Menjadi Duta Tak Hanya Peduli Mei 26, 2009
Posted by frestialdi in Telah Terbit.1 comment so far
MENJADI DUTA TAK HANYA PEDULI
(Laporan: Risha Ramadhani Putri/ SMA Adabiah, Haibati Arizona/ SMAN 1 Padang, Desyana Putri, SMAN 16 Padang, Fefri Zahilatul/ SMAN 10 Padang, Rahayu Susanti, SMAN 14 Padang)
Belakangan, banyak muncul berbagai pemilihan duta. Pemilihan ini muncul dengan alasan untuk menyaring generasi muda, mulai dari mahasiswa pelajar serta artis sekaligus. Tujuannya tak lain adalah untuk ikut mengkampanyekan berbagai hal, yang mereka sandang dari duta mereka.
Pemilihan ini juga telah menjalar ke sekolah-sekolah. Diantaranya banyak sekolah-sekolah yang mengadakan pemilihan-pemilihan serupa dengan berbagai tema dan nama yang berbeda. Mulai dari duta pelajar, duta sekolah, atau juga mungkin pemilihan king dan queen di kelas.
Sebahagian pihak, menyambut baik kegiatan ini. Alasnnya tentu saja memberikan dampak positif terhadap generasi muda, atau mungkin pelajar untuk dapat memaksimalkan kemampuan serta peran mereka untuk mengajak rekan-rekannya semata untuk peduli dengan sesuatu hal dan menjadi contoh bagi sesama generasi muda.
Sebahagian lagi menilai kegiatan ini tidak ada gunanya, hanya semata show off atau sekedar pamer-pamer saja. Menurut sebahagian ini pemilihan-pemilihan seperti ini hanya buang-buang waktu saja. Apakah benar demikian? Bagaimana pandangan teman-teman pelajar kita? Ayo kita cari tahu.
Nah, berbicara duta-dutaan seperti ini, apa saja yang diketahui teman-teman kita ini. Lebih tepatnya, menurut teman-teman kita ini, duta itu seperti apa?
Meranthi Shorea Firdausya, pelajar SMAN 1 Padang ini berpendapat kalau seorang duta itu adalah seseorang yang tanpa pamrih berusaha untuk mengkampanyekan atau mengajak orang lain atas yang didutakan kepadanya.
Sedangkan Ruri, dari SMA Adabiah melihat kalau seorang duta itu adalah seorang yang ditunjuk untuk mewakili sesuatu. Pendapat ini sama persis dengan yang diucapkan oleh Sandra dari SMAN 7 Padang.
Dari SMAN 16, Elza Putri Rizal juga ikut berpartisipasi mengeluarkan pendapatnya. Menuruutnya seorang duta adalah seseorang yang dipilih untuk menjalani tugas-tugas tertentu yang berhubungan dengan sesuatu dan mengajak masyarakat untuk berbuat yang perlu untuk dirinya dan bumi kita.
Masih dari SMAN 16 Padang, Ningsih Putri Hardiansyah menilai kalau seorang duta untuk akan menjalankan sesuatu yang berguna bagi masyarakat. Suri Emilia dari SMAN 1 Padang melihat kalau duta itu adalah perwakilan dari sebuah program.
Mungkin tak asing lagi, berbagai banyak pemilihan atau duta yang ada. Duta-duta apa saja yang diketahui teman-teman kita ini?
“Duta sekolah,” sebut Arijal Mustakim, pelajar SMAN 14 Padang
“Duta, Duta HIV Aids, Duta lingkunga,” tambah Ningsih
“Duta Anti Global Warming,” jawab Elza menimpali.
“Duta Anti Narkoba juga ada,” celetuk David Sudasri, dari SMAN 14 Padang.
“Duta Lingkungan sehat,” Amanda Yasmin ikut berkomentar.
“Duta anti korupsi, duta tinju, duta pariwisata, duta anak,” ucap Amelina.
“Duta buah-buahan, duta tumbuh-tumbuhan, duta fauna, duta rokok, duta susu dan banyak lagi,” Ucap Meranthi. Memang ada yah? Ada-ada saja.
Tapi, dengan banyaknya duta, tidak semua orang juga mendapat kesempatan untuk menjadi duta. Hanya orang-orang tertentu saja yang bisa menjadi duta, maksudnya yang mempunyai kriteria-kriteria tertentu saja. Kira-kira kriteria tersebut apa-apa saja yah?
