Menyeberanglah di Jembatan Penyeberangan Desember 12, 2008
Posted by frestialdi in Telah Terbit.add a comment
Jembatan penyeberangan kurang termanfaatkan di kota Padang. Padahal, itu baik, selain zebra cross, sebagai tempat menyeberang aman.
Saya mencoba mencari tahu berapa banyak jumlah jembatan penyeberangan di kota Padang. Setelah tanya sana-sini, mengingat tempat-tempat yang pernah saya kunjungi di dalam kota Padang ini, ternyata ada tiga. Pertama di Blok A, kedua dekat Plasa Andalas dan yang ketiga di Minang Plasa.
Setelah saya mencoba secara serius mengamati, sejauh mana orang memanfaatkan jembatan penyeberangan, akhirnya saya mendapatkan jawaban: Masyarakat belum memanfaatkan jembatan penyeberangan yang sengaja disediakan untuk mereka, demi keselamatan dan kenyamanan mereka menyeberang. Jembatan itu sepi.
Padahal sesuai pengamatan saya beberapa hari lalu, jembatan itu masih dalam kondisi yang baik, tidak ada yang rusak. Di depan Plasa Andalas misalnya, jembatan itu dibuat setelah Plasa itu diresmikan. Tapi belum terlalu banyak orang yang menginjakkan kakinya di sana.
Satu hal yang terlihat di sana mungkin adalah kondisinya yang tidak terawat dan banyak sampah yang bertebaran, terumata debu-debu. Di tangga dekat Plasa Andalas itu, orang berjualan. Kalaupun ada yang menyentuh bagian atas jembatan itu hanya dihuni oleh para pengemis yang mungkin memanfaatkan jembatan tersebut untuk tempat peristirahatannya.
Saya masih ingat, ketika saya sekolah dulu. Waktu itu, saya masih takut menyeberang di jalan raya. Apalagi di Minang Plasa. Selain lokasi penyeberangan di jalan. Kalau tidak salah di depan Minang plasa itu masih dipagar. Jalan satu-satunya menyeberang memang di jembatan penyeberangan. Lumayan banyak orang yang menyeberang di jembatan itu.
Tapi sekarang, sejak pagar di depan Minang itu dijebol dan dibuat semacam Mini Zebra Cross hampir tidak ada lagi orang yang memanfaatkan jembatan penyeberangan. Jika lewat di sana saya hanya melihat jembatan itu kosong. Kadang memang kalau turun di sana saya ingin menyeberang di jembatan penyeberangan itu. Tapi malu juga kalau sendiri-sendiri jalan di jembatan penyeberangan yang kosong itu. Mungkin itu juga yang dirasakan sebahagian orang sehingga tak ada lagi yang mau memanfaatkan jembatan penyeberangan itu.
Yang ditakutkan jika masih memanfaatkan zebra cross buatan tadi akan menimbulkan kecelakaan. Bayangkan pengendara mobil tidak akan mengurangi kecepatannya di sana karena bukan tempat penyeberangan. Malahan kalau menyeberang di sana yang dirasakan rasa takut karena mendadak saja kendaraan akan melintas dengan kecepatan tinggi.
Di depan Plasa Andalas lain lagi yang terjadi. Kendati pun ada jembatan penyeberangan, orang-orang lebih senang melangkahi taman atau area di bawah jembatan penyeberangan itu. Kalau pun tak mau melangkahkan taman mereka juga rela berjalan beberapa meter untuk mencari tempat yang kosong untuk menyeberang ketimbang menelusuri tangga demi tangga yang ada di jembatan penyeberangan, Padahal kalau mau menyeberang dari seberang plasa bisa memakai jembatan penyeberangan bisa langsung sampai di sekitar Plasa Andalas.
Kalau di dipasar raya atau dekat Blok A mungkin jembatan penyeberangannya tidak digunakan karena jalanan disekitar sana memang tidak terlalu berbahaya. Artinya disana kan pasar, jadi tidak mungkin kalau kendaraan melaju dengan kondisi yang tidak lambat. Orang menyeberang dengan rasa aman.
Kalau boleh berpendapat, bagaimana kalau di sekitar daerah yang ramai atau daerah yang sering terjadi kecelakaan pejalan kaki dibangun jembatan penyeberangan. Alasannya tentu saja demi keamanan dan keselamatan. Sekarang jumlah kendaraan tidak sedikit. Kalau ada nenek-nenek, kakek-kakek atau orang tua jadi tidak kerepotan menyeberang. Apalagi kalau pelajar terutama pelajar SD.
