jump to navigation

Adakah yang cinta dengan Produk dalam negeri Maret 16, 2009

Posted by frestialdi in Telah Terbit.
add a comment

(Laporan Halimah Tusadiah, Willy Adrian / SMTI Padang, Bulan Fatiah Bagustari/ SMAN 9 Padang, Fefri Zahitul / SMAN 10 Padang, Annggi Resty Harlen / SMAN 6 Padang, Noviade Jusman / SMA Adabiah Padang, Miftha Hurrami / SMKN 3 Padang dan Dedet Sepriadi / SMAN 5 Padang)

Tak dapat dipungkiri lagi, begitu banyak produk asing yang betebaran di negeri kita ini. Setiap benda atau peralatan yang kita gunakan atau kita temukan itu adalah temuan atau produksi bangsa asing.

Berbagai macam, mulai dari pakaian dan segala tetek bengeknya mulai dari hal yang besar sampai hal yang terkecil sekali pun. Seakan “kecanduan” dengan produk asing, masyarakat kita, bahkan pelajar kita acap kali mengkonsumsi barang buatan luar negeri jika dibandingkan dengan barang buatan dalam negeri. Berbagai alasan mereka sodorkan perihal mengenau seringnya mereka menggunakan produk luar negeri ini.

Sejalan dengan itu, P’mails juga ingin mencari tahu peran produk luar negeri terhadap pelajar di Kota padang, Sumatera Barat umumnya. Apakah teman-teman pelajar kita ini “candu” terhadap produk luar negeri atau kah mereka memang mencintai produk dalam negeri. Seperti yang diungkapkan oleh teman-teman kita berikut ini. Rata-rata pelajar yang P’mails wawancari memang pernah membeli atau mengkonsumsi produk luar negeri. Namun ada beberapa orang yang menyatakan tidak pernah membeli produk luar negeri. Tapi masa iya? Alasannya?. “Mahal,” jawab Lidya dari SMTI Padang. Hal ini sama persis dengan apa yang dikomentari oleh Larya Amaliah atau yang akrab dipanggil Meli dan temannya, Dhea Putri Wantika dari SMAN 9 Padang. Lantas bagaimana tanggapan teman-teman kita yang pernah membeli produk luar negeri?

“Kalau produk luar negeri itu sudah dapat nama, jadi kesannya lebih keren,” ucap Irena Sheyladini Utari, siswi SMKN 3 Padang in. Teman satu sekolah Sheila, Shabrina Ayu Tholsuta mengakui kalau produk luar negeri itu mempunyai kualitas yang lebih baik. Hal ini dianggukkan Shilvi Agusti dari sekolah yang sama, Randa Nofri Yuanda dari SMAN 5 Padang, Erick Dalmantias, SMA Don Bosco Padang, Khairunnisa dari SMA Adabiah, Hazim Akbar Saleh, SMTI Padang dan teman-teman yang lainnya. Namun ada juga yang berpendapat sedikit berbeda. Seperti yang diungkapkan Suci Nurani dari SMKN 3 Padang, ia pernah membeli produk luar negeri hanya untuk oleh-oleh semata. Sering jalan-jalan ke luar negeri ya? Hanny Yolanda, Pelajar dari SMAN 6 Padang mengungkapkan kalau ia pernah membeli produk luar negeri tergantung kebutuhan.

Meninggalkan produk luar negeri, P’mails juga menyodorkan pertannyan seputar produk dalam negeri. Bagaimana pula tanggapan teman-teman kita ini?

Ardhya Argha Andhika atau yang lebih akrab disapa Argha kiting ini dengan semangat empat lima nya menyatakan kalau ia pernah dan sering membeli produk dalam negeri. Alasannya, “Karena aku cinta Produk dalam negeri,” ujar pelajar SMAN 4 ini. Hal ini juga senada dengan Nur Wahyu Amelia atau yang lebih sering disapa Ayu. Bedanya Ayu mengucapkannya dengan logat minang. Cinta Produk lokal juga ya Yu? Ada juga yang berpendapat kalau produk dalam negeri itu murah dan lebih mudah dijanggkau. Hal ini lah yang diungkapakan Hany Rahmayanti, siswi SMKN 3 Padang. Begitu juga dengan Meli, ia menggangap kalau produk dalam negeri itu lebih murah dan kualitasnya juga tidak kalah dengamn barang impor. Begitu juga dengan Nurul Annisa, SMAN 10 Padang. Ia berpendapat kalau produk Indonesia itu bagus, baik dari segi kualitas dan desainnya.