Sandra mengusulkan, untuk menjadi duta adalah orang yangnya harus cerdas dan luwes. Suri menambahkan, disamping cerdas, seorang duta juga harus mengerti dengan orang-orang sekitar dan bisa mengaspirasikan pendapatnya.
Amelina Dwita Hardi, dari SMAN 1 Padang menilai seorang duta itu harus memiliki wawasan yang luas yang sesuai dengan dutanya, pandai berbicara dan aktif.. Hmm, boleh juga tuh. Arijal menambahkan, seorang duta juga harus bersahabat dengan orang dis ekitarnya, serta pintar dalam berinteraksi.
Meranthi juga memberikan satu tambahan lain selain yang disulkan oleh teman-temannya ini. Ia menilai seorang yang akan menjadi duta itu juga harus memiliki daya tarik untuk mensosialisasikan programnya keluar. “Selain itu juga harus bisa memberikan motivasi,” lanjut Elza.
“Yang penting bisa jadi teladan yang baik,” ucap Rina Wahyuni dari SMAN 16 Padang
Mungkin banyak sekali kriteria atau sifat yang dimiliki oleh seseorang yang akan menjadi duta. Tentu saja dengan banyaknya sifat yang dimliki ia mampu menjalankan tugasnya dengan baik. Tapi seperti apa saja tugas para duta ini, apa hanya sekedar mengkampanyekan sesuatu saja?
“Tidak,” jawab Amelina. Menurutnya tugas para duta itu juga memberikan penyuluhan dan pembinaan kepada orang-orang disekitarnya. “Kalau duta lingkungan tugasnya melidungi lingkungan disekitar kita, kalau duta pariwisata tugasnya memperkenalkan daerah pariwisata, dan kalau duta daerah tugasnya memperkenalkan daerah-daerah terisolir,” terang Ruri sambil senyum-senyum.
“Mencontohkan pada masyarakat tentang bidang yang disandangnya,” jawab David.
Lantas, apakah pemilihan duta-duta seperti ini bermanfaat dimata para pelajar? Apa saja Manfaatnya?”
Menurut Arijal tugas seorang duta itu mengajak seseorang menuju kebaikan. Sedangkan David melihat kalau seorang duta itu adalah tempat bertanya bagi orang lain, dengan bekal ilmu yang dimilikinya. sedangkan menurut Meranthi, pemilihan ini akan menambahkan wawasan. Amanda Yasmin melihat para duta itu akan memberikan informasi kepada kita.
Tapi Suri, pelajar yang suka browsing ini menilai kalau pemilihan-pemilihan seperti itu tidak terlalu berpengaruh dan kurang bermanfaat. Menurutnya, mungkin bagi sebahagian orang kinerjanya sudah bagus, tapi menurutnya bagi sebahagian oranng lagi tidak kinerjanya kurang bagus.
Hal yang sama dilontarkan Meranthi, kendati pun ia menilai pemilihan semacam ini bermanfaat, tapi ia melihat kalau kinerja para duta ini kurang bagus karena belum terlihat program yang dijalankannya. Pendapat ini dianggukkan Ruri dan Elza, sedangkan David malah berkemontar. “Lumayan.”. Sedangkan menurut Sandra, Ningsih, dan Amelina kinerja para duta ini sudah bagus. “Apalagi pemerintah giat memilih berbagai duta,” tambahnya
Jika menjadi duta
Dengan pengetahuan yang dimiliki, setiap orang buisa saja menjadi duta. aSal cakap dalam segi apappun dan bisa mensosialisasikan dirinya, bukan sekedar unjuk tampang saja. Banyak pilihan yang akan disosilisasikan, tergantung dengan bidang yang akan digelutinya dan disukainya. Jika teman-teman kita ini diberi kesempatan untuk menjadi duta, duata apa yang mereka pillih, alasannya dan apa yang akan mereka perbuat dengan menjadi duta.
Amelina akan memilih menjadi duta anti narkoba dan HIV AIDS, menurutnya hal tersebut merupakan hal yang penting dan urgent. Lantas Amelina akan melakukan sosialisi cara penuluran dan akibat dari penggunaan tersebut. Sama halnya dengan Amelina Elza juga ingin menjadi duta HIV Aids. “Supaya orang lebih waspada lagi,” tuturnya. Sedangkan alasan David menjadi duta anti Narkoba supaya bisa membantu orang dan juga mendapat pahala, heheh.
