Sekolah 5 Hari

( Dirangkum oleh Yosefintia Sinta dan Fresti Aldi atas laporan Haibati Arizona/ SMAM 1 Padang, Oryza Yulvira Sandy, Fristia Rahmadyah/SMAN 5 Padang, Noviade Jusman, Riska Ramadhani Putri/SMA Adabiah), Yudi Harianto, Willy Adrian, Hali­mah Tusadiyah/SMTI Padang, Lailatul Husna / SMAN 1 Nan Sabaris, Seilla Alfrida Pra­tama/SMAN 9 Padang, Anggi Resty Harlen/SMAN 6 Padang, Fefri Zahilatul/SMAN 10 Pa­dang, Rahayu Susanti /SMAN 14 Padang, Hesti May Harse/SMAN 8 Padang)

Sekolah lima hari, mengun­dang pro dan kontra. Pro dan kontra yang muncul memper­debatkan keefektifan waktu belajar. Program sekolah lima hari artinya sekolah mempunyai hari efektif mulai hari Senin hingga Jumat, sedangkan Sab­tu sebagai hari libur atau menjadi hari untuk melak­sanakan sebagai kegiatan ekstra­­kuri­kuler bagi siswa.

Ada yang setuju, ada yang tidak setuju. Dukungan datang dari Ade Rezki Putera. Siswa SMAN 9 Padang ini setuju dengan adanya sekolah lima hari. “Meminimalisir kejenuhan siswa,” ujarnya diamini Nana Dian Pertiwi. Oscar Pratama pun menyambut sekolah lima hari, “Setuju banget, bisa istirahat dan mengembangkan bakat,” ungkapnya.

Cukup lima hari untuk berkutat dengan tulisan-tulisan, angka-angka dan rumus-rumus. Begitu kiranya yang dirasakan Citra siswi SMTI, Astrid Oliviana dan Arrijal Mustakim dari SMAN 14 Padang. Mereka mengaku jenuh dengan sekolah enam hari. Pelajar dari SMAN 10 Padang, Ikwan Abiyu ikut mendukung program ini, “Tidak ada salahnya Sabtu dan Minggu PBM diistirahatkan dan diisi dengan kegiatan yang dapat menyeimbangkan otak kiri dan otak kanan,” ungkapnya. Alasan ini disetujui Dzakiyartul Afifah. “Sekolah enam hari terlalu memforsir otak, otak juga butuh istirahat” protes Dona Cyintia Putri. Yang diaminkan oleh dua teman pelajar dari SMAN 1 Nan Sabaris, Alfi Syahrin dan Ual Syahdan yang sangat setuju jika sekolah hanya lima hari saja. Nela, yang kini bersekolah di SMAN 3 Padang ini mengharapkan sekolahnya bisa menerapkan sekolah lima hari.

Mengisi hari Sabtu dengan kegiatan ektra kurikuler sepertinya menjadi pilihan banyak siswa. Seperti halnya Suci Nursal Handayani, “Lima hari cukup untuk PBM, kalau pun dirasa kurang, belajar bisa kapan dan dimana saja, tidak hanya di sekolah. Jika sekolah mampu memfasilitasi dalam pengembangan diri siswa dibidang non-ademik, kenapa tidak hari ke enam diisi dengan ekskul,” tuturnya. Seperti yang dilakoni Fadlan, Gali, Abdul, Fajrin, dan Argen, mereka sangat setuju jika ada waktu luang untuk pengembangan diri. Sherly Fitriani ikut menambahkan, “Hari ke enam juga dapat diisi dengan kegiatan keagamaan, disamping mengikuti kegiatan ekskul” ungkapnya.

Sedikit berbeda, bagi Dhita Dwi Handayani, siswi SMA Don Bosco Padang dan Riki, siswa SMK N 5 Padang ini lebih setuju jika hari ke enam benar-benar menjadi hari libur siswa dan waktu bersama teman-teman, “Kita bisa refressing, hang out bareng teman, atau kegiatan yang bermanfaat lainnya, seperti olah raga, organisasi atau kegiatan sosial lainnya” celoteh Dhita yang hobi membaca. Senada dengan Dhita, Siska dan Tari juga mengungkap hal yang sama, bagi mereka waktu yang lima hari sudah cukup melelahkan untuk semua urusan sekolah, hari Sabtu dan Minggu bisa menjadi waktu untuk mengis­tirahatkan pikiran dari urusan sekolah, “Berga­bung dengan organisasi bisa menjadi pilihan” ungkap Tari. Sedangkan Vina Safrilla punya persaratan untuk program ini, baginya sekolah lima hari sah-sah saja asalkan lima hari yang ada benar-benar tersusun dengan baik untuk menja­lani PBM, penyampaian materi cukup dan juga tidak membosankan.