Setidaknya pihak yang terkait atau yang bertangung jawab terhadap itu bisa mengkampanyekan menyeberanglah di jembatan penyeberangan. Yang paling penting juga adalah bagaimana membiasakan diri kita untuk menyeberang di jembatan penyeberangan dan tanamkan juga rasa takut kalau menyeberang di bawah jembatan penyeberangan akan terjadi kecelakaan.
Fresti Aldi
(Tulisan ini pernah terbit di Padang Ekspree Minggu halaman Citizien Joernalism)
PDIKM, Merasakan Indahnya Minangkabau Desember 10, 2008
Posted by frestialdi in Artikel untuk mereka.Tags: PDIKM
add a comment
Tak lengkap kiranya kalau berkunjung ke Padangpanjang tanpa mengunjungi tempat yang satu ini. Pusat Dokumentasi dan Informasi Kebudayaan Minangkabau (PDIKM) atau yang lebih dikenal dengan nama Minangkabau Village (Perkampungan Minangkabau)
Sejuk, asri, indah dan nyaman itulah yang tergambar dari lokasi PDIKM ini. Pemandangan yang indah ditambah dengan paduan bangunan Rumah Gadang khas Minangkabau, ditambah lagi dengan berdirinya empat buah Rangkiang yang tersususun rapi di depannya menjadikan tempat ini betul-betul menarik dan begitu bersejarah. Sejarahnya, tempat ini sudah berdiri sejak delapanbelas tahun yang lalu. Tempat ini baru diresmikan tanggal 17 Desember 1990. Sedangkan peletakkan batu pertamanya oleh Bapak Hasan Basri (Gubernur kala itu) pada tangal 8-8-88. Sebuah angka yang menarik untuk diingat.
Menurut, Bapak Ir Joesoef B, atau yang akrab disapa dengan Pak U, pendirian ini bertujuan untuk mengenalkan kepada masyarakat khususnya generasi muda tentang sejarah, cerita dan tentang Minangkabau itu sendiri. Aslinya, kebudayaan Minangkabau itu hanya berasal dari cerita, tak ada sejarah tertulis dari Minangkabau, makanya didirikan tempat ini untuk mewujudkan cita-cita itu.
Ide pendirian ini sebetulnya digagas oleh kakek Pak U yaitu Abdul Hamid. Sementara pendanaanya berasal dari H Bustanul Arifin, Mamak (paman) dari Pak U. Cerita Pak U, tanah ini merupakan tanah kaum dan tak boleh dijual, bahkan kepada pemerintah sekalipun. Namun, demi melstarikan budaya, agar anak cucu jadi tahu asal-usulnya, hal itu terpaksa dilanggar. Untuk mengungkapkan rasa terima kasih, pemerintah pun mendirikan Balairuang di daerah Pasar Usang, Padangpanjang.
Berjalan-jalan di dalam rumah Gadang ini sangatlah mengasyikkan. Pengetahuan kita seputar Minangkabau akan bertambah dengan adanya dokumentasi foto seputar Minangkabau. Apalagi ditambah dengan kehadiran beberapa orang pemandu yang setiap saat selalu melayani kita tentang pertannyaan seputar Minangkabau.
Selain foto-foto seputar Minangkabau ditempat ini juga terdapat sebuah ruangan pustaka. Di dalamnya jelas tersusun rapi ratusan buku dan sejarah tertulis lainnya tentang Minangkabau. Kita juga dapat mencari informasinya di sini, tinggal lihat katalog, maka apa yang kita inginkan bisa didapat
Pengumpulan barang-barang dokumentasi tersebut diakui Pak U, susah-susah gampang. Ada sebahagian masyarakat yang dengan senang hati menyerahkannya. Tapi ada juga yang enggan. Bahkan ada yang didapat di negara lain seperti Belanda.
Rumah Gadang di PDIKM ini tergolong dalam rumah gadang jenis Gajah Maharam dengan sembilan ruang, tiga lanjar dan dua buah anjuang disudut kanan dan kiri Rumah Gadang. Kalau melihat sejarah, rumah ini termasuk dalam kelarasan Koto Piliang yang dipimpin oleh Datuak Katumangguangan.
