Mutiara dari “Lembah Sunyi” April 14, 2009
Posted by frestialdi in Artikel untuk mereka.add a comment

Ridha Utami, siswa yang SLB Wacana Asih
Duta sekolah kali ini cukup berbeda. Pada duta sekolah biasanya kita mengangkat tentang siswa yang bersekolah di sekolah Umum. Namun, kali ini P’mails mendapat kesempatan mewancari Duta sekolah dari Pendidikan Luar Biasa (PLB) Yayasan Wacana Asih. Walaupun menempuh pendidikan di Pendidikan Luar Biasa, jangan kira prestasinya biasa-biasa saja.
Ridha Utami, begitu nama duta sekolah untuk minggu ini. Awal berkenalan, Gadis ini malu-malu untuk diajak wawancara. Begitulah sosok Ridha, begitu panggilan akbrabnya. Ia sempat menolak untuk diwawancarai. Namun, setelah sedikit bujukan dari gurunya, Akhirnya Ridha mau juga untuk diwawancarai.
Awal perkenalan dengan Ridah, suasana memang cukup tegang. Untuk menyampaikan maksud pertanyaan, Pmails dibantu oleh seorang guru yang menggunakan bahasa isyarat, sebab Ridha adalah siswa Pendidikan luar biasa yang menderita tuna rungu. Ridha susah berbicara dan mendengar.
Walaupun memiliki keterbatasan, ternyata gadis yang sekarang menempuh pendidikan setingkat kelas 2 SMP ini cukup berbakat. Ia termasuk dalam siswa yang cepat dalam menerima pelajaran. Baik pelajaran akademis maupun pelajaran keterampilan sekali pun. Untuk urusan akademis, jangan salah Ridha mampu berbahasa Inggris walaupun hanya menuliskannya pada pada buku.
Sementara itu di bidang keterampilan ia juga tak kalah ketinggalan. Ia mampu membuat jahitan, menyulam dan sebagainya dengan serapi mungkin. Ia memang rajin mengerjakan kegiatan-kegiatan tersebut dan keterampilan tersebut juga menjadi satu bagian dari pelajaran yang diterimanya di PLB Yayasan Wacana Asih.
Satu jempol rasanya tak cukup diberikan kepada Ridha. Selain bisa berbahasa inggris dan jago menjahit dan menyulam, prestasi-prestasi lain tak pernah absent pada dirinya, Prestasi-prestasi tersebut juga yang membuat dirinya lebih disbanding teman-teman lainnya.
Gadis yang menyukai bermain bulu tangkis ini pernah menjuarai lomba menari tingkat Sumatra Barat dengan predikat juara 1. Lomba Rebana tingkat Sumatra Barat meraih juara 2. Tidak itu saja, Juara 1 lomba Lari, juara 1 Lomba lempar lembing, Juara satu lomba Tarik Tambang, Juara 2 Lomba tarik tambang dan sejumlah prestasi lainnya.
Saat ini gadis yang bercita-cita menjadi dokter ini tengah menduduki kelas 2 SMP. Sebelumnya. Di Wacana Asih ia baru dua tahun. Sebelumnya ia mendapat pendididikan di YPPAC. Namun, walaupun begitu guru-guru di Wacana Asih salut dengan kemampuan yang dimiliki.
Sayangnya, Ridha terkadang sering malu dan tidak percaya diri. Itulah kelemahannya. Guru dan teman-temannnya yang selalu memberi motivasi kepadannya, kalau seandainya ia mampu. Padahal, jika ia lebih konsentrasi, guru dan teman-temannya bahkan orang disekitar pasti akan salut pada kemampuannya.
Di masa depan, Terbesit cita-cita di benak Ridha. Ia ingin sekali untuk menjadi dokter. Namun, dengan keterbatasan yang dimiliki nya, ia seringkali merasa pesimis. Tapi melihat bakat dan kemampuan yang dimilikinya, rasanya itu tidak mustahil. Tinggal kepercayaan diri Ridha yang perlu diebentuk dan dipupuk lagi. Salut untuk Ridha dan teruskan perjuangan mu. Semoga apa yang kamu citakan tercapai. Amin. (Fresti Aldi)
Biodata
Nama
Ridha Utami
Tempat Tanggal Lahir
Padang 16 September 1991
Sekolah
PLB Yayasan Wacana Kaih
Kelas 2 SMP
Hobbi
Main Bulutangkis
Cita-cita
Dokter
Hp
081374782997
Alamat
Gurun Laweh no 19
Prestasi
Juara II Lomba Rebana Se Sumbar
Juara 1 Lomba Menari Se Sumbar
Juara 1 Lomba Lari
Juara 1 Lomba Tarik Tambang se Kota Padang
Juara 2 Lomba Bulutangkis
Mengajar Keterbatasan ditengah Keterbatasan April 14, 2009
Posted by frestialdi in Artikel untuk mereka.add a comment
Mereka, teman-teman kita yang memiliki keterbatasan fisik tentu saja harus menerima ilmu untuk menjadikan sebuah keterbatasan mereka tersebut menjadi suatu kelebihan. Kadangkala, pemahaman dan pengajaran tersebut tidak hanya sebatas didapatkan di rumah oleh orangutua mereka. Namun, di bangku sekolah lah mereka mendapatkannya.
