Cerita yang Tertinggal setelah Pemilu

Bincang-Bincang P’mails

Cerita yang Tertinggal Setelah Pemilu

Pemilu legislatif sudah digelar pada 9 April lalu. Berbagai hasil sudah diketahui. Penghitungan suara pun sudah akan rampung. Kendati pun begitu, banyak cerita yang tertinggal sehabis pemilu April lalu.

Bincang-bincang P’mails bulan ini (4/05) mencoba bercerita tentang cerita yang tertingal dibalik pemilu ini. Pukul 14.30 Wib, enam belas pelajar akan memberi pengetahuannya seputar pemilu bagi mereka, yang bertempat di Carano Room, Padang Ekpress, di moderatori oleh Fresti Aldi, inilah hasil diskusinya.

Awal diskusi, Kemal Anshari Elmizan dari SMAN 10 Padang mendapat cerita seputar pemilu, Kemal mendapat cerita tentang amburadulnya masalah DPT (Daftar Pemilih Tetap). “Banyak yang sudah cukup umur tapi tidak bisa memilih dikarenakan tidak mendapat undangan,” cerita Kemal.

Begitu juga dengan Arif Vandi, SMAN 5 Padang, ia juga mendapat cerita yang sama mengenai permasalahan DPT yang amburadul. Namun, di sela-sela cerita para pelajar itu megenai ketidakpuasan masalah distribusi DPT, Aditya Arief Cahyo malah berkomentar kalau di dekat rumahnya lancar-lancar saja, tidak ada masalah dengan DPT. Mneurut Adit hal itu tergantung dari lurah dan RT masing-masing.

Tika Septia Wahyuni yang juga merupakan pelajar dari SMAN 5 padang menilai kasus-kasus itu meliputi ada nama yang ganda. Ada juga pemilih yang sudah meninggal masih saja ada kartu pemilihnya. Lebih tragisnya Tika menilai kartu pemilih yang sudah meninggal itu malah disalahgunakan. “Maka terjadilah permainan politik,” cetus cewek ini.

Semua pelajar pada hari itu sepakat menyatakan kalau pada pemilu lalu, DPT bermasalah. Meninggalkan masalah DPT, bincang-bincang ini berlanjut membahas masalah sistem pemilu yang tahun ini cukup berbeda yakni memakai sistem Contreng atau centang. Seberapa efektifkah pertukaran sistem memilih ini?

Maulana Ichsan G dari SMAN 10 Padang melihat bahwa tujuan KPU (Komisi Pemilihan Umum) merubah sistem memilih ini untuk mengurangi ketidaksahan suara. “Sebab jika mencoblos, kertas yang lebar tidak sepenuhnya dibuka oleh pemilih, akibatnya timbal balik yang tercoblos,” ucap Icshan.

Rahmat Fauren dari SMAN 5 Padang menilai bahwa pertukaran ini adalah suatu upaya bagaimana KPU bisa menetapkan suatu cara yang memudahkan masyarakat untuk memilih. “Mencontreng atau tidak itu tak masalah, yang penting masyarakat tahu dengan sistem tersebut dan KPU bisa sukses mensosialisasikannya. Masih banyak masyarakat yang bingung akibat kurangnya sosialisasi tesebut,” sebut cowok ini.

Selain masalah sistem pemilu, diskusi hari itu juga membahas tentang banyaknya partai yang menjadi peserta pemilu kali ini. Bagaimana pendapat para pelajar tentang banyaknya partai ini, sedangkan Amerika Serikat saja hanya mempunyai dua partai saja.

Redho Aulia Zandra mencoba memberikan penjelasannya tentang banyaknya partai ini. “Indonesia tidak bisa disandingkan dengan Amerika Serikat. Indonesia baru sepuluh tahun menjalani demokrasi, Indonesia menganut sistem politik terbuka. Selama ini partai politik hanya tersentralisasi, namun pada pemilu kali ini ada empat partai politik lokal di Aceh, itu merupakan hal yang baik,” tuturnya.

Selain itu kenyataan yang ada, banyak partai politik yang suaranya tidak mencapai satu persen. Banyak partai yang akhirnya melakukan koalisi-koalisi dengan partai yang memperoleh suara diatas satu persen.

Menurut Kemal, sejumlah partai itubanyak yang tak bisa bergabung karena perbedaan ideologi. Ia mengusulkan lebih baik banyak partai. Rahmat Fauren juga sepertinya sependapat. Menurutnya jumlah partai tidak usah dibatasi. Ia  menilai kalau seandainya partai-partai tersebut digabungkan akan terjadi perbedaan secara interen.

Pendapat ini langsung dibantah oleh Puan Adria Ikshan dari SMAN 10 Padang. Ia setuju degan adanya pembatasan partai karena masyarakat akan lebih mudah menentukan pilihan mereka. “Itu akan membuat negara kita kan semakin mundur, banyaknya partai berarti banyaknya biaya yang akan dikeluarkan. Itu akan membuat perpecahan,” jelas Puan.

Pada sesi ini. Terjadi sedikit perdebatan. Tika membela rekannya, Rahmat Fauren. Ia setuju jika tidak dibatasi. “Berarti kita membuat bangsa