Hal ini jelas langsung disanggah Shabrina, pelajar yang bercita-cita ingin menjadi akuntan ini menurutnya kalau dari segi harga memang terjangkau, tapi barang negara kita memang kalah dari segi kualitas. Pendapat ini didukung oleh Hazim dan Randa. Sedangkan Hanny mengangap kalau produk dalam negeri selalu bagus dibanding produk dalam negeri. “Ada produk dalam negeri yang bagus dibanding produk luar,” beber nya.

Seperti yang P’mails kemukan tadi, berbagai alasan disodorkan orang-orang ketika membeli produk luar negeri. Menurut teman-teman kita ini apakah alasan yang menyebabkan orang-orang membeli produk luar negeri?

Menurut Suci Nurani orang-orang lebih cenderung membeli produk luar negeri karena mengangagap produk luar negeri itu lebih elit dan lebih berkelas. Hal ini juga sama dengan penadapat Ladya, menurutnya orang-orang banyak yang hanya “jaim” alias jaga imej. Banyak juga dari teman-teman kita ini berpendapat kalau orang-orang membeli produk luar negeri karena ingin mendapatkan kualitas yang bagus.

Kalau begitu, barang-barang apa saja kira-kira yang dibeli teman-teman kita ini yang produksinya berasal dari laur negeri.

“Biasanya lebih cenderung barang-barang elektronik,” cetus Argha.

“Iya, pakaian juga banyak seperti tas dan jam tangan” Lanjut Nurul Annisa.

“Pentul,” jawab Ayu.

Memang macam macam jenis produk luar negeri yang ada di negara ini. Ada yang memang mendatangkan manfat ada juga yang tidak sama sekali. Yang mendatangkan manfaat contohnya kepuasan. Itulah yang diungkapakan Shabrina. Menurtutnya kepuasan lah prioritas utama konsimen. Biarlah konsumen mengeluarkan banyak uang asal ia mendapatkan kuaitas dan kepuasan yang dicarinya.

Teman-teman kita menjawab kalau rata-rata orang membeli produk luar negeri hanya untuk mendapatkan kualitas yang bagus. Lantas bagaimana pula dengan produk dalam negeri kira-kira apa manfaat yang kita dapatkan jika kiya membeli produk dalam negeri.

“Bisa meningkatkan penghasilan pekerja yang membuat barang dalam negeri,” jawab Meli. Selain itu? “Meningkatkan pendapatan negara,” tambah Dhea. Lalu? “Selain menambah devisa negara juga bisa menentukan jati diri bangsa,” sahut Hazim.

Dengan begitu banyak produk luar negeri yang ada saeakan menaninggalkan produk dalam negeri. Terkesan produk dalam negeri kalah bersaing. Apa sebabnya produk kita “kalah bersaing” Apa pendapat kamu?

“Kalau produk luar negeri itu harga dan kualitasnya sebanding. Sedangkan prodik Indonesia itu harga dan kualitasnya tidak sebanding. Barang yang dihasilkan terkesan asal-asalan dan hanya menhejar untung besar. Contohnya sepatu, tinggal tempel-tempel, sebulan copot paling tahan Cuma tiga bulan,” jelas Irene.

Lantas bagaimana cara menanggulanginya?

“Produk dalam negeri itu harus lebih berkualitas lagi,” jelas Indah Citra Mawadah pelajar dari SMTI yang suka makan es batu ini.

“Bangkitkan semangat rakyat agar lebih giat lagi,” ujar Novita Eryanti, SMAN 7 Padang.

Sabrina lebih menyarankan membuat poster-poster ajakan cinta produk dalam negeri.