Pelajaran tersebut tentu saja didapatkan oleh seorang guru yang mau membagikan ilmunya kepada teman-teman kita itu. Tak banyak juga orang yang mau memberikan pelajarannya kepada anak-anak anak yang memiliki keterbatasan tersebut. P’mails mendapatkan kesempatan untuk menanyai pada “pahlawan” ini tentang pengalaman bahkan pandanngannya dan hal lainnya seputar sekolah luar biasa.
Sosok satu ini adalah salah satu dari sekian banyak guru yang meengajar di sekolah Luar Biasa. Namanya bapak Icun Sulhadi. Menjadi seorang guru pada Sekolah luar Biasa bukan hanya pekerjaan yang kebetulan digelutinya. Motivfasinya untuk menjadi seorang guru pada sekolah Luar Biasa sanmgat besar.
Alasannya, pak Icun ingin mengembangkan dan memaksimalkan kemampuan orang-orang yang bernasib sama dengannya. Pak Icun juga bukan seorang guru yang sempurna. Ia juga merupakan penderita tuna netra. Tapi, itulah yang menjadi keiinginannya. Ia ingin menunjukkan kepada semua orang bahwa ia juga mampu menjalani profesi tersebut. Ia juga suka meenjalankan profesi ini dan profesi menjadi guru sangat mudah dilaksanakan.
Ia sudah menjadi guru sejak tahun 2000. Diangkat menjadi guru pun ia juga sudah dalam keadaan tuna netra. Saat ini ia tercatat sebagai guru pada SLBN 2 Padang.
Menurutnya, pada konsepnya pelajaran yang diajarkan sama dengan siswa normal. Hanya saja butuh penyesuaian dengan materi kebutuhan masing-masing anak. Selaiun itu, ada keterampilan khusus yang diajarkan pada masing-masing kelainan. Contohnya BPBI (Bina Persepsi Bunyi dan Irama) untuk tuna rungu. Pada pengajaran tersebut konsepnya adalah pelayanan individual. Masing-masing anak berbeda kebutuhannya.
Kesulitan yang ditempuhnya saat mengajar memang pernah ditemuain Pak Icun. Menurutnya, seringkali mereka sangat lambat menerima hasil pendididikan, terutama pendidikan ketermpilan. Disitulah peran guru, bagaimana bisa menyesuaikan dengan kondisi yang ada dan bisa meembimbing mereka.
Menanggapi anak-anak yang memiliki kemampuan luar biasa, Pak Icun pun angkat bicara. Menurutnya hal itu bisa saja terjadi. Itu merupakan sebuah talenta. Talented atau intelektual mereka ada yang tidak tergannggu apalagi dibidang seni dan olahraga. Itu nmerupakan bakat khusus, kalau bisa dimaksimalkan dan ditingkatkan.
Pak Icun juga berharap, agar lingkungan dan orang disekitar mereka juga dapat mengerti akan keberadaan mereka dan bisa menghargai mereka. Pada umumnya, harkatnya juga sama dengan yang lainnya. Lingkungan juga harus mengerti karateristik gangguan mereka, terutama lingkungan keluaraga. Ada orangtua yang memaksakan anaknya bersekolah di sekolah umum, bahkan ada orangtua yang malu dengan kondisi anaknya, walaupun tidak semua orangtua seperti itu. “Harusnya mereka disekolah pada sekolah yang layak, karena mereka juga butuh pendidikan. Pendidikan seperti ini juga sangat penting. Keberadaan pendidikan ini sangat mendukung karena mendidik dan mengisi kebutuhan mereka yang mempunyai keterbatasan,” ujar Pak Icun. (Fresti Aldi)
Sekilas Tentang Sekolah Luar Biasa April 14, 2009
Posted by frestialdi in Artikel untuk mereka.4 comments
Tak banyak yang mengenal seputar Pendidikan Luar Biasa (PLB) atau yang juga dikenal dengan sebutan Sekolah Luar Biasa (SLB). Padahal, jumlah pendidikan yang seperti ini tidak sedikit jumlahnya di kota Padang ini.
