja berusaha, mungkin kesempatan kedua, ketiga, keempat dan seterusnya itu pasti datang untuk kita, intinya memang tergantung dari usaha kita untuk mencari kesempatan itu.

Jika memang belum yakin pada kesempatan pertama, tak ada salahnya meninggalkannya. Meninggalkan dalam artian mencari kekurangan untuk benar-benar memperbaiki dan bercermin diri, dimana yang belum sesuai dan apa saja yang akan dibenahi sehingga keyakinan untuk kesempatan pertama itu tidak ada. Paling tidak kita diberikan waktu beberapa saat untuk belajar untuk meraih kesempatan kedua dengan potensi yang lebih maksimal.

Masalah lain yang terjadi adalah keputus asaan. Di luar sana masih banyak yang berputus asa karena tak bisa mengambil kesempatan pertama karena beberapa faktor. Boleh jadi ketika itu kita belum diberikan kesempatan untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. Setidaknya kita juga bisa berproses, berproses lebih menggali diri dan terus mencoba hal lain. Atau juga keberuntungan kita belum ada pada kesempatan pertama tersebut.

Lantas, bagaimana dengan ungkapan ”kesempatan hanya datang sekali”. Tak ada yang salah sebenarnya dengan ungkapan ini. Ungkapan ini hanya sebagai motivasi bagi kita. Belajarlah untuk menghargai kesempatan kedua, itu yang terpenting karena kesempatan itu selalu ada untuk orang-orang yang tak putus asa.

Jangan pernah menyalahkan diri sendiri, keadaan dan lain sebagainya. Jika memang kita terlambat pada kesempatan pertama, jika pada kesempatan pertama kita tak bisa memanfaatkannya, selalu ada cara yang  lebih baik untuk mendapatkannya lagi. Kuncinya memang adalah usaha, usaha untuk mencari kesempatan kedua tersebut. Tak ada yang salah dengan kesempatan kedua. Yang salah adalah pola pikir kita selama ini yang hanya buntu pada kesempatan pertama dan tak pernah mencoba mencari cara untuk mendapatkan kesempatan kedua.

Barang Bekas Bisa Jadi Sumber Kreativitas Juli 6, 2009

Posted by frestialdi in Telah Terbit.
4 comments

Barang Bekas Bisa Jadi Sumber Kreativitas.

Terkadang, setelah dipakai kita hanya membuang sisanya yang tak bermanfaat. Bisa jadi itu bagian dari barang yang dibeli, kulitnya, kemasannya atau apalah. Banyak juga yang mengangap barang-barang yang sudah dipakai itu sisanya tak lagi bermanfaat. Kita membuangnya begitu saja.

Namun, tahukah kita bagi sebagian orang, barang bekas itu justru menjadi sumber insiprasi. Kiranya, tak hak hanya sumber insiprasi, terkadang barang bekas itu juga digunakan kembali atau dimanfaatkan kembali untuk kebutuhan-kebutuhan sehari-hari. Ada lagi yang menjadiukannya senagai sumber rupiah. Ya, banyak orang yang bermata pencaharian mengumpulkan barang bekas untuk kemudian dijual dan dimanfaatkan.

Sepertinya, P’mails juga ingin tahu, apakah barang bekas tesebut juga dimanfaatkan atau tidak. Bagaimana juga teman-teman menyikapi tentang barang bekas. Disimpan atau dibuang saja. Sepertinya tak mungkin hanya disimpan saja, pelajar yang kreatif tentu bisa membuat hal yang menarik dari barang bekas. Seperti apa?

Untuk lebih memudahkan, kita harus menyatukan pendapat terlebih dahulu, teman-teman pelajar kita harus tahu dulu yang mana barang bekas, yang mana tidak, nanti malah barang yang berguna atau barang yang mahal yang digunakan atau dibuang. Nah, kira-kira menurut teman pelajar, barang bekas itu apa?