Yang menarik lainnya dari tempat ini adalah sebuah ruang di kolong. Di Rumah Gadang mana saja tak pernah kita temukan ruangan di bawah rumah gadang ini. Biasanya, masyarakat menggunakan kolong tersebut sebagai tempat berternak atau gudang. Tapi pada rumah gadang ini, ruangan di bawah ini dijadikan pelaminan. Jika ada orang yang mau merayakan pesta perkawinan disini bisa memakai tempat ini. Kebanyakkan orang yang sering mengguanakan jasa pelaminan ini adalah orang luar Minangkabau seperti Malaysia.
Di ruangan ini kita juga bisa mencoba berfoto di pelaminan yang didesain sendiri oleh Pak U. Bukan hanya sekedar berfoto saja, kita juga bisa menyewa pakaian adat Minangkabau ditempat ini. Benar-benar terasa nuansa Miangkabaunya. Selain itu juga, di rangan ini kerap pula diadakan pertemuan-pertemuan penting..
Di bagian luar, terhampar taman yang luas dengan aneka jenis bunga. Bunga-bunga yang indah yang tumbuh subur. Bisa dibilang tak ada tanah yang kosong tanpa tanaman dan bunga-bunga. “Dulu, sekitar 300 jenis bunga hidup disini. Macam-macam bunganya. Ada pula yang langsung didapat dari Belanda,” ujarnya. Tapi, walaupun jumlah bunga di sini tak sebanyak yang dulu, kawasan taman ini masih terasa indah.
Dengan keindahan ini makanya tak salah kalau tempat ini menjadi prioritas utama kunjungan wisata. Sudah banyak yang pernah berkunjung kesini. Terhitung, tidak hanya anak sekolah saja. Ada yang luar Minangkabau seperti Malaysia. Bu Megawati juga Pernah berkunjung kesini. Bahkan Ratu Belanda, Ratu Beatrix, juga sudah pernah merasakan indahnya nuansa Minangkabau di tempat ini. Makanya, jangan sampai melupakan budaya Minangkabau yang begitu indah ini.
(Fresti Aldi)
Cerdas Dengan Wisata Budaya Desember 9, 2008
Posted by frestialdi in Artikel untuk mereka.add a comment

Rombongan Padang Field Trip tiba di PDIKM
reporter P’Mails ketika mendapat undangan Sumatra and Beyond (biro jasa perjalanan) menjadi tamu Padang Field Trip. Sebuah perjalanan yang khusus untuk menambah wawasan budaya para turis. Apalagi, yang jadi turis kali ini adalah pelajar SMP Pelita Harapan Lippo Karawachi. Rangkuman perjalanannya bisa dinikmati pada halaman ini.
Rabu pagi (04/12) beberapa reporter P’Mails sudah berkumpul di Padang Ekspres. Di antaranya Amel, Deli, Fresti dan Parlen. Pukul tujuh Bang On Sudah datang menjemput bersama Bang Yono. Setelah dari Padang Ekspres, kemudian bertolak ke rumah Om KW. Sementara Desi dan Fiska menunggu di By Pass.
Sekitar pukul sepuluh rombongan P’Mails sudah sampai di PDIKM. Kedatangan tersebut hanya berselisih berapa menit dengan kedatangan rombongan pelajar dari SMP Pelita Harapan tersebut.
Sekitar setengah jam semua rombongan pelajar dari SMP Pelita Harapan dan Rombongan P’Mails diberikan waktu untuk melihat-lihat benda-benda sejarah di sekitar PDIKM. Selain melihat-lihat benda budaya tersebut. Rombongan itu juga dipersilahkan mencari tahu dengan pemandu yang ada di sana. Tanpa terkecuali reporter P’Mails.
Puas melihat-lihat dan bertanya seputar Minangkabau para siswa SMP Pelita Harapan tersebut akhirnya dikumpulkan guna mengikuti pembahasan tentang sosok A.A Navis bersama Yusrizal KW (Om KW).
Saat sesi pembahasan tersebut Om KW menceritakan pengalaman pribadinya bersama A.A Navis ketika Pemimpin Redaksi P’Mails itu memenangkan sebuah lomba penulisan di Jakarta tahuan 2002. “Saya sangat dekat dengan beliau tiga bulan sebelum kematiannya. Hampir tiap hari, beliau menelpon saya. Saat itu, saya merasa sekolah. Banyak sekali yang di dapat dari Pak Navis,” cerita Om KW.