Jika jenuh dan menyeimbangkan otak menjadi alasan teman-teman pelajar untuk setuju, tidak efisien menjadi alasan kuat bagi sebagian teman pelajar lainya untuk tidak setuju. “Sekolah lima hari itu tidak efisien, karena otak kita dipaksa untuk menerima dan berfikir lebih keras, hanya dalam lima hari,” tutur Oksa Irawan. Lebih lanjut Mayang Agustina Kusuma menjelaskan, “Pelajaran yang harusnya kita dapatkan dalam enam hari dipadatkan dalam lima hari, maka jelas otak kita dituntut lebih keras,” ungkapnya. Gadis yang akrab disapa Miing (lho?) ini juga menambahkan, “Bagaimana kalau hari Sabtu pulangnya dipercepat saja,” tuturnya menyarankan. Penolakan juga datang dari Dilla Hariyanti, baginya alangkah baik waktu satu hari itu dipakai untuk belajar.

Meti Permatasari juga mengungkap hal yang sama, “Sekolah lima hari berarti harus siap dengan jadwal pelajaran yang dipadatkan dan itu bikin capek,” celoteh gadis yang bercita-cita menjadi dokter ini. Mendukung Meti, Putri Harefa juga mengungkap hal yang sama, “lebih baik sekolah enam hari dari pada lima hari,” ungkap gadis kelahiran Padang, 20 April 1993 ini. Begitu pula dengan Rizka Julastri dan Nova Eka Putri, dua siswi SMAN 1 Nan Sabaris ini, “Gak setuju, kita tidak mampu menyerap dengan cepat pelajaran, sedangkan dalam enam hari saja susah, apalagi hanya dalam lima hari,” tutur mereka.

Bagi Amanda Besta Rizaldi, “Sekolah lima hari itu tidak efektif. Jam pelajaran yang dipadatkan membuat teman-teman pelajar lebih letih, dan tidak fokus belajar,” ungkap gadis yang kerap disapa Abe ini. “Sedang sekolah seperti biasa saja udah mau lemes otaknya apalagi diperpadatkan” tutur Filtra Diandara, siswa SMTI Padang. Dan Hafiza Dova Resbu juga siswa SMTI ikut tidak setuju, ia merasa itu memberatkan, kalau soal hiburan atau kegiatan yang memacu keseim­bangan otak kanan dan kiri bisa saja kita dapatkan sendiri di waktu-waktu luang. Namun seolah menipis semua itu, Feby yang berasal dari SMPN 7 Padang ini berpendapat lain “Pelajaran yang dipadatkan jangan dijadiin beban, belajarkan kewajiban, lagian belajar kan sudah jadi hobiku,” ungkapnya bangga. Dan Rendy A Erlangga, siswa SMAN 9 Padang ini mendukung Feby, baginya soal mata pelajaran yang dipadatkan bisa disiasati dengan penyampaian materi yang menarik atau tidak membosankan dari guru, “Misalnya dengan adanya game, kuis atau hal menarik lainnya,” tutur cowok kelahiran Padang, 25 Juli 1994 ini.

Ikut angkat bicara tidak setuju, tapi mereka punya argumen berbeda, begitulah kiranya dengan Sepriadi Yusra dan Khedia Hannifa Deji. “Libur terlalu lama ibarat kita berlari, jika berhenti terlalu lama membuat kita kesulitan untuk mulai berlari kembali, jadi lebih baik enam hari,” ungkap Sepriadi. Dan bagi Khedia Hannifa Deji, “untuk mengembangkan kreatifitas tidak mesti dengan mengorbankan Proses Belajar Mengajar, dalam pelajaran pun ada kok, misalnya saja mata pelajaran kesenian,” ulas pelajar yang bersekolah di SMTI Padang ini.