Muhammad Rizky, dari SMAN 1 Padang, mendefenisikan barang bekas sebagai barang yang sudah tidak terpakai. Tak jauh berbeda dengan teman satu sekolahnya, Mega Utami Basra mendefenisikan barang bekas sebagai barang yang habis pakai. Sama halnya dengan ceplas-ceplos Okta Samita. Pelajar SMAN 9 Padang ini juga berpendapat kalau barang bekas itu barang yang tak terpakai lagi

Dari SMKN 1 Solok Selatan, Rizky Kurnia Rahman berpendapat kalau barang bekas adalah barang yang sudah dipakai atau yang telah digunakan oleh seseorang. Sementara Meri Wahyuni dari SMK Cendana Padang Panjang dan Febriza R. Dolla yang juga dari SMK Cendana Padang Panjang satu suara. Mereka menilai barang bekas itu barang yang sudah tak layak dipakai, atau barang yang tidak digunakan lagi.

Sepertinya, pendapat barang bekas memang satu yaitu barang yang telah dipakai atau yang telah digunakan seseorang. Lantas, barang-barang seperti apakah yang digolongkan sebagai barang bekas. Biar tak salah prediksi, mari sebutkan satu persatu contoh barang bekas.

Okta berkomentar jika contoh barang bekas itu ya seperti alat-alat yang tak bisa digunakan lagi. Mega lebih sedikit memperinci maksud dari Okta, ia menyebutkan sepatu, baju atau tas sebagai contoh dari barang yang disebut bekas. Sedangkan Muhammad Rizky lebih mencontohkannya kepada botol-botol minuman, botol-botol plastik. Sedangkan Rizky yang satu lagi, dari Solok  Selatan, lebih menelaah contoh barang bnekas kepada sesuatu yang bisa diolah dan digunakan kembali. Dola, pun memberikan contoh yang dimasud Rizky Solok Selatan, “Contohnya Kardus bekas membeli barang rumah tangga, atau juga kardus bekas makanan atau minuman,” bebernya. Meri lain lagi, ia malah mengkategorikan majalah bekas dan koras bekas sebagai contohnya barang bekas. “Pokoknya yang serba bekas, sandal bekas, sepatu bekas, botol bekas,” sebutnya. Namanya juga barang bekas.

Nah, setidaknya kita sudah ada sedikit gambaran tentang barang bekas. Tak bisa dipungkiri juga, setiap kita juga akan meninggalkan barang bekas dari apa yang kita pakai sehari-hari. Bisa-dikatakan juga, setiap rumah mempunyai barang bekas. Atau mungkin di rumah teman-teman kita ini. Jika dirumahnya ada barang bekas, apa yang mereka lakukan.

Mega dan Okta memilih memilih barang bekas di rumahnya karena menurut mereka berdua barang bekas memang harus dibuang. Tapi tidak begitu dengan Rizky Rahman, siswa yang lahir pada 3 Desember 1991 ini akan mencoba menciptakan sesuatu yang unik dari barang bekas. Sedangkan Muhammad Rizky malah memanfaatkan yang bisa dimanfaatkan. “Contohnya botol bekas minuman dipakai lagi sebagai botol minuman dan dibawa ke sekolah,” tuturnya.

Dola dan Meri satu suara lagi. Mereka berdua akan memilah-milah barang bekas yang ada di rumahnya. Jika benar-benar tak bisa digunakan lagi, mereka akan membuanya kealam tong sampah, bukan tempat sembarangan. Jika ada yang kira-kira bisa dimanfaatkan mereka akan memanfaatkannya untuk menjadi sesuatu, benarkah? Ada yang mau meniru teman-teman kita ini?

Mungkin tak hanya teman-teman kita ini yang memanfaatkan barang bekas, yang menjadikan barang bekas sebagai sumber kreativitas. Di luar sana, begitu banyak orang-orang yang memutar otak mereka untuk menyulap barang bekas menjadi suatu yang bermanfaat. Misalnya, kotak korek api yang sedikit diolah bisa menjadi sesuatu. Mungkin, juga jika kita mencoba melangkahkan kaki, di pasar-pasar tradisional begitu banyak kita temukan aneka cendera mata yang cantik. Namun, sesungguhnya kecantikkan itu bermula dari barang bekas. Bagaimana menurut kamu  tentang orang-orang yang seperti itu?

Menurut Meri, adanya orang-orang yang seperti itu adalah suatu hal yang luar biasa, bahkan sangat bagus sekali menurutnya itu adalah hal yang bagus. “Apalagi memanfaatkan tumpukkan barang bekas, dengan begitu juga akan mengurangi pencemaran lingkungan,” tambahnya.