Kalau Meli lebih menyarankan agar tidak membeli produk luar negeri suapaya masyarakat makin cinta dengan produk dalam negeri.

Kerja dimana?

Setiap orang berhak menentukan ia bekerja dimana. Ada yang lebih memilih kerja didalam negeri. Membhaktikan diri terhadap nusa dan bangsa. Bahkan ada juga yang lebih suka memilih beekrja di luar negeri atau pada peruasahan asing dengan alasan gaji atau kesenangan sekali pun. Mencari pendidikan di tempat asing setelah sukses tidak kembali lagi ke Indonesia. Bagaimana pendapat teman-teman kita ini. Bagaimana pula sikap mereka jika dihadapkan dengan pilihan tersebut.

Hal ini diakui oleh Randa, ia lebih memilih bekerja diluar negeri dengan alasan mendapatkan gaji yang bagus dan tempat yang bagus. Randa sependapat dengan Ayu. Ayu juga lebih memilih kerja pada perusahan asing karena fasilitas yang ditawarkannya lebih memadai. Hal ini juga diamini oleh Shabrinan, Suci. Tapi ada satu hal yang menarik yang diungkapkan oleh Hani Rahmayanti. Sebenarnya siswi SMKN 3 Padang ini lebih memilih kerja di luar tapi dengan alasan keluarga ia mengalah untuk bekerja dalam negeri.

Banyak juga yang memilih bekerja di dalam negeri. Seperti yang diungkapkan Hazim, ia mengakui bekerja diluar negeri mendapatkan gaji yang lebih tapi menurutnya tidak sesuai dengan prinsip kewirahusahan karena ia ingin jadi boss. Waduh, Hazim.

Hal yang senada diungkapkan diungkapkan Erick, Argha. Mereka berdua ini memilih kerja di dalam negeri untuk memajukan bangsa. Namun hal yang sedikit berbeda diungkapkan Meli, menurutnya kerja dalam negeri bisa memajukan produk dalam negeri dan bisa mempraktekkan skil mereka, selain itu menurut Meli juga menguntungkan bangsa sendiri.

Ya, apapun alasannya yang penting kerja di luar negeri atau tidak, kecintaan memajukan bangsa sendiri. Bagaimana Indonesia tidak hanya menjadi konsumen saja, tetapi juga harus jadi produsen dan bisa bersaing dengan pasar Internasional. Setidaknya begitu kurang lebih, bangsa kita bisa lebih bisa maju. Dan menciptakan hal baru, semangat buat bangsa. (Fresti Aldi dan Yosefintia Shinta)

Aku, Kamu, Kita Semua Cinta Produk dalam negeri Maret 16, 2009

Posted by frestialdi in Telah Terbit.
2 comments

Aku Cinta Made in Indonesia

Oleh Fresti Aldi

Kenyataannya, di negara kita ini begitu banyak produk luar negeri yang menguasi perdagangan. Tak peduli jenis apa itu. Mulai dari makanan, pakaian, alat transportasi bahkan sampai hal terkecil sekali pun. Dimana saja, hampir di seluruh tempat tiap kali kita melongok, mencoba memperhatikan apa yang ada. Yang tertulis justru made in Korea, Made in Jepang, Made in Malaysia dan sejumlah negara lainnya, walaupun ada made in Indonesia kenyataan justru tak banyak. Jangan kan dari persaoalan barang, dari segi peruasahan jasa saja, banyak juga produk asing yang ikut “nebeng” di Indonesia.

Persoalan ini membuka mata kita bagaimana produk dalam negeri kita sehingga bisa tersaingi dengan produk luar negeri. Dari persoalan harga, produk asing tersebut justru lebih menawarkan harga yang lebih mahal dibanding produk dalam negeri. Tapi kenyataannya memang produk kita tak banyak yang laku. Bahkan masyarakat kita sendiri lebih cenderung membeli produk asing bila dibandingkan dengan produk dalam negeri kita sendiri walaupun dengan harga yang mahal sekali pun.