Meranthi memilih menyelamatkan bumi dari pemanasan global karena pemanasan global dampaknnya sangat nyata. Selain itu ia akan menyampaikan tujuan dari adanya duta tersebut, selain itu tentunya Meranthi juga akan mensosilisasikan dan mengaplikasikannya sesuai dengan program yang telah ada. Ini juga yang ingin dilakukan oleh Arijal, menurutnya banyak yang harus diatasi lagi terutama masalah asap kendaraan dan asap pabrik.
Ruri akan memperkenalkan daerah indonesia yang sangat indah ini kepada orang-orang karena ia ingin menjadi duta daerah. “Agar kita tahu bahwa daerah kita sangat bagus,” sebut nya. Sedangkan Sandra ingin menjadi duta negara, “seperti diplomat gitu”.
Rina Wahyunni, ingin suatu saat indonesia maju. Ia ingin menjadi duta Indonesia dan memajukan indonesia dalam hal apapun. Ningsih mungkin akan menjadi duta lingkkungan hidup. Menurutnya duta lingkungan hidup ini sangat erat hubungannya dengan kehidupan manusia.
Sesuai dengan cita-citanya, Suri ingin peduli terhadap kesehatan, walaupun tidak menjadi duta Suri tetap akan berusaha peduli dengan kesehatan. Mungkin tepatnya menjadi dokter kali yah?
Benar sekali, menjadi duta atau tidak kita harus tetap peduli dengan sekitar. Jangan hanya saat menjadi duta saja kita baru akan melakakukan sesuatu yang bermanfaat. Tapi tentunya setelah atau sebelum atau bahkan tidak menjadi menjadi duta kita bisa peduli dengan lingkungan, peduli dengan penderita HIV aids, melakukan berbagai upaya untuk menyelamatkan bumi dari pemanasan global mengenalkan keindahan Indonesia kepada dunia. Selain itu, untuk mereka yang terpilih menjadi duta, tetap melakukan hal-hal yang bermanfaat bagi banyak orang. Yang terpenting menjadi duta tak hanya peduli, tapi juga bisa mengaplikasikannya dan melakukan hal-hal yang berguna. (Fresti Aldi)
Cerita yang Tertinggal setelah Pemilu Mei 16, 2009
Posted by frestialdi in Artikel untuk mereka.add a comment
Bincang-Bincang P’mails
Cerita yang Tertinggal Setelah Pemilu
Pemilu legislatif sudah digelar pada 9 April lalu. Berbagai hasil sudah diketahui. Penghitungan suara pun sudah akan rampung. Kendati pun begitu, banyak cerita yang tertinggal sehabis pemilu April lalu.
Bincang-bincang P’mails bulan ini (4/05) mencoba bercerita tentang cerita yang tertingal dibalik pemilu ini. Pukul 14.30 Wib, enam belas pelajar akan memberi pengetahuannya seputar pemilu bagi mereka, yang bertempat di Carano Room, Padang Ekpress, di moderatori oleh Fresti Aldi, inilah hasil diskusinya.
Awal diskusi, Kemal Anshari Elmizan dari SMAN 10 Padang mendapat cerita seputar pemilu, Kemal mendapat cerita tentang amburadulnya masalah DPT (Daftar Pemilih Tetap). “Banyak yang sudah cukup umur tapi tidak bisa memilih dikarenakan tidak mendapat undangan,” cerita Kemal.
Begitu juga dengan Arif Vandi, SMAN 5 Padang, ia juga mendapat cerita yang sama mengenai permasalahan DPT yang amburadul. Namun, di sela-sela cerita para pelajar itu megenai ketidakpuasan masalah distribusi DPT, Aditya Arief Cahyo malah berkomentar kalau di dekat rumahnya lancar-lancar saja, tidak ada masalah dengan DPT. Mneurut Adit hal itu tergantung dari lurah dan RT masing-masing.
Tika Septia Wahyuni yang juga merupakan pelajar dari SMAN 5 padang menilai kasus-kasus itu meliputi ada nama yang ganda. Ada juga pemilih yang sudah meninggal masih saja ada kartu pemilihnya. Lebih tragisnya Tika menilai kartu pemilih yang sudah meninggal itu malah disalahgunakan. “Maka terjadilah permainan politik,” cetus cewek ini.
Semua pelajar pada hari itu sepakat menyatakan kalau pada pemilu lalu, DPT bermasalah. Meninggalkan masalah DPT, bincang-bincang ini berlanjut membahas masalah sistem pemilu yang tahun ini cukup berbeda yakni memakai sistem Contreng atau centang. Seberapa efektifkah pertukaran sistem memilih ini?