Sedangkan menurut Dola, orang-orang seperti itu adalah orang-orang yang memiliki ide brilliant. Dola menambhakan orang-orang yang seperti itu adalah sumber insiprasi untuk membentuk sebuah pemikiran kalau barang bekas ternyata bisa diolah kembali. “Banyak orang yang berpikir kalau barang bekas itu tak bisa dimanafaatkan,” tambahnya lagi.

Sementara itu, Mega utami berpikir untuk meniru orang-orang yang seperti itu setelah siswi kelas X 6 ini tahu ternyata ada orang-orang yang seperti itu. Sedangkan “duo” Rizky sama-sama menghargai orang-orang yang memiliki kreativitas seperti itu.

Mungkin tak hanya orang yang mampu mengolah barang bekas yang perlu dihargai,  begitu banyak juga orang-orang yang menggantungkan mata pencahariannya pada barang bekas. Mereka mengumpulkan barang bekas dan menujualnya, sementara kita malah membuang barang bekas tersebut, bagaimana pula tanggapan terhadap orang-orang atau pelajar mungkin yang berprofesi seperti ini?

Dola menilai itu merupakan pekerjaan yang mulia, karena berkat mereka lah barang-barang bekas tersebut bisa diolah kembali. Rizky Rahman juga setuju dengan pendapat Dola siswi kelas XI ini. Mega sangat berterima kasih dengan orang yang berprofesi seperti ini, karena bisa membantu kita membersihkan lingkungan. Meri, Okta juga mengganggukkan pendapat teman-temannya ini. Muhammad Rizky ingin memuji orang seperti ini karena jasanya terhadap lingkungan.

Jika teman-teman kita ini disuruh mengolah bahan bekas menjadi sesuatu, kira-kiara apa yang akan mereka buat ya? Rizky Rahman pernah menjadikan sedotan-sedotan bekas sebagai pajangan dinding yang berbentuk bunga. Sementara Meri juga bisa menjadikan bekas kaleng menjadi celengan, bekas botol dijadikannya sebagai kotak pensil, keren juga yah? Tak hanya itu, malahan Meri juga bisa membuat tempat foto lucu dari karton bekas.

Lain lagi dengan Okta, Pelajar kelas XI IPA 2 ini bisa mengolah barang bekas menjadi sesuatu yang berguna asalkan ada contohnya. Begitu juga dengan Mega, dia sama sekali tak punya ide apa-apa untuk mengolah bahan bekas. Ide hanya ada ketika ia disuruh sekolah membuat suatu Prakarya. Muhammad Rizky malah punya ide untuk 17 Agustus nanti. Ia akan mencat semua barang bekas menjadi Merah Putih seperti warna bendera, menurut pelajar kelas X 2 ini, barang-barang itu bisa dimanfaatkan buat peringatan kemerdakaan. Sedangkan menurut Dola, botol yang itu dicat dipakai untuk perayaaan kemerdaakan nanti bisa digunakannya lagi, siapa mau Dola bisa membuatkan pot bunga yang cantik dari botol bekas itu.

Ternyata, jika benar-benar dimanfaatkan, bisa begitu banyak barang-barang yang berguna yang bisa disulap dari barang bekas, asal kita mau pasti banyak cara untuk memanfaatkan barang bekas. Yang penting, jangan memikirkan kalau barang bekas itu hanya sampah yang perlu dibuang, tapi cobalah cari ide dari barang bekas agar menjadi suatu kreativitas, selamat mencoba! (Dirangkum Fresti Aldi atas Laporan Dodi Prananda/SMAN 1 Padang)

Sekilas Tentang Duta Juli 6, 2009

Posted by frestialdi in Telah Terbit.
1 comment so far

Berbagai cara dilakukan untuk mengkampanyekan atau mengajak masyarakat untuk melakukan suatu hal. Sselain dengan iklan, promosi, dan sebagainya cara yang banyak belakangan ini adalah dengan menunjuk dan mencari seseorang untuk mewakili apa yang akan disampaikannya kepada masyarakat, mulai dari lingkungan hidup, narkoba, pariwisata dan bahari. Tak ketinggalan juga, duta baca, duta anak, sampai kepada duta muda asean. Berikut ini adalah gambaran singkat tentang pemilihan para duta tersebut.