Masyarakat kita sendiri, atau bahkan kita atau saya juga tergolong hampir setiap saat bertemu dengan produk asing tersebut. Alasan dari teman-teman kita atau sebahagian orang yang tergolong sering membeli produk asing pun bermacam-macam. Mulai dari sekedar coba-coba, ikut-ikutan teman atau bahkan jaga gengsi sekali pun.

Ada juga yang lebih unik, produk dalam negeri tak sebagus produk luaran. Padahal kalah kita teliti, kita tak akan kalah kalau kita bisa memperhatikan beberapa faktor berikut ini.

Pertama, bangsa kita atau masyarakat kita tidak mau berdaya saing. Bangsa kita lebih senang bekerja dari hasil pemikiran orang lain. Bukan berarti tak ada, tapi tak banyak dari masyarakat kita yang mau menciptakan produk baru untuk dilempar ke pasar internasional. Masyarakat kita lebih senang mengolah produk dari pasar internasional untuk dijual lagi di Indonesia. Faktanya, banyak produk jenis produk asing yang tidak diproduksi Indonesia.

Persoalan kedua adalah persoalan pengemasan. Jika produk kita dijual ke pasar internasional atau di ekspor pengemasannya lebih cenderung asalan. Atau lebih mempunyai prisip kemasan yang sederhana dan murah. Padahal, dari segi kemasan lah orang bisa menilai hasil produk suatu barang. Jika pengemasannya berdaya tarik orang akan lebih tertarik untuk membelinya. Dari segi kemasan saja, banyak produk kita yang kalah saing dari produk asing.

Yang lebih parah, saya pernah mendengar cerita guru ekonomi saya. Akibat pengemasan, kita sampai tertipu dengan produk sendiri. Produk kita yang dikemas dengan semberaut akan dikemas lagi oleh masyarakat asing. Produk kita yang sudah dikemas ulang tersebut lah justru di njual kenegara-negara lain termasuk ke Indonesia tentunya dengan harga yang mahal.

Dua persoalan tersebut saja bisa menjadi perenungan kita bagaimana produk indonesia tak banyak diminati. Walau pun tak semua produk dalam negeri seperti itu. Kalau pun ada produk dalam negeri yang dari segi kualias nya bagus, namun kenyataan nya masyarakat kita masih saja suka membeli produk asing.

Dari segi manfaat jelas membeli produk dalam negeri memberi banyak manfaat. Selain untuk menambah pendapatn negara, membeli produk dalam negeri akan meninngkatkan produksi dalam negeri dan menjadikan bisa bersaing. Jika produksi dalam negeri meningkat otomatis lapangan kerja meningkat, pendapatan rakyat juga meningkat bahkan produk yang ditawarkan juga pastinya lebih murah. Perekonomian kita setidaknya membaik.

Sayangnya belum banyak yang mengerti dengan pemahaman tersebut. Masyarakat kita masih fanatik dengan merek dan produk asing. Padahal kalau kita perhatikan di negara Amerika, ada beberapa prisip yang perlu kita renungkan yaitu: Orang Amerika harus membeli produk Amerika bukan produk Asing. Hanya produk yang tidak ada di Amerika yang boleh diimpor. Produk Amerika yang pertama dan terakhir selamnya. Orang Asing tidak dibenarkan menjual produknya di Amerika, kalau pun diizinkan harus dikenakan pajak tinggi. Orang Amerika sejati harus membeli produk Amerika. Membeli produk impor berarti bukan orang Amerika.

Kampanye ini sebetulnya sudah digalakkan oleh pemerintah Indonesia, sayangnya untuk menjalankannya masih tergolong sulit karena masyarakat kita masih enggan untuk membeli produk dalam negeri. Tulisan ini bukan mengajak kita anti produk asing. Kendati pun kenyataan banyak produk asing yang bertebaran di Indonesia dan banyak juga produksi produk asing yang tidak diproduksi negara kita. Tapi paling tidak kita bisa memahaminya, menjadi masayarakat yang cinta produk dalam negeri. Bagaimana bisa mencintai produk dalam negeri dan tidak hanya fanatik dengan produk asing.

Prof. dr. Abdurrahman “Karbol”Saleh. Maret 11, 2009

Posted by frestialdi in Telah Terbit.
add a comment

Prof. dr. Abdurrahman “Karbol”Saleh.