Selain itu, ia juga membicarakan mengenai karya-karya, cara berbahasa, sikap hidup, dan pandangannya terhadap Islam dan Minangkabau. “Pak Navis itu ekstrim sekali. Kalau baca cerpen Manrabbuka, kita dibuatnya senam jantung. bagaimana tidak, ada orang yang baik, tertendang kaki kiri Malaikat, malah akhirnya masuk neraka,” terang Om KW sambil senyum.
dari sisi bahasa banyak juga yang unik dari Alm. Navis. “Ia berani menggunakan bahassa daerah. Alasannya, biar mereka juga kenal dengan bahasa Minangkabau. Contohnya, ada kata diguguh, bertura-tura. Sekarang saja, jarang orang memakai kata itu,” tuturnya.
Semua pelajar antuasias mendengar paparan Om KW. Saat membuka sesi tanya jawab, Om KW dikejutkan dengan banyaknya pelajar yang melontarkan pertanyaan seputar A.A Navis seperti bagaimana A.A Navis mencari idenya dalam membuat karyanya, apa reaksi A.A Navis setelah tahu cerpennya disukai masyarakat, apa sifat yang paling tidak disenangi A.A Navis. Ada juga yang bertanya tentang alasan A.A Navis membahas masalah cina buta yang sekaligus menjadi salah satu judul cerpennya.
Om KW sangat memuji pertanyaan pelajar-pelajar itu. Menurutnya pertanyaan tersebut menarik dan memikat. Om KW jadi takut sendiri. Banyak pertanyaan yang mengarahkannya bicara “seolah-olah” menjadi Pak Navis. “Tapi saya akan jawab berdasarkan bacaan saya terhadap buku Navis, ya,” katanya.
Pertanyaan-pertanyaan menarik itu muncul tak lepas dari kekukuhan Sekolah Pelita Harapan mengajarkan sastra dari dini. Untuk anak kelas tiga SMP, Antologi Lengkap Cerpen A.A. Navis (yang tebalnya 786 halaman) menjadi bacaan wajib. Setiap murid wajib memilikinya. Bahkan, kelulusan mereka ditentukan oleh makalah tentang A.A. Navis. Makanya, pertanyaan-pertanyaan itu bertujuan untuk mendapat jawaban seddalam mungkin sehingga mereka bisa lebih kenal dengan pengarang yang terkenal dengan cerpen “Robohnya Surau Kami” itu.
Reporter P’Mails yang menyaksikan diskusi itu geleng-geleng kepala. “Kenapa kita tidak ada, ya, belajar sastra kayak gini,” celetuk Fiska. Amel menganggukkan kepala sambil menanyakan harga buku. “Ah, tak habislah duit empat juta, tu,” seloroh Bang On.
Pukul dua belas sesi tersebut ditutup sekalian dengan penyerahan kenang-kenangan dan sertifikat dari SMP Pelita Harapan. Sebagai balasan, Fresti juga menyerahkan beberapa eksemplar tabloid P’Mails sebagai bentuk ucapan terima kasih mengikutkan tabloid pelajar Sumbar sebagai tamu dalam perjalanan ini.
Selesai dari PDIKM, rombongan lalu melanjutkan perjalanan ke Rumah Makan Pak Datuak untuk makan siang. Di sana reporter P’Mails diberi sedikit wejangan mengenai cara berbisnis selagi muda oleh Om Ridwan Tulus dari Sumatera and Beyond.Om Ridwan menceritakan tentang pengalamannya merintis usaha pariwisata. Maklum, Sumatera and Beyond Om Ridwan ditunjuk SMP Pelita Harapan tersebut untuk mengatur perjalanannya.
Om Ridwan banyak memberikan motivasi kepada reporter P’Mails. Rencana selanjutnya, Om Ridwan akan mengadakan pertemuan dengan reporter P’Mails untuk sekedar tukar pikiran dan memberikan motivasi tentang cara mudah berbisnis tanpa modal. Om Ridwan juga menjelaskan kalau zaman sekarang, banyak celah untuk berbisnis, jadi tak perlu ragu untuk berbisnis. “Yang penting jadilah merah diantara putih atau putih di antara merah,” terang Om Ridwan.