Duta Bahari

Panitia Gerakan Cinta Bahari 2008 yang bekerja sama dengan Pemerintah Kota Surabaya, Dewan Pendidikan Jatim, Sekolah Tinggi Angkatan Laut juga menggelar pemilihan duta Bahari pada tahun 2008.

Uniknya, para peserta seleksi ini berasal dari sekolah-sekolah dasar yang beragam. Syaratnya mereka harus berada pada kelas 5 dan 6 SD yang kemudian akan diseleksi. Peserta menjalani seleksi yang berupa Pengetahuan Umum, Wawasan Kebaharian, dan Perfomance.

Terpilihlah 10 orang pelajar SD yang menjadi duta Bahari, mereka secara resmi dilantik oleh dengan menyematkan skraf biru muda di leher para duta bahari, setekah terpilih mereka lalu diundang untuk acara pembekalan duta bahari agar mereka benar-benar mampu menjadi duta bagi teman-teman mereka.

Duta Muda Asean

Tahun 2007, pemilihan Duta Muda Asean Indonesia (PDMAI) digelar untuk pertama kalinya. Selain untuk memperingati ulang tahun ASEAN yang ke 40, pemilihan tersebut juga untuk menjaring pemuda-pemuda atau remaja Indonesia yang berprestasi dari seluruh Indonesia unuk menyebarluaskan informasi mengenai ASEAN di kalangan generasi muda.

Selain tujuan tersebut Direktorat Jenderal Kerjasama Asean Departemen Luar Negeri Republik Indonesia menggelar acara ini untuk membangun kesiapan generasi muda dalam membangun ASEAN Comunity 2015, karena notabenenya generasi mudalah yang nantinya akan menjadi pemimpin ASEAN nanti.

Setelah terpilih, para pemenang dan finalis akan mengemban tugas untuk melakukan sosialisasi di kalangan generasi muda mengenai ASEAN. Selain itu, program sosialiasi di luar negeri juga dilakukan melalalui pertukaran pemuda. Diantaranya, Kapal ASEAN, Indonesia-Kanada, Indonesia-Australia, ASEAN-Korea, ASEAN-India melaui pertemuan, seminar ataupun penyuluhan.

Para peserta yang lolos 20 besar akan dikarantina untuk mendapatkan pembekalan, ujian tertulis, wawancara, presentasi hingga kemampuan dalam bidang seni budaya.

Duta Wisata

Setiap provinsi di Indonesia rutin mengadakan pemilihan duta wisata. Pemilihan tersebut dimulai dari tingkat Kabupaten dan Kota. Kriteria peserta yang mengikuti pemilihan ini adalah remaja. Patokan umurnya dimulai dari 16 hingga 25 tahun. Para pemenang diharapkan menjadi teladan bagi remaja yang segenerasi dengannya. Mereka juga menjadi ujung tombak dinas Pariwisata dalam mempromosikan Pariwisata baik secara Nasional maupun Internasional. Para duta wisata seluruh Indonesia ini juga membuat oraganisasi yaitu Asosiasi Duta Wisata Indonesia (ADWINDO). Setipa tahun mereka rutin mengadakan konferensi yang menjadi agenda nasional.

Pemilihan duta wisata ini terdiri dari putra dan putri. Uniknya lagi, setiap daerah mempunyai nama duta wisata masing-masing sesuai dengan daerah masing-masing. Berikut adalah nama-nama pemilihan duta di seluruh Indonesia.

Jaka dan Dara (Sumatera Utara)- Uda dan Uni (Sumatera Barat)- Putra dan Putri Sriwijaya (Sumatra Selatan)- Bujang dan Dara Belitong (Bangka Belitung)- Bujang dan Gadis Bengkulu (Bengkulu)- Kang dan Nong (Banten)- Abang dan None (DKI Jakarta)- Mojang dan Jajaka (Jawa Barat)- Mas dan Mbak (Jawa Tengah)- Dimas dan Diajeng (DI Yogyakarta)- Cak dan Ning (Jawa Timur)- Bagus dan Jegeg (Bali)- Putra dan Putri Wisata NTB (Nusa Tenggara Barat).