Tak banyak yang mengenal betul sosok dari Abdulrahman “Karbol” Saleh. Sosok yang lahir di Jakarta 1 Juli 1909 ini tidak hanya seorang Perwira Tinggi biasa. Ia dikenal juga sebagai pendidik, pahlawan nasional/peristis TNI angkatan udara. Ia juga dikenal sebagai perintis lahirnya Radio Republik Indonesia (RRI) dan juga sebagai dokter,.
Orang-orang lebih mengenalnya dengan sebutan “Karbol”. Sebutan itu berasal dari bahasa belanda yaitu Krullebo yang artinya berambut keriting. Nama tersebut diberikan oleh teman-temannya semasa baru memasuki sekolah di Genekundisge Hoogeschool (GHS – sekarang FKUI).
Ia memulai sekolahnya di HIS yaitu Hollandsch Inlandsche School semacam sekolah berbahasa belanda. Kemudian ia melanjutkan sekolahnya di MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs atau yang sekarang setingkat dengan SMP. Tamat dari MULO Karbol melanjutkan sekolahnya di AMS (Algemene Middelbare School) atau yang setingkat dengan SMA. Selanjutnya Karbol melanjutkan pendidikannya di STOVIA (School Tot Opleiding Van Inlandsche Arststen). Namun karena sekolah tersebut dibubarkan, Karbol terpaksa harus meneruskan sekolahnya di GHS. Disana lah beliau mendapatkan gelar sarjananya.
Dari kecil beliau sudah gemar mengotak-atik. Sehingga kebiasan tersebut juga berlanjut sampai ia dewasa dan ikut merintis lahirnya RRI. Pada awal kemerdekaan ia bertemu dengan Jusuf Ronodipuro yang menceritakan bahwa Hosokkyiku (Pusat Siaran Radio Jepang) ditutup. Saat itu pak Karbol mengambil inisiatif untuk membuat saiaran radio nasional. Laboraturium Ilmu Ika Dai Gaku dijadikannya tempat untuk membuat pemancar berkekuatan 100 watt.
Sejak saat itu berkumandanglah Radio Suara Indonesia Merdeka. Siaran pertama berisikan tentang pidato Bung Karno dan Bung Hatta. Beliau juga memberikan sebuah semboyan untuk Radio Republik Indonesia yang sampai sekarang terkenal yaitu. “sekali di udara tetap di udara”
Setelah berhasil mendirikan Radio, beliau melanjutkan perjuangannya untuk membela Indonesia. Beliau memetuskan untuk undur diri dari dunia radio dan bergabung dengan Tentara Republik Indonesia untuk menjadi prajurit penerbang. Sebelumnya beliau juga sudah mendapat brevet penerbangan dan sudah aktif pada perkumpulan olahraga terbang dan mendapat ijazah atau surat izin terbang. Beliau kembali belajar menerbangkan peasawat Cureng yang saat itu Adi Sucipto menjadi Instrukturnya.
Pada tanggal 29 Juli 1947 adalah hari terakhir bagi beliau untuk menerbangkan pesawat. Saat itu ketika pesawat beliau berencana untuk kembali ke Yogyakarta melalui singapura, namun pesawat yang sebelumnya telah mendapatkan izin dari dari pemerintah Inggris dan Belanda tersebut ditembak oleh pesawat milik Belanda. Pesawat akhirnya menabrak pohon dan terbakar. Peristiwa itu diperingati oleh TNI AU sebagai Hari Bakti TNI AU.
Ia diangkat sebagai pahlawan Nasional Republik Indonesia. Makamnya yang semulanya berada di pemakaman Kuncen dipindahkan ke kompleks Monumen Perjuangan TNI Au di Bantul, Yogyakarta.
Nama beliau juga diabadikan sebagai nama pangkalan TNI AU dan Bandar udara di Malang. Selain itu piala bergilir yang diperebutkan dalam Kompetisi kedokteran dan Biologi Umum (Medical and General Biology Competition) disebut sebagai piala bergilir Abdulrahman Saleh. (Fresti Aldi/ Indotoplist)

