Mengajar Keterbatasan ditengah Keterbatasan April 14, 2009
Posted by frestialdi in Artikel untuk mereka.trackback
Mereka, teman-teman kita yang memiliki keterbatasan fisik tentu saja harus menerima ilmu untuk menjadikan sebuah keterbatasan mereka tersebut menjadi suatu kelebihan. Kadangkala, pemahaman dan pengajaran tersebut tidak hanya sebatas didapatkan di rumah oleh orangutua mereka. Namun, di bangku sekolah lah mereka mendapatkannya.
Pelajaran tersebut tentu saja didapatkan oleh seorang guru yang mau membagikan ilmunya kepada teman-teman kita itu. Tak banyak juga orang yang mau memberikan pelajarannya kepada anak-anak anak yang memiliki keterbatasan tersebut. P’mails mendapatkan kesempatan untuk menanyai pada “pahlawan” ini tentang pengalaman bahkan pandanngannya dan hal lainnya seputar sekolah luar biasa.
Sosok satu ini adalah salah satu dari sekian banyak guru yang meengajar di sekolah Luar Biasa. Namanya bapak Icun Sulhadi. Menjadi seorang guru pada Sekolah luar Biasa bukan hanya pekerjaan yang kebetulan digelutinya. Motivfasinya untuk menjadi seorang guru pada sekolah Luar Biasa sanmgat besar.
Alasannya, pak Icun ingin mengembangkan dan memaksimalkan kemampuan orang-orang yang bernasib sama dengannya. Pak Icun juga bukan seorang guru yang sempurna. Ia juga merupakan penderita tuna netra. Tapi, itulah yang menjadi keiinginannya. Ia ingin menunjukkan kepada semua orang bahwa ia juga mampu menjalani profesi tersebut. Ia juga suka meenjalankan profesi ini dan profesi menjadi guru sangat mudah dilaksanakan.
Ia sudah menjadi guru sejak tahun 2000. Diangkat menjadi guru pun ia juga sudah dalam keadaan tuna netra. Saat ini ia tercatat sebagai guru pada SLBN 2 Padang.
Menurutnya, pada konsepnya pelajaran yang diajarkan sama dengan siswa normal. Hanya saja butuh penyesuaian dengan materi kebutuhan masing-masing anak. Selaiun itu, ada keterampilan khusus yang diajarkan pada masing-masing kelainan. Contohnya BPBI (Bina Persepsi Bunyi dan Irama) untuk tuna rungu. Pada pengajaran tersebut konsepnya adalah pelayanan individual. Masing-masing anak berbeda kebutuhannya.
Kesulitan yang ditempuhnya saat mengajar memang pernah ditemuain Pak Icun. Menurutnya, seringkali mereka sangat lambat menerima hasil pendididikan, terutama pendidikan ketermpilan. Disitulah peran guru, bagaimana bisa menyesuaikan dengan kondisi yang ada dan bisa meembimbing mereka.
Menanggapi anak-anak yang memiliki kemampuan luar biasa, Pak Icun pun angkat bicara. Menurutnya hal itu bisa saja terjadi. Itu merupakan sebuah talenta. Talented atau intelektual mereka ada yang tidak tergannggu apalagi dibidang seni dan olahraga. Itu nmerupakan bakat khusus, kalau bisa dimaksimalkan dan ditingkatkan.
Pak Icun juga berharap, agar lingkungan dan orang disekitar mereka juga dapat mengerti akan keberadaan mereka dan bisa menghargai mereka. Pada umumnya, harkatnya juga sama dengan yang lainnya. Lingkungan juga harus mengerti karateristik gangguan mereka, terutama lingkungan keluaraga. Ada orangtua yang memaksakan anaknya bersekolah di sekolah umum, bahkan ada orangtua yang malu dengan kondisi anaknya, walaupun tidak semua orangtua seperti itu. “Harusnya mereka disekolah pada sekolah yang layak, karena mereka juga butuh pendidikan. Pendidikan seperti ini juga sangat penting. Keberadaan pendidikan ini sangat mendukung karena mendidik dan mengisi kebutuhan mereka yang mempunyai keterbatasan,” ujar Pak Icun. (Fresti Aldi)






Komentar»
No comments yet — be the first.