Duta Baca

Tamara Bleziisky ditunjuk oleh Perpustakaan Nasional RI Sebagai Duta Baca 2005. Terpilihnya Tamara dikarenakan ia sering melakukan kampanye gemar menbaca ke daerah-daerah. Tapi, Perpustakaan Nasional lebih memfokuskan Tamara kepada puisi.

Di tahun 2006, kembali juga ditunjuk duta baca lagi. Kali ini Tantowi Yahya yang mendapat kepercayaan tersebut. Peran aktivnya mengkampanyekan pentingnya membaca membuat Perpustakaan Nasional menunjuknya menjadi duta baca. Selain itu, pertimbangan lainnya adalah sosok Tantowi adalah oranng yang sukses karena membaca.

Sementara itu, Menteri Pendidikan Nasional, Bambang Sudibiyo menunjuk Happy Salma sebagai Duta Baca Nasional tahun 2008. Terpilihnya Happy Salma karena ia mempunyai status sebagai artis yang sekaligus penulis yang juga gemar membaca, hal tersebut juga bisa diharapkan bisa mengajak masyarakat untuk gemar membaca.

Selain itu, Perpustakaan Nasional bekerja sama dengan GEMARI (Gerakan Masyarakat Mandiri) juga berhasil memilih duta baca anak dan remaja 2009. Mereka yang dinobatkan adalah Aziza Nadia Razanti (DKI Jakarta) sebagai Duta Baca Anak Indonesia Pratama, Arifia Sekar Seroja (Jawa Barat) sebagai Duta Baca Anak Indonesia Dwitama, Rizal Rahmanda Akbar ( Kalimantan Timur ) sebagai Duta Baca Remaja Indonesia Utama, Aldi Nurian Aryandhita (Jawa Tengah) sebagai Duta Baca Remaja Indonesia Pratama, dan Ana Taria Okawati Rambe (Sulawesi Tenggara) sebagai Duta Baca Remaja Indonesia Dwitama.

(Berbagai Sumber)

Menjadi Duta Tak Hanya Peduli Mei 26, 2009

Posted by frestialdi in Telah Terbit.
1 comment so far

MENJADI DUTA TAK HANYA PEDULI

(Laporan: Risha Ramadhani Putri/ SMA Adabiah, Haibati Arizona/ SMAN 1 Padang, Desyana Putri, SMAN 16 Padang, Fefri Zahilatul/ SMAN 10 Padang, Rahayu Susanti, SMAN 14 Padang)

Belakangan, banyak muncul berbagai pemilihan duta. Pemilihan ini muncul dengan alasan untuk menyaring generasi muda, mulai dari mahasiswa pelajar serta artis sekaligus. Tujuannya tak lain adalah untuk ikut mengkampanyekan berbagai hal, yang mereka sandang dari duta mereka.

Pemilihan ini juga telah menjalar ke sekolah-sekolah. Diantaranya banyak sekolah-sekolah yang mengadakan pemilihan-pemilihan serupa dengan berbagai tema dan nama yang berbeda. Mulai dari duta pelajar, duta sekolah, atau juga mungkin pemilihan king dan queen di kelas.

Sebahagian pihak, menyambut baik kegiatan ini. Alasnnya tentu saja memberikan dampak positif terhadap generasi muda, atau mungkin pelajar untuk dapat memaksimalkan kemampuan serta peran mereka untuk mengajak rekan-rekannya semata untuk peduli dengan sesuatu hal dan menjadi contoh bagi sesama generasi muda.

Sebahagian lagi menilai kegiatan ini tidak ada gunanya, hanya semata show off atau sekedar pamer-pamer saja. Menurut sebahagian ini pemilihan-pemilihan seperti ini hanya buang-buang waktu saja. Apakah benar demikian? Bagaimana pandangan teman-teman pelajar kita? Ayo kita cari tahu.

Nah, berbicara duta-dutaan seperti ini, apa saja yang diketahui teman-teman kita ini. Lebih tepatnya, menurut teman-teman kita ini, duta itu seperti apa?

Meranthi Shorea Firdausya, pelajar SMAN 1 Padang ini berpendapat kalau seorang duta itu adalah seseorang yang tanpa pamrih berusaha untuk mengkampanyekan atau mengajak orang lain atas yang didutakan kepadanya.

Sedangkan Ruri, dari SMA Adabiah melihat kalau seorang duta itu adalah seorang yang ditunjuk untuk mewakili sesuatu. Pendapat ini sama persis dengan yang diucapkan oleh Sandra dari SMAN 7 Padang.