Sekolah 5 Hari Maret 3, 2009

Posted by frestialdi in Artikel untuk mereka.
add a comment

( Dirangkum oleh Yosefintia Sinta dan Fresti Aldi atas laporan Haibati Arizona/ SMAM 1 Padang, Oryza Yulvira Sandy, Fristia Rahmadyah/SMAN 5 Padang, Noviade Jusman, Riska Ramadhani Putri/SMA Adabiah), Yudi Harianto, Willy Adrian, Hali­mah Tusadiyah/SMTI Padang, Lailatul Husna / SMAN 1 Nan Sabaris, Seilla Alfrida Pra­tama/SMAN 9 Padang, Anggi Resty Harlen/SMAN 6 Padang, Fefri Zahilatul/SMAN 10 Pa­dang, Rahayu Susanti /SMAN 14 Padang, Hesti May Harse/SMAN 8 Padang)

Sekolah lima hari, mengun­dang pro dan kontra. Pro dan kontra yang muncul memper­debatkan keefektifan waktu belajar. Program sekolah lima hari artinya sekolah mempunyai hari efektif mulai hari Senin hingga Jumat, sedangkan Sab­tu sebagai hari libur atau menjadi hari untuk melak­sanakan sebagai kegiatan ekstra­­kuri­kuler bagi siswa.

Ada yang setuju, ada yang tidak setuju. Dukungan datang dari Ade Rezki Putera. Siswa SMAN 9 Padang ini setuju dengan adanya sekolah lima hari. “Meminimalisir kejenuhan siswa,” ujarnya diamini Nana Dian Pertiwi. Oscar Pratama pun menyambut sekolah lima hari, “Setuju banget, bisa istirahat dan mengembangkan bakat,” ungkapnya.

Cukup lima hari untuk berkutat dengan tulisan-tulisan, angka-angka dan rumus-rumus. Begitu kiranya yang dirasakan Citra siswi SMTI, Astrid Oliviana dan Arrijal Mustakim dari SMAN 14 Padang. Mereka mengaku jenuh dengan sekolah enam hari. Pelajar dari SMAN 10 Padang, Ikwan Abiyu ikut mendukung program ini, “Tidak ada salahnya Sabtu dan Minggu PBM diistirahatkan dan diisi dengan kegiatan yang dapat menyeimbangkan otak kiri dan otak kanan,” ungkapnya. Alasan ini disetujui Dzakiyartul Afifah. “Sekolah enam hari terlalu memforsir otak, otak juga butuh istirahat” protes Dona Cyintia Putri. Yang diaminkan oleh dua teman pelajar dari SMAN 1 Nan Sabaris, Alfi Syahrin dan Ual Syahdan yang sangat setuju jika sekolah hanya lima hari saja. Nela, yang kini bersekolah di SMAN 3 Padang ini mengharapkan sekolahnya bisa menerapkan sekolah lima hari.

Mengisi hari Sabtu dengan kegiatan ektra kurikuler sepertinya menjadi pilihan banyak siswa. Seperti halnya Suci Nursal Handayani, “Lima hari cukup untuk PBM, kalau pun dirasa kurang, belajar bisa kapan dan dimana saja, tidak hanya di sekolah. Jika sekolah mampu memfasilitasi dalam pengembangan diri siswa dibidang non-ademik, kenapa tidak hari ke enam diisi dengan ekskul,” tuturnya. Seperti yang dilakoni Fadlan, Gali, Abdul, Fajrin, dan Argen, mereka sangat setuju jika ada waktu luang untuk pengembangan diri. Sherly Fitriani ikut menambahkan, “Hari ke enam juga dapat diisi dengan kegiatan keagamaan, disamping mengikuti kegiatan ekskul” ungkapnya.