Om Ridwan juga membuka tawaran kerja sama bagi siapa saja yang mau berbisnis. Syaratnya cukup gampang. “Yang penting rajin dan bisa berbahasa inggris, lalu juga bisa menguasai teknologi informasi. Sekarang sudah tersedia banyak blog gratis, manfaatkanlah untuk berpromosi,” jelas Om Ridwan.
Di rumah makan Pak Datuak, rombongan SMP Pelita Harapan dan P’Mails akhirnya berpisah. Amel menjadi orang yang paling menyanyangkan perpisahan itu. Soalnya Amel sudah begitu dekat dengan beberapa orang dari rombongan tersebut termasuk dengan guru SMP Pelita Harapan, Miss Sofia . “Kirimkan lagi kami tabloidnya, ya,” ujar Miss Sofia di akhir perpisahan.
Dari Rumah Makan Pak Datuak, Rombongan P’Mails kembali lagi ke PDIKM untuk menyesaikan tugasnya, mewawancara pemimpin PDIKM, Pak Ir Joesoef B. Para reporter langsung menodong bapak pimpinan PDIKM tersebut.
Puas bertanya-tanya, sekitar pukul tiga sore rombongan P’mails kembali menuju Padang dengan semangat baru dan ilmu baru tentunya.
(Fresti Aldi)
Melly Goeslaw Desember 4, 2008
Posted by frestialdi in Telah Terbit.1 comment so far
Sukses lewat Sondtrack Ada Apa dengan Cinta membuat nama Melly Goeslaw semakin dikenal dalam dunia musik Indonesia. Tidak hanya lagunya yang disukai orang-orang, tapi juga lirik-liriknya.
Dari kelas SD Melly sudah mulai bernyanyi, namun mulai fokus ketika menduduki bangku SMA. Sedangkan mengenai hobinya membuat cerpen dan puisi diakuinya sejak kelas 2 SMP. Berbekal dari kesukaannya merangkai kata demi kata itulah yang membuat wanita yang mempunyai nama lengkap Mellyana ini dikenal dengan pencipta lirik lagu yang handal.
Kesuksesannya menciptakan lirik lagu dimulai ketika ia menciptakan lagu menghitung hari yang dipopulerkan Krisdayanti. Sehingga berlanjut pada lagu hati yang terpilih, Rossa.
Orang-orang mulai menyukai melly dengan liriknya yang rata-rata bertemakan cinta itu namun sederhana. Bagi Melly tema cinta diambil karena cinta adalah hal yang menarik untuk dibicarakan.
Soundtrak yang pernah diisi melly antara lain Ada Apa Dengan Cinta (2002), Eiffel Im In Love (2003), Apa Artinya Cinta (2005)
Melly juga meliris albumnya yaitu Intuisi (2004) Mindsoul (2007). Di tahun 2008 ini Melly mulai lagi aktif bersama grup bandnya Potret untuk mengisi soundtarck film Chika.
Selain lirik lagunya yang dalam dan puitis orang sangat mudah mengenal Melly Goslaw dengan dandanan di pangung yang menor dan unik. Namun, itulah yang menjadi ciri khas seorang Melly Goeslaw.
Baca, baca dan Baca Desember 4, 2008
Posted by frestialdi in Artikel untuk mereka.add a comment
Sering aneh juga lihat tingkah laku orang yang aneh-aneh saja. Misalnya saja ketika membaca buku. Kebanyakkan dari kita hanya membolak-balik halaman. Entah apa yang dicari dari halaman tersebut.
Bila membaca buku kebanyakkan dari kita hanya suka melihat gambarnya saja. Tanpa pernah membacanya terlebih dahulu. Jika gambarnya bagus, berarti bacaannya juga bagus. Itu prinsip orang-orang yang pernah saya tanya dan dianut sebahagian orang.
Sedangkaan saat membaca majalah, koran atau apa lah, kebanyaakan dari kita hanya melihat gambarnya saja tanpa pernah melihat isinya. Ada juga yang bilang cuci mata. Jadi Cuma lihat. Apa salahnya sedikit mencari tahu informasi. Tak ada salahnya bukan?
Kebannyakan dari kita memang malas untuk membaca. Kita lebih cenderung menjalankan imajinasi dengan hanya melihat gambar. Tak ada salahnya sekali-kali luangkan waktu satu jam saja untuk membaca. Ya semoga saja. Dari pada hanya melihat gambar saja.