Ya, pelajar yang tidak setuju sepakat kalau sekolah lima hari tidak efektif. Suryani membagi pengalamannya, “Waktu SMP pernah ada kebija­kan sekolah lima hari, dan hari ke enam diisi dengan ekskul, yang ada teman-teman banyak yang cabut,” kenang Yani. Sedangkan Fani dan Geby yang sama-sama berasal dari SMPN 7 Padang ini, tidak setuju dengan sekolah lima hari, namun bagi mereka ekskul harus tetap ada karena itu penting dalam mengembangkan diri. Nurul Kairi dan Siska yang berasal dari SMAN 2 Padang ini juga kompak tidak setuju dengan sekolah lima hari.

Komentar menarik datang dari Novita Eriyanti, pelajar SMAN 7 Padang ini ikut memikirkan nasib supir angkutan umum, “Seandainya sekolah cuma lima hari, angkutan umum pada hari Sabtu judi kekurangan penumpang, dan pemasukan supir angkotnya berkurang, belum lagi penjaga kantinnya,” tuturnya. Dengan nada becanda, Novita menambahkan, “kalau sekolah cuma sampai Jum’at jatah jajan juga berkurang, dong,” celotehnya. Lain lagi dengan Fadhil M Wuda baginya sekolah lima hari menjadi tidak mengasikkan karena waktu untuk bertemu dengan teman di sekolahan menjadi berkurang. Begitu pula yang dirasakan Welni P Handayani. Pernyataan kompak datang Dari Narti, Sari, dan Putri mereka sanagt setuju kalau sekolah itu enam hari. “Gak perlu sekolah menjadi lima hari, soal libur kan masih banyak waktu libur lainnya” tutur Nanda, siswi SMKN 5 Padang.

Berangkat dari pengalaman, siswa-siswa SMA Adabiah angkat bicara. “SMA Adabiah sudah menerapkan sekolah lima hari dan itu menyenangkan, waktu satu hari itu dapat dimanfaatkan siswa untuk mengembangkan bakat dan minat yang penting untuk jadi bekal para siswa,” tutur Ika Tiara Putri dengan semangat. Senada dengan Ika, temanya Athya menambahkan selain memberikan waktu untuk siswa dalam mengembangkan diri, hari Sabtu jika dapat mengobati keje­nuhan siswa dalam belajar. Lebih jauh Fazra Felina memaparkan, “Sekolah lima hari bikin kreativitas kita meningkat,” celotehnya singkat. Dengan bijak Baim yang juga merupakan siswa SMA Adabiah ikut berkomentar, “Sekolah lima hari perlu diterapkan, kalaupun jadwal belajar dipadatkan, itu harusnya membuat kita lebih giat dan mau lebih mengasah otak kita,” tuturnya. Rifa, menambahakan selain itu Sabtu menjadi hari yang lebih santai untuknya karena diterapkannya sekolah lima hari, sedangkan Ika ingin kegiatan untuk mengisi hari ke enam itu lebih vatiatif.

Jika SMAN Adabiah sudah menerapkan, SMAN 1 Padang, baru melaksanakan sekolah lima hari pada tahun ajaran ini. Salah satu siswanya, Oscar Pratama angkat bicara, baginya ia sangat setuju dengan kebijakan sekolahnya dalam menerapakan sekolah lima hari ini. Namun juga ada yang menolak, bagi Restika Putri, siswi kelas X-3 ini sekolah lima hari akan menjadi sangat melelahkan. Pro dan kontra tentang sekolah lima hari bermunculan, namun hal yang perlu diperhatikan adalah kesiapan sekolah masing-masing untuk melaksanakan sekolah lima hari. ***

About these ads

Tentang frestialdi

TercipTa dengan nama Fresti Aldi. Bukan nama minuman. Hanya saja mempunyai sedikit kemiripin. Entah siapa yang awalnya yang miliki nama tersebut. Yang jelas sampai sekarang enjoy aja dengan nama tersebut. Bahkan, nama tersebut juga memudahkan orang-orang untuk ingat dengan seorang Fresti Aldi. Selalu ingin menjadi yang terbaik buat orang lain. Selalu berpenempilan ceria walaupun dalam diri ada suatu masalah. Masalah itu akan akan besar kalau kita membesarkan masalah tersebut. Jangan pernah berharap sesuatu terjadi kalau kita tidak melakukan sesuatu, itulah prinsip hidup. Selalu tersenyum. Smile for All. With smile we can to be a good people. Don't worry. I can give my smile for you, for you and for you. Terakhir, selalu menggangap orang lain sama dengan kita. Jangan merasa hebat, tapi jangan juga merasa bodoh. Hargailah sebuah kelemahan. bye..
Tulisan ini dipublikasikan di Catatan. Tandai permalink.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s