Sedikit berbeda, bagi Dhita Dwi Handayani, siswi SMA Don Bosco Padang dan Riki, siswa SMK N 5 Padang ini lebih setuju jika hari ke enam benar-benar menjadi hari libur siswa dan waktu bersama teman-teman, “Kita bisa refressing, hang out bareng teman, atau kegiatan yang bermanfaat lainnya, seperti olah raga, organisasi atau kegiatan sosial lainnya” celoteh Dhita yang hobi membaca. Senada dengan Dhita, Siska dan Tari juga mengungkap hal yang sama, bagi mereka waktu yang lima hari sudah cukup melelahkan untuk semua urusan sekolah, hari Sabtu dan Minggu bisa menjadi waktu untuk mengis­tirahatkan pikiran dari urusan sekolah, “Berga­bung dengan organisasi bisa menjadi pilihan” ungkap Tari. Sedangkan Vina Safrilla punya persaratan untuk program ini, baginya sekolah lima hari sah-sah saja asalkan lima hari yang ada benar-benar tersusun dengan baik untuk menja­lani PBM, penyampaian materi cukup dan juga tidak membosankan.

Jika jenuh dan menyeimbangkan otak menjadi alasan teman-teman pelajar untuk setuju, tidak efisien menjadi alasan kuat bagi sebagian teman pelajar lainya untuk tidak setuju. “Sekolah lima hari itu tidak efisien, karena otak kita dipaksa untuk menerima dan berfikir lebih keras, hanya dalam lima hari,” tutur Oksa Irawan. Lebih lanjut Mayang Agustina Kusuma menjelaskan, “Pelajaran yang harusnya kita dapatkan dalam enam hari dipadatkan dalam lima hari, maka jelas otak kita dituntut lebih keras,” ungkapnya. Gadis yang akrab disapa Miing (lho?) ini juga menambahkan, “Bagaimana kalau hari Sabtu pulangnya dipercepat saja,” tuturnya menyarankan. Penolakan juga datang dari Dilla Hariyanti, baginya alangkah baik waktu satu hari itu dipakai untuk belajar.

Meti Permatasari juga mengungkap hal yang sama, “Sekolah lima hari berarti harus siap dengan jadwal pelajaran yang dipadatkan dan itu bikin capek,” celoteh gadis yang bercita-cita menjadi dokter ini. Mendukung Meti, Putri Harefa juga mengungkap hal yang sama, “lebih baik sekolah enam hari dari pada lima hari,” ungkap gadis kelahiran Padang, 20 April 1993 ini. Begitu pula dengan Rizka Julastri dan Nova Eka Putri, dua siswi SMAN 1 Nan Sabaris ini, “Gak setuju, kita tidak mampu menyerap dengan cepat pelajaran, sedangkan dalam enam hari saja susah, apalagi hanya dalam lima hari,” tutur mereka.

Bagi Amanda Besta Rizaldi, “Sekolah lima hari itu tidak efektif. Jam pelajaran yang dipadatkan membuat teman-teman pelajar lebih letih, dan tidak fokus belajar,” ungkap gadis yang kerap disapa Abe ini. “Sedang sekolah seperti biasa saja udah mau lemes otaknya apalagi diperpadatkan” tutur Filtra Diandara, siswa SMTI Padang. Dan Hafiza Dova Resbu juga siswa SMTI ikut tidak setuju, ia merasa itu memberatkan, kalau soal hiburan atau kegiatan yang memacu keseim­bangan otak kanan dan kiri bisa saja kita dapatkan sendiri di waktu-waktu luang. Namun seolah menipis semua itu, Feby yang berasal dari SMPN 7 Padang ini berpendapat lain “Pelajaran yang dipadatkan jangan dijadiin beban, belajarkan kewajiban, lagian belajar kan sudah jadi hobiku,” ungkapnya bangga. Dan Rendy A Erlangga, siswa SMAN 9 Padang ini mendukung Feby, baginya soal mata pelajaran yang dipadatkan bisa disiasati dengan penyampaian materi yang menarik atau tidak membosankan dari guru, “Misalnya dengan adanya game, kuis atau hal menarik lainnya,” tutur cowok kelahiran Padang, 25 Juli 1994 ini.