SMS-SMS Aneh yang Sulit dimeengerti Desember 2, 2008
Posted by frestialdi in Artikel untuk mereka.1 comment so far
Tata cara ber SMS juga ada. Bukan hanya dalam kehidupan. Belakangan ini sering risih lihat jenis sms yang masuk. Kadang wajar, sms yang masuk berbagai gaya dan bahasa. Gaya pengetikkan yang biasa sampai dengan yang luar biasa.
Kadang, mikir-mikir sendiri juga lihat sms yang masuk. Apalagi kalau singkatannya sudah super sekali. Jangankan buat balas sms, buat mengartikan sms pun butuh sekian menit. Apalagi yang sms orang yang super bawel, telat dikit bales smsnya, miskol demi miskol datang.
Kadang-kadang yang sms juga tak tahu etika. Masa sms dengan orang tua atau orang yang bukan muda lagi pakai singkatan. Akhirnya orang-orang tua sudah pusing lihat font sms yang besar kecil atau gaya-gaya tulisan yang memang susah dicerna.
Sekedar informasi saja, bagi kamu yang suka sms cobalah memahami bagaimana karakter si pengguna. Kalau si penrima sms agak kurang mengerti dengan gaya-gaya tulisan atau singkatan, jangan memakai gaya tulisan. Apalagi kalau yang menerima orang tua, wah bisa kacau.
Tak jarang juga ditemui. Malahan ketika anak-anak sekolah atau anak remaja mengirimkan pesan singkat k media massa. Brbagai keterampilan menyingkat kata pun dikeluarkannya. Padahal untuk mengomentari suatu media massa jangan memakai singkatan. Jadi harus tahu inti etika ber-sms.
Yang penting kenali karakter penerima sms. Kalau yang menerima sms suka dengan gaya dan tulisan yang aneh, hajar saja. Tapi kalau penerima tidak paham dengan berbagai singkatan jangan pernah memakai gaya tulisan yang aneh, walaupun Cuma satu kata.
Nonton Bareng Laskar Pelangi Desember 2, 2008
Posted by frestialdi in Dirikuh.2 comments
Nonton Bareng Laskar Pelangi
Film Laskar Pelangi memang ramai diperbicangkan di mana-mana, termasuk di redaksi P’mails. Sudah jauh-jauh hari teman-teman reporter ini sepakat untuk nonton bareng, sebelum film ini rilis. Tak sedikit yang buka telinga lebar-lebar, rajin-rajin datang ke redaksi, ataupun menunggu telepon. Niatnya sama, supaya tak ditinggal nonton bareng lagi, gratis pula. Cukup ketika nonton Nagabonar Jadi 2 saja mereka gondok tak diajak.
“Semuanya ikut,” ucap Bang On dan Om KW, membuat lega setiap reporter.
Nonton bareng ini merupakan hadiah keberhasilan teman-teman reporter dalam mengadakan Lomba Debat Antar Pelajar SMA Se-Sumatera Barat yang diadakan pada 4th Padang Book Fair, 2 November lalu.
Awalnya, acara nonton bareng ini direncanakan pada tanggal 9 November 2008. Tapi, banyak yang tak berkesempatan untuk ikut. Begitu pula ketika diusulkan tanggan 16 November 2008. Banyak yang pasang muka sedih, lagi-lagi tak bisa ikut. Akhirnya, diputuskan tanggal 22 November, P’Mails nonton bareng Laskar Pelangi. Semua tersenyum lebar, kecuali beberapa teman reporter seperti Danil dan Deli. Danil terpaksa melewatkan kebersamaan ini karena harus kuliah, sedangkan Deli baru selesai les pada pukul 15:00 WIB. Padahal, jam segitu film sudah dimulai.
Pendaftaran bagi yang ikut sudah dibuka beberapa hari sebelum tanggal 22 November 2008. Hingga Jumat (21/11), sudah dua puluh reporter yang mendaftarkan namanya. Tak ketinggalan Kak Rina, sekretaris redaksi.