Dari SMAN 16, Elza Putri Rizal juga ikut berpartisipasi mengeluarkan pendapatnya. Menuruutnya seorang duta adalah seseorang yang dipilih untuk menjalani tugas-tugas tertentu yang berhubungan dengan sesuatu dan mengajak masyarakat untuk berbuat yang perlu untuk dirinya dan bumi kita.

Masih dari SMAN 16 Padang, Ningsih Putri Hardiansyah menilai kalau seorang duta untuk akan menjalankan sesuatu yang berguna bagi masyarakat. Suri Emilia dari SMAN 1 Padang melihat kalau duta itu adalah perwakilan dari sebuah program.

Mungkin tak asing lagi, berbagai banyak pemilihan atau duta yang ada. Duta-duta apa saja yang diketahui teman-teman kita ini?

“Duta sekolah,” sebut Arijal Mustakim, pelajar SMAN 14 Padang

“Duta, Duta HIV Aids, Duta lingkunga,” tambah Ningsih

“Duta Anti Global Warming,” jawab Elza menimpali.

“Duta Anti Narkoba juga ada,” celetuk David Sudasri, dari SMAN 14 Padang.

“Duta Lingkungan sehat,” Amanda Yasmin ikut berkomentar.

“Duta anti korupsi, duta tinju, duta pariwisata, duta anak,” ucap Amelina.

“Duta buah-buahan, duta tumbuh-tumbuhan, duta fauna, duta rokok, duta susu dan banyak lagi,” Ucap Meranthi. Memang ada yah? Ada-ada saja.

Tapi, dengan banyaknya duta, tidak semua orang juga mendapat kesempatan untuk menjadi duta. Hanya orang-orang tertentu saja yang bisa menjadi duta, maksudnya yang mempunyai kriteria-kriteria tertentu saja. Kira-kira kriteria tersebut apa-apa saja yah?

Sandra mengusulkan, untuk menjadi duta adalah orang yangnya harus cerdas dan luwes. Suri menambahkan, disamping cerdas, seorang duta juga harus mengerti dengan orang-orang sekitar dan bisa mengaspirasikan pendapatnya.

Amelina Dwita Hardi, dari SMAN 1 Padang menilai seorang duta itu harus memiliki wawasan yang luas yang sesuai dengan dutanya, pandai berbicara dan aktif.. Hmm, boleh juga tuh. Arijal menambahkan, seorang duta juga harus bersahabat dengan orang dis ekitarnya, serta pintar dalam berinteraksi.

Meranthi juga memberikan satu tambahan lain selain yang disulkan oleh teman-temannya ini. Ia menilai seorang yang akan menjadi duta itu juga harus memiliki daya tarik untuk mensosialisasikan programnya keluar. “Selain itu juga harus bisa memberikan motivasi,” lanjut Elza.

“Yang penting bisa jadi teladan yang baik,” ucap Rina Wahyuni dari SMAN 16 Padang

Mungkin banyak sekali kriteria atau sifat yang dimiliki oleh seseorang yang akan menjadi duta. Tentu saja dengan banyaknya sifat yang dimliki ia mampu menjalankan tugasnya dengan baik. Tapi seperti apa saja tugas para duta ini, apa hanya sekedar mengkampanyekan sesuatu saja?

“Tidak,” jawab Amelina. Menurutnya tugas para duta itu juga memberikan penyuluhan dan pembinaan kepada orang-orang disekitarnya. “Kalau duta lingkungan tugasnya melidungi lingkungan disekitar kita, kalau duta pariwisata tugasnya memperkenalkan daerah pariwisata, dan kalau duta daerah tugasnya memperkenalkan daerah-daerah terisolir,” terang Ruri sambil senyum-senyum.

“Mencontohkan pada masyarakat tentang bidang yang disandangnya,” jawab David.

Lantas, apakah pemilihan duta-duta seperti ini bermanfaat dimata para pelajar? Apa saja Manfaatnya?”

Menurut Arijal tugas seorang duta itu mengajak seseorang menuju kebaikan. Sedangkan David melihat kalau seorang duta itu adalah tempat bertanya bagi orang lain, dengan bekal ilmu yang dimilikinya. sedangkan menurut Meranthi, pemilihan ini akan menambahkan wawasan. Amanda Yasmin melihat para duta itu akan memberikan informasi kepada kita.