Ikut angkat bicara tidak setuju, tapi mereka punya argumen berbeda, begitulah kiranya dengan Sepriadi Yusra dan Khedia Hannifa Deji. “Libur terlalu lama ibarat kita berlari, jika berhenti terlalu lama membuat kita kesulitan untuk mulai berlari kembali, jadi lebih baik enam hari,” ungkap Sepriadi. Dan bagi Khedia Hannifa Deji, “untuk mengembangkan kreatifitas tidak mesti dengan mengorbankan Proses Belajar Mengajar, dalam pelajaran pun ada kok, misalnya saja mata pelajaran kesenian,” ulas pelajar yang bersekolah di SMTI Padang ini.

Ya, pelajar yang tidak setuju sepakat kalau sekolah lima hari tidak efektif. Suryani membagi pengalamannya, “Waktu SMP pernah ada kebija­kan sekolah lima hari, dan hari ke enam diisi dengan ekskul, yang ada teman-teman banyak yang cabut,” kenang Yani. Sedangkan Fani dan Geby yang sama-sama berasal dari SMPN 7 Padang ini, tidak setuju dengan sekolah lima hari, namun bagi mereka ekskul harus tetap ada karena itu penting dalam mengembangkan diri. Nurul Kairi dan Siska yang berasal dari SMAN 2 Padang ini juga kompak tidak setuju dengan sekolah lima hari.

Komentar menarik datang dari Novita Eriyanti, pelajar SMAN 7 Padang ini ikut memikirkan nasib supir angkutan umum, “Seandainya sekolah cuma lima hari, angkutan umum pada hari Sabtu judi kekurangan penumpang, dan pemasukan supir angkotnya berkurang, belum lagi penjaga kantinnya,” tuturnya. Dengan nada becanda, Novita menambahkan, “kalau sekolah cuma sampai Jum’at jatah jajan juga berkurang, dong,” celotehnya. Lain lagi dengan Fadhil M Wuda baginya sekolah lima hari menjadi tidak mengasikkan karena waktu untuk bertemu dengan teman di sekolahan menjadi berkurang. Begitu pula yang dirasakan Welni P Handayani. Pernyataan kompak datang Dari Narti, Sari, dan Putri mereka sanagt setuju kalau sekolah itu enam hari. “Gak perlu sekolah menjadi lima hari, soal libur kan masih banyak waktu libur lainnya” tutur Nanda, siswi SMKN 5 Padang.

Berangkat dari pengalaman, siswa-siswa SMA Adabiah angkat bicara. “SMA Adabiah sudah menerapkan sekolah lima hari dan itu menyenangkan, waktu satu hari itu dapat dimanfaatkan siswa untuk mengembangkan bakat dan minat yang penting untuk jadi bekal para siswa,” tutur Ika Tiara Putri dengan semangat. Senada dengan Ika, temanya Athya menambahkan selain memberikan waktu untuk siswa dalam mengembangkan diri, hari Sabtu jika dapat mengobati keje­nuhan siswa dalam belajar. Lebih jauh Fazra Felina memaparkan, “Sekolah lima hari bikin kreativitas kita meningkat,” celotehnya singkat. Dengan bijak Baim yang juga merupakan siswa SMA Adabiah ikut berkomentar, “Sekolah lima hari perlu diterapkan, kalaupun jadwal belajar dipadatkan, itu harusnya membuat kita lebih giat dan mau lebih mengasah otak kita,” tuturnya. Rifa, menambahakan selain itu Sabtu menjadi hari yang lebih santai untuknya karena diterapkannya sekolah lima hari, sedangkan Ika ingin kegiatan untuk mengisi hari ke enam itu lebih vatiatif.

Jika SMAN Adabiah sudah menerapkan, SMAN 1 Padang, baru melaksanakan sekolah lima hari pada tahun ajaran ini. Salah satu siswanya, Oscar Pratama angkat bicara, baginya ia sangat setuju dengan kebijakan sekolahnya dalam menerapakan sekolah lima hari ini. Namun juga ada yang menolak, bagi Restika Putri, siswi kelas X-3 ini sekolah lima hari akan menjadi sangat melelahkan. Pro dan kontra tentang sekolah lima hari bermunculan, namun hal yang perlu diperhatikan adalah kesiapan sekolah masing-masing untuk melaksanakan sekolah lima hari. ***