Maulana Ichsan G dari SMAN 10 Padang melihat bahwa tujuan KPU (Komisi Pemilihan Umum) merubah sistem memilih ini untuk mengurangi ketidaksahan suara. “Sebab jika mencoblos, kertas yang lebar tidak sepenuhnya dibuka oleh pemilih, akibatnya timbal balik yang tercoblos,” ucap Icshan.
Rahmat Fauren dari SMAN 5 Padang menilai bahwa pertukaran ini adalah suatu upaya bagaimana KPU bisa menetapkan suatu cara yang memudahkan masyarakat untuk memilih. “Mencontreng atau tidak itu tak masalah, yang penting masyarakat tahu dengan sistem tersebut dan KPU bisa sukses mensosialisasikannya. Masih banyak masyarakat yang bingung akibat kurangnya sosialisasi tesebut,” sebut cowok ini.
Selain masalah sistem pemilu, diskusi hari itu juga membahas tentang banyaknya partai yang menjadi peserta pemilu kali ini. Bagaimana pendapat para pelajar tentang banyaknya partai ini, sedangkan Amerika Serikat saja hanya mempunyai dua partai saja.
Redho Aulia Zandra mencoba memberikan penjelasannya tentang banyaknya partai ini. “Indonesia tidak bisa disandingkan dengan Amerika Serikat. Indonesia baru sepuluh tahun menjalani demokrasi, Indonesia menganut sistem politik terbuka. Selama ini partai politik hanya tersentralisasi, namun pada pemilu kali ini ada empat partai politik lokal di Aceh, itu merupakan hal yang baik,” tuturnya.
Selain itu kenyataan yang ada, banyak partai politik yang suaranya tidak mencapai satu persen. Banyak partai yang akhirnya melakukan koalisi-koalisi dengan partai yang memperoleh suara diatas satu persen.
Menurut Kemal, sejumlah partai itubanyak yang tak bisa bergabung karena perbedaan ideologi. Ia mengusulkan lebih baik banyak partai. Rahmat Fauren juga sepertinya sependapat. Menurutnya jumlah partai tidak usah dibatasi. Ia menilai kalau seandainya partai-partai tersebut digabungkan akan terjadi perbedaan secara interen.
Pendapat ini langsung dibantah oleh Puan Adria Ikshan dari SMAN 10 Padang. Ia setuju degan adanya pembatasan partai karena masyarakat akan lebih mudah menentukan pilihan mereka. “Itu akan membuat negara kita kan semakin mundur, banyaknya partai berarti banyaknya biaya yang akan dikeluarkan. Itu akan membuat perpecahan,” jelas Puan.
Pada sesi ini. Terjadi sedikit perdebatan. Tika membela rekannya, Rahmat Fauren. Ia setuju jika tidak dibatasi. “Berarti kita membuat bangsa Indonesia takut mengeluarkan pendapat,” tuturnya. Redho juga membela rekannya puan. Ia sepakat jika dibatasi. Menururnya partai yang banyak tidak akan efesien. Ia juga menambahkan bahwa kenyataannya banyak parpol yang kurang memikirkan kwalitas dan kwantitas. Pendapat yang sama juga datang dari Arif. Ia menilai banyak partai yang mempunyai ideologi yang sama, tapi mengapa tidak disatukan saja.
Rahmat Fauren tetap pada prinsipnya. Menurutnya jika dibatasi berarti telah melanggar Pasal 28 yaitu hak untuk berkumpul. “Bagaimana masyarakat bisa mengenal partai tersebut,” tuturnya. Pendapat Rahmat Fauren juga diamini oleh Indah Citra Mawaddah.
Namun, Tika mencoba menengahi perdebatan ini. “Disini dituntut peran KPU agar bisa menyeleksi partai dengan benar, dengan melakukan verivikasi. Jika tak ada verivikasi bmungkin akan lahir banyak partai, untuk KPU, agar lebih betul-betul menyaring partai,” jelasnya.
Yang menarik pada pemilu kali ini juga masalah suara Partai Demokrat yang mencapai 20 persen lebih. Para pelajar ini juga memberikan komentarnya.
“Kemengan tersebut karena figur yang ada dibalik Partai Demokrat. Banyak masyarakat yang menganggap kepemimpinan SBY yang baik, sehingga mereka juga menggangap kalau caleg-caleg dari Demokrat juga begitu,”terang Tika. Itu juga diakui Redho. Menurutnya SBY sudah nyolong start dengan menerbitkan buku sebelum kampanye. Selain itu menurut Redo kuatnya barisan Demokrat juga salah satu faktor penentu kemenangan Demokrat. Arif Vandi juga melihat kalau Demokrat memiliki finansial yang bagus untuk mendukung kampanye. Redho menambahkan lagi jika faktor kemangan ini juga karena strategi kampanye, taktik kampanye juga kan menentukan.