Sabtu (22/11) siang itu, Dedet, Dodi, Nilna, dan Opie sudah hadir di redaksi, lebih awal dari teman-teman yang lain. Semangat sekali, tak sabar ingin melihat aksi sepuluh anak yang tergabung dalam Laskar Pelangi itu. Mendekati pukul 13:00 WIB, tak ada teman-teman reporter yang lain. Dedet tampak gelisah menunggu Fresti, teman seiya-sekata untuk mengantre tiket nonton itu. Bang On sudah bertanya-tanya tentang kepastian berapa orang yang ikut nonton, biar bisa beli karcis secepatnya. Nilna dan Opie segera menghubungi teman-teman lainnya lewat sms. Tak perlu menunggu lama, handphone keduanya didatangi sms bertubi-tubi. Semua minta ditunggu.
Mendekati pukul 15:00 WIB, redaksi ramai, heboh. Semakin banyak yang berdatangan, seperti Shinta, Emil, Dea, Ocha, Borry, Adhe, Tiwi, Cici, Bulan, Amel, Liza, Kak Ria, Bang Eko, Rani, Suci, dan Aci. Dua puluh empat teman reporter itu berangkat ke bioskop Raya Theater sementara Dedet, Fresti, dan Icha sudah membeli karcis untuk teman-teman lainnya. Suasana ruang tunggu bioskop itu pun mendadak ramai ketika puluhan reporter P’mails yang heboh ini tiba. Mengobrol, tertawa, dan berfoto merupakan tiga hal yang tak pernah terlupa jika mereka berkumpul. Di mana ada kamera, di situlah ada mereka dengan canda tawanya. Hal-hal seperti itulah yang membuat teman-teman reporter semakin kompak, merasakan indahnya kebersamaan. Seperti yang diakui Amel, “Sebenarnya, niat nontonnya tak seberapa, tapi kebersamaan dan foto-fotonya itu loh. Bikin rugi kalau nggak ikutan.”
Ketika film Laskar Pelangi dimulai, semua perhatian tertuju pada layar lebar itu. Seperti tersihir dengan indahnya alam Belitong yang disuguhkan film itu. Semua tampak serius mengikuti alur cerita film itu. Sesekali terdengar suara, “Loh, ini kan nggak ada di bukunya”. Sesekali pula, Nilna dan Opie menoleh ke kiri-kanan depan-belakang, melihat-lihat tanda-tanda tangisan di wajah teman-temannya. Maklum, beberapa adegan memang membuat penonton terenyuh, merenung, sedih. Fresti jadi sasaran empuk kali ini. Jika ada adegan sedih, Nilna dan Opie seenak jidat menuduh Fresti menangis padahal entah iya entah tidak ia meneteskan air mata. Membuat Fresti malu saja.
Lain ulah Nilna dan Opie, lain pula ulah Shinta, Dedet, Icha, dan Fresti. Harun sepertinya menjadi tokoh favorit mereka dalam film Laskar Pelangi ini. Penyebabnya, gayanya Harun tak jauh berbeda dengan Emil. Setiap Harun muncul, mereka tertawa, sesekali melirik Emil. Setelah keluar dari bioskop, tak lupa mereka foto bareng dengan ‘Harun’. Emil, seperti biasa, lagaknya cuek saja menanggapi teman-temannya. “Sudah siap jadi selebritis sepertinya, “ celetuk salah seorang teman.
Ketika ditanyai pendapat masing-masing teman reporter ini mengenai film Laskar Pelangi, banyak yang mengusap-usap mata. “Bikin nangis!” ucap Shinta. Nilna senyum-senyum, balas dendam katanya. Kali ini ia tak menangis, cukup ketika nonton Nagabonar Jadi 2 saja ia difitnah menangis. Film ini cukup bagus untuk memotivasi, kata Nilna, meskipun sedikit kecewa karena ada cerita yang ditambah-tambahkan. Kak Ria jelas-jelas mengagumi sosok Lintang. “Kegigihannya, pribadinya, kepintarannya memotivasi kita untuk berjuang, meskipun Lintang tetap tak dapat melanjutkan sekolahnya,” tutur Kak Ria. Fresti menggebu-gebu mengajak semuanya harus nonton film yang satu ini. Ia sampai tak bisa berkata-kata. Tapi, satu kalimat yang diucapkan Fresti, membikin semua spontan memalingkan muka: “Kenapa bukan saya yang ditawarin main film?”
Bicara tentang adegan terfavorit, Shinta dengan semangat angkat bicara. Menurutnya, adegan yang paling ia suka adalah adegan ketika Ibu Muslimah datang ke sekolah setelah lima hari tak mengajar pasca meninggalnya Pak Harfan. Opie lain lagi. Menurutnya, adegan ketika Mahar menyanyikan Bunga Seroja dan teman-teman lainnya jadi penari adalah adegan paling berkesan. Lucu. Nilna, ketika ditanya adegan favorit, ia malah menjawab mengagumi Mahar. “Cakep, sih!” Ia memfavoritkan adegan ketika anak-anak itu duduk melingkar melihat piala kemenangan karnaval. Karnaval juga merupakan bagian yang disukai Fresti. Ditambah adegan ketika Lintang menjawab salah sewaktu mengikuti lomba cerdas cermat dan adegan ketika Ikal mengambil kapur di toko milik ayah A Ling.
Hebohnya nonton Laskar Pelangi ternyata tak habis di bioskop saja. Kehebohan itu masih terasa ketika sampai di redaksi. (Maghriza Novita Syahti)
Bendera Partai di Jalanan Yang semakin Kacau Saja Desember 2, 2008
Posted by frestialdi in Ntalah yowh.1 comment so far
Kalau dilihat-lihat masa apasang atribut partai ini memang menganggu. Betapa tidak. Terkadang mereka asal pasang saja. Mau di tempat umum, di jalanan atau bahkan dipohon atau juga di Taman kota. Yang jelas terlihat menganggu pemandangan.
Lagian mereka memasang asal pasang saja. Ikatannya yang kurang erat lah. Akibatnya tak beberapa lama ikatan tersebut longgar dan berantakkanlah jalanan. Kalau yang dipohon-pohon dijalanan mereka menyilangkannya. Terkadang tak jarang diterpa angina dan meliuk ke abadan jalan dan menganggu para pengguna jalan.
Sda lagi yang mengguanakan bambu. Bambu tersebut kurang kuat. Bambu tersebut meliuk-liuk. Ada yang patah, ada yang jatuh. Anehnya, dibiarkan saja seperi itu. Pemasangannya pun asal pasang asaja. Tidak teratur. Yang penting terpasang. Itulah prinsipnya. Tidak punya nilai senikah yang memasangnya?
Kalau saya tak salah, saya pernah baca. Ada aturannya memasang atribut kampanye. Tapi saya gak terlalu paham juga masalah kampanye tersebut. Tapi tak mungkin kalau dibauat aturannya kalau boleh memasang atribut partai sembarangan. Lagian sepertinya sudah disediakan lahan permanent yang terbuta dari besi untuk memasang atribut tersebut.
Anehnya ada juga tiang permanent tersebut yang tidak dimanfaatkan. Ada juga yang satu tiang lebih dari satu partai. Pokoknya kacau lah. Apa yang salah. Kalau begitu mana bias percaya kita dngan partai kalau saja partai itu tidak disisplin dan tidak peduli lingkungan.
Orang Gilakah? Desember 1, 2008
Posted by frestialdi in Ntalah yowh.add a comment
Apa jadinya ya kalau orang gila punya anak. Nah begitu yang terlihat tadi. Di sekitar, lampu merah saat dekat Minang Plaza, dkat kantor DPRD Sumbar. Dari dandannya kayaknya seorang ibu tersebut memang gila. Apalagi dari gayanya.
Dia menggendong seorang anak. Anak tersebut tanpa celana sedangkan ibu tersebut terlihat kumalk. Ya, benar-benar seperti orang gila lah. Tak terbayangkan bagaimana jadinya kehidupan mereka. Ibu gila, sementara bagaimana dengan nasib anaknya. Anaknya sepertinya kelihatan seperti anak biasa saja. Tidak ada yang berbeda dari anak tersebut.
Namun, bagaimana keehidupan anak tersebut kedepannya dengan ibu yang gial. Tapi saya memang tak tahu betul apakah ibu tersebut memang gila atau tidak. Tapi melihat tingakahnya dan apa yang saya lihat saya benar-benar yakin kalau dia memang gila.
Yang saya sesalkan nasib anak tersebut. Tak adakah sanak keluaraga mereka yang simpatik atau mereka juga tidak punya sanak keluarga. Ya paling tidak suami dari si I bu yang “gila” tadi. Atau siapakah kek. Kasihan juga lihat anak tadi. Tapia pa boleh buat.
Padang, 1 Desember 2008