Namun, seakan keberadaannya termakan dengan pendidikan formal atau Sekolah umum yang ada. P’mails pun menemui dua Sekolah Luar Biasa yang ada di Kota Padang guna mencari tahu hal yang berkaitan dengan sekolah ini serta apa-apa saja yang dilakukan teman-teman kita yang menempuh pendidikan di Sekolah Luar Biasa ini.
Dua sekolah yang kebetulan P’mails temui adalah Sekolah Luar Biasa Perwari Padang yang berlamat di jalan S Parman Ulak Karang Padang dan Pendidikan Luar Biasa Yayasan Wacana Asih Padang yang terletak di terandam Padang.
Di Perwari, beberapa jenjang pendidikan ada disekolah ini. Mulai dari TKLB, SDLB, SMPLB sampai SMALB sekalipun. Di sini tercatat sebanyak 75 orang siswa terdaftar sebagai pelajar denngan rincian TKLB sebanyak 11 orang, SDLB sebanyak 49 orang, SMPLB sebanyak 10 orang dan 5 orang SMALB yang terdiri dari siswa-siswi Tuna Rungu, Tuna Grahita, Tuna Darsa, Autisme dan lain sebagainya. Siswa dengan keterbatasan tersebut lah yang dibina disekolah ini.
Sekolah ini sudah ada sejak tahun 1 Januari 1988 yang langsung di SK kan. Saat ini pun tercatat sebanyak 15 orang guru yang diekpalai oleh Bapak Arifman Hakim, SPd. 4 dari orang guru tersebut merupakan tenaga honorer, sisanya merupakan PNS.
Proses pembelajaran di sekolah ini sama hal nya dengan sekolah biasa. Hanya saja yang diajarkan sesuai dengan kemampuan siswanya masing-masing. Sekolah pun dimulai pada delapan dan berakhir pada setenga sebelas untuk murid TK. Sementara untuk kelas satu sampai kelas 3 pulang pukul sebelas. Sedangkan sisanya pelajaran usai pada pukul duabelas lebih limabelas menit. Sekolah ini memakai kurikulum KTSP yang sudah disesuaikan dengan Sekolah Luar Biasa. Selain pelajarn tersebut, berbagai keterampilan juga diajarkan sesuai dengan kemampuan siswanya.
Pembagian kelas berdasarkan kemampuan dan tingkat keterbatasan masing-masing siswa. Pembagian kelas atau tingkat pendidikan ini juga digolongkan kepada usia setiap anak. Sekolah ini juga banyak memberikan beasiswa kepada muridnya untuk melaksanakan pendidikannya. Cara ini dilakukan untuk mendorong agar mereka yang memiliki keterbatasan juga mau untuk bersekolah, sebab masih ada dari siswa yang jumlah absenya masih tidak teratur. Pihak sekolah terus berupaya memberikan motivasi kepada siswa. Siswa yang sudah lulus banyak yang sudah berhasil, mempunyai keterampilan sendiri, mempunyai usaha sendiri, bahkan juga ada siswa yang sudah bekerja pada kantor-kantor dan perusahaan.
Sementara itu di Yayasan Wacana Asih tercatat sebanyak 120 orang siswa. Jenjang pendidikannya juga sama. Mulai dari TKLB hingga SMALB. Bahkan menurut bapak Husni Thamrin, ketua Yayasan rencananya yayasan ini juga akan mendirikan yang setingkat dengan Perguruan Tinggi. Dana untuk pembelajarn disekolah ini menurut Pak Husni asalnya beragam, mulai dari bantuan Pemerinytah, perusahan Swasta sampai bantuan orangtua murid sekalipun. Dana tersebutlah yang membuat sekolah ini bias berjalan sampai sekarang.
Sementara sebanyak 24 orang guru mengajar disini. Sebelas orang merupakan tenaga honorer, sisanya sudah diangkat menjadi guru. Keterbatasan yang dimilki siswanya beragam, ada yang tuna rungu, tuna netra, bahkan anak autis dan hiperkaktif sekalipun.