“Demokrat Indonesia menyadur gaya kampanye Demokrat Amerika Serikat. Dengan mengumpulkan masa dan berdiri di dalam lingkaran kerumunan masa. Sama apa yang dilakukan dengan Obama,” jelas Redho.
Willy Adrian juga berkomentar tentang gaya kampanye masing-masing partai. Menurutnya, kampanye sejumlah partai banyak yang tidak mendidik. “Seharusnya tidak dengan mendatangkan artis, mungkin bisa dengan membagikan buku atau bazaar buku,” tambah Arif.
Luar biasa, walaupun rata-rata mereka banyak yang belum ikut memilih, tapi mereka sangat sangat peduli dengan pemilihan umum yang ada. Bahkan mereka juga menggantungkan sejuta harapan pada pemilu pendatang, termasuk pa pemilihan presiden Juli mendatang.
Arif Vandi berharap agar KPU bersama elemen-elemen yang terkait bisa evaluasi dari pemilu sebelumnya. Ia berharap tak ada lagi logistik yang bermasalah dan yang paling terpenting baginya adalah tidak ada lagi masyarakat yang golput. Sementara itu, Ridho kecewa dengan KPU. Tapi dibalik kekecewaannnya ia berharap agar pada pemilu presiden mendatang berjalan dengan lancar dan KPU bisa lebih baik.
Pemilu yang diidamkan?
Kendatipun pemilu legislatif lalu banyak meninggalkan masalah. Namun, tentu saja sebagai warga negara kita ingin yang lebih baik. Ingin agar pemilu yang mendatang berjalan dengan lancar, lantas pemilu apakah yang diinginkan teman-teman kita ini?
Indah Citra Mawaddah membuka mulut untuk pertama kalinya. Ia berharap agar setelah pemilu selesai pemimpin bisa mengerti masyarakatnya, pemimpin yang diharapkan semua orang. Ia juga berharap kalau yang memilih tidak mesti berumur 17 tahun saja, tapi semua pelajar yang sudah duduk di bangku SMA harus juga ikut memilih. “tidak harus menunggu 17 tahun, sebab anak SMA juga punya hak,” tegasnya.
Arif Vandi mencoba memberikan usulnya utuk pemilu mendatang. Ia menginginkan pemilu On line. Menurutnya menggunakan sistem tersebut akan menghemat dan mempermudah. Tapi, sayangnya teman-temanya meragukan hal itu. Rahmat Fauren menilai biaya akan lebih mahal dengan penyediaan komputer pada setiap TPS. Sedangkan dengan logistik sekarang, menurut Fauren sudah mahal, apalagi dengan sistem yang diusulkan Arif.
Ditengah kepesimisan teman-temannya, Arif berusaha untuk terus menyakini teman-temannya. Ia menilai dengan sekali klik akan mempermudah pemilih. Ia mengusulkan penggunaan sistem komputerisasi tersebut bisa bekerja sama dengan warnet, tidakl harus satu TPS satu komputer atau lebih. “Apalagi banyak yang ahli komputer banyak,” jelasnya.
Lagi banyak yang meragukan usul Arif. Fauren lagi-lagi menolak. Ia yakin itu akan memakan biaya yang mahal, apalagi tidak semua daerah bisa dialiri listrik. Dengan begitu, menurutnya akan memakan biaya yang banyak. Ditengah-tengah keseriusan itu Wiily berceletuk. “Kalau begitu kenapa tidak pakai sms saja, biar saya yang akan menyumbangkan pulsanya,” candanya.
Arif tetap yakin dengan caranya agar lebih baik. “kan tidak mesti Juli mendatang. Bisa lima tahun lagi, sepuluh tahun lagi atau beberapa tahun lagi,” harapnya. Semua teman-teman pun paham dengan ide Arif, kecuali Fauren. Sebelum akhirnya memanas dan tak akan kelar, moderator pun menengahi perdebatan itu.
Akhirnya diskusi selesai, P’mails mengucapkan terima kasih banyak kepada teman-teman yang sudah bersedia datang, sampai ketemu pada diskusi bulan depan. Semoga pemilu mendatang berjalan dengan lancar. (Fresti Aldi dan Borry Fonanda, SMAN 10 Padang)