Tapi Suri, pelajar yang suka browsing ini menilai kalau pemilihan-pemilihan seperti itu tidak terlalu berpengaruh dan kurang bermanfaat. Menurutnya, mungkin bagi sebahagian orang kinerjanya sudah bagus, tapi menurutnya bagi sebahagian oranng lagi tidak kinerjanya kurang bagus.

Hal yang sama dilontarkan Meranthi, kendati pun ia menilai pemilihan semacam ini bermanfaat, tapi ia melihat kalau kinerja para duta ini kurang bagus karena belum terlihat program yang dijalankannya. Pendapat ini dianggukkan Ruri dan Elza, sedangkan David malah berkemontar. “Lumayan.”. Sedangkan menurut Sandra, Ningsih, dan Amelina kinerja para duta ini sudah bagus. “Apalagi pemerintah giat memilih berbagai duta,” tambahnya

Jika menjadi duta

Dengan pengetahuan yang dimiliki, setiap orang buisa saja menjadi duta. aSal cakap dalam segi apappun dan bisa mensosialisasikan dirinya, bukan sekedar unjuk tampang saja. Banyak pilihan yang akan disosilisasikan, tergantung dengan bidang yang akan digelutinya dan disukainya. Jika teman-teman kita ini diberi kesempatan untuk menjadi duta, duata apa yang mereka pillih, alasannya dan apa yang akan mereka perbuat dengan menjadi duta.

Amelina akan memilih menjadi duta anti narkoba dan HIV AIDS, menurutnya hal tersebut merupakan hal yang penting dan urgent. Lantas Amelina akan melakukan sosialisi cara penuluran dan akibat dari penggunaan tersebut. Sama halnya dengan Amelina Elza juga ingin menjadi duta HIV Aids. “Supaya orang lebih waspada lagi,” tuturnya. Sedangkan alasan David menjadi duta anti Narkoba supaya bisa membantu orang dan juga mendapat pahala, heheh.

Meranthi memilih menyelamatkan bumi dari pemanasan global karena pemanasan global dampaknnya sangat nyata. Selain itu ia akan menyampaikan tujuan dari adanya duta tersebut, selain itu tentunya Meranthi juga akan mensosilisasikan dan mengaplikasikannya sesuai dengan program yang telah ada. Ini juga yang ingin dilakukan oleh Arijal, menurutnya banyak yang harus diatasi lagi terutama masalah asap kendaraan dan asap pabrik.

Ruri akan memperkenalkan daerah indonesia yang sangat indah ini kepada orang-orang karena ia ingin menjadi duta daerah. “Agar kita tahu bahwa daerah kita sangat bagus,” sebut nya. Sedangkan Sandra ingin menjadi duta negara, “seperti diplomat gitu”.

Rina Wahyunni, ingin suatu saat indonesia maju. Ia ingin menjadi duta Indonesia dan memajukan indonesia dalam hal apapun. Ningsih mungkin akan menjadi duta lingkkungan hidup. Menurutnya duta lingkungan hidup ini sangat erat hubungannya dengan kehidupan manusia.

Sesuai dengan cita-citanya, Suri ingin peduli terhadap kesehatan, walaupun tidak menjadi duta Suri tetap akan berusaha peduli dengan kesehatan. Mungkin tepatnya menjadi dokter kali yah?

Benar sekali, menjadi duta atau tidak kita harus tetap peduli dengan sekitar. Jangan hanya saat menjadi duta saja kita baru akan melakakukan sesuatu yang bermanfaat. Tapi tentunya setelah atau sebelum atau bahkan tidak menjadi menjadi duta kita bisa peduli dengan lingkungan, peduli dengan penderita HIV aids, melakukan berbagai upaya untuk menyelamatkan bumi dari pemanasan global mengenalkan keindahan Indonesia kepada dunia. Selain itu, untuk mereka yang terpilih menjadi duta, tetap melakukan hal-hal yang bermanfaat bagi banyak orang. Yang terpenting menjadi duta tak hanya peduli, tapi juga bisa mengaplikasikannya dan melakukan hal-hal yang berguna. (Fresti Aldi)