Disini P’mails juga mendapatkan data yang sama. Disekolah ini juga memakai kurikulum KTSP yang diperuntukkan bagi siswa SLB yang telah disesuaikan tentunya. Materu yang diajarkan disini juga sama, tak berbeda dengan sekolah umum. Murid-muridnya juga beragam asalnya. Mulai dari masyarakat yang tinggal di sekitar sampai dengan seluruh masyarakat yang ada di kota Padang ini. Menurut Pak Husni, bahkan siswanya juga ada yang berasal dari kerinci.
Di sekolah ini juga diajarkan keterampilan. Para siswanya belajar membuat keterampilan. Kebanyakkan siswa di Yayasan Wacana Asih ini berprestasi, bahkan salah satu murid jebolan sekolah ini sudah ada yang berkuliah di perguruan tinggi di Jakarta, bergabung dengan Mahasiswa Umum, bahkan IP nya juga bagus.
Buk Yulaini, SPd menjelaskan bahwa pada dasarnya mereka juga mampu berprestasi, jangan hanya melihat mereka dari segi negatif. Tambahnya lagi, disekolah ini juga kerap dilaksanakan berbagai kegiatan sama halnya dengan siswa biasa. Antusias siswanya juga cukup tinggi.
Intinya, sekolah seperti ini harus tetap didukung, termasuk pelajar yang bersekolah disana. Mereka punya impian dan bakat masing-masing. Pemerintah, masyarakat, orangtua murid harus peduli dengan adanya sekolah semacam ini. “karena siswa SLB juga tak mau kalah bersaing, “ ujar Buk Yulaini. Setuju. (Fresti Aldi)
Sayangi Mereka 100 %, Bukan 99,99 % April 14, 2009
Posted by frestialdi in Artikel untuk mereka.add a comment
Tidak semua manusia dilahirkan dengan kondisi yang normal. Diantara puluhan, ratusan, ribuan, dan jutaan manusia dimuka bumi ini. Turut hadir sebagian kecil anak dengan kekurangan fisik atau bahkan mental, anak-anak dengan kebutuhan khusus. Mereka hadir dengan “ketidakberuntungan”, namun bukan itu kiranya yang akan menjadi alasan kita memandang mereka dengan sebelah mata , mereka juga manusia. “Mereka juga tak ingin terlahir seperti itu, tetapi itu sudah menjadi ketentuan Yang Kuasa” tutur Akmal Irsyadi Iswan bijak. Siswa SMA Don Bosco Padang kerap merasa kasihan dan prihatin pada anak-anak yang terlahir dengan keterbelakangan fisik dan mental. Bagi cowok yang hobi main futsal ini mereka adalah saudara yang butuh kasih sayang, perhatian dan bukan ejekan. Senada dengan Akmal, Gibno Adam, siswa SMA 14 Padang ini juga menekankan kasih sayang dan perhatian untuk anak-anak dengan keterbelakangan fisik dan mental. Bahkan bagi cowok kelahiran 28 Juli 1992 ini mereka adalah orang yang layak dijadikan teman, “memberikan perhatian, kasih sayang, dan melengkapi kekurangannya layaknya seorang teman” ungkap Gibno.
Mereka juga manusia, nyaris tak ada alasan untuk memandang remeh mereka. Jika kita mencoba melihat lebih jauh, dibalik kekurangannya mereka juga terlahir dengan kelebihan. Mereka juga punya kemampuan yang bisa diasah hingga itu menjadi hal yang luar biasa. Lihat saja anak-anak yang menderita autisme mereka tidak bodoh, bahkan ada diantara mereka yang sangat pintar, hanya saja mereka tidak mampu berinteraksi dengan baik, mereka hadir dengan interaksi sosial, kemampuan komunikasi dan pola tingkah laku yang tidak normal.
Sudah banyak anak-anak luar biasa itu meraih prestasi yang mengagumkan di suatu bidang, mulai dari menyanyi, melukis, menari atau bahkan berpantomim. Bahkan menurut Sonya Ayu Ratni Arjuni, siswi SMA 14 Padang ini mereka adalah anak-anak yang terlahir dengan kelebihan di bidang tertentu. “walau tak dapat kita pungkiri mereka terlahir dengan keadaan yang tidak normal seperti orang kebanyakan, namun mereka punya kelebihan yang juga patut mereka asah dan banggakan” ungkap gadis manis kelahiran 6 Juli 1993 ini. Begitu pun dengan Miftahul Syafitri “ada kelebihan dalam diri mereka, tak adil jika kita melihat kekurangannya yang tampak” ungkapnya singkat.
Mereka juga punya hak yang sama dengan manusia lainnya. Termasuk urusan pendidikan, mereka juga butuh pendidikan yang layak. Salah satu wadah yang sudah banyak dikenal adalah SLB (Sekolah Luar Biasa). SLB menangani anak-anak yang memiliki kelemahan dikarenakan tidak berfungsinya salah satu bagian pada tubuhnya seperti tuna netra, tuna rungu, tuna wicara dan lainnya. Bagi Tegar Stevindo, lembaga pendikan bagi mereka menjadi sangat penting. “pendidikan menjadi jalan untuk mereka dapat mengembangkan kelebihan yang tanpa mereka sadari ada dalam diri mereka” ungkap cowok kelahiran Padang, 31 Maret 1993 yang akrap disapa Tegar ini. Bigitupun dengan Himelda Wulandara, bagi gadis yang yang bercita-cita menjadi Dokter ini, lembaga pendidikan atau pun lembaga pengembangan lainnya untuk anak-anak dengan kebutuhan khusus itu sangat berperan dalam keseharian mereka. “mereka dapat menjalani kehidupan seperti kita, ada keluarga, ada teman dan ada sekolah-lingkungan pendidikan” ungkap dara yang Hobi menyanyi ini.
Lembaga pendidikan khusus atau lembaga pengembangan bagi anak-anak dengan kebutuhan khusus menjadi penting. Dari wadah itu lahir prestasi-prestasi dari mereka. bakat yang mereka tidak sadari, diasah dan dikembangkan oleh tenaga-tenaga pendidik yang juga luar biasa. “wadah pendidikan dan pengembangan diri perlu bagi mereka, hendaknya pemerintah juga memberikan perhatian khusus bagi mereka, sediakan fasilitas yang cukup bagi mereka dan dana pendidikan pun dialokasikan untuk kebutuhan pendidikan mereka” tutur Rahmat Iqbal. Menambahkan Muhammad Irsyad, bagi cowok yang hobi mengotak-atik computer ini pihak pemerintah dan embaga-lembaga yang terkait merancang berbagai kegiatan kreatif bagi mereka dan pelatihan-pelatihan” usulnya. Bagi Fauzan Adiputra, siswa SMA 1 Padang, pihak pemerintah sudah cukup memperhatikan mereka. Namun tiak bagi Siska Rahmadani, pemerintah kurang memperhatikan mereka, “ program pendidikan yang dirancang seolah terlalu berpihak pada pelajar-pelajara yang normal” protes siswi yang hobi punya hobi membaca ini.
No Body is Perfect, begitu ungkapan yang tepat. Tak ada yang sempurna, begitu pun manusia. Dibalik kelebihan yang tampak terdapat kekurangan., dibalik kekurangan yang tampak terdapat kelebihan. Jika kita diberi fisik yang normal, bukan berarti kita manusia tanpa kekurangan, begitupun mereka jika mereka diberi fisik yang tidak normal, bukan berarti mereka manusia tanpa kelebihan. “mereka tak layak dikucilkan, berikan dukungan bagi mereka” ungkap Rachmat Hidayat. Bagi Indri Oktavellia, semua pihak, baik keluarga, teman ataupun lingkungan sekitar hendaknya memberikan perhatian dan sikap adil bagi anak-anak dengan kebutuhan khusus tersebut. Begitupun dengan kemampuan mereka “ kita perlu memberikan dukungan dan perhatian agar kelebihan mereka itu menjadi sesuatu yang berharga dalam hidup mereka” ungkap Ika Tiara Putri, siswi SMA Adabiah Padang. Lebih khusus, Tika Tristanti mencoba mengajak pada keluarga dan pemerintah “bagi keluarga, karunia Tuhan itu jangan diangggap aib, berikan kasih sayang dan salurkan bakat mereka, dan pemerintah berikan perhatian pada kebutuhan mereka” ungkapnya panjang lebar. Sementara dengan indah, Fernando Fasandra mencoba merumuskan “sayangi mereka 100 %, bukan 99,99 %” ungkapnya dengan senyuman.***
Dirangkum oleh Yosefintia Sinta atas Laporan :
Monica Florida Johan / SMA 14 Padang, Haibati Arizona / SMA 1 Padang, Fefri Zahilatul / SMA 10 Padang, Noviade Jusman/ SMA Adabiah Padang, Rahayu Susanti / SMA 14 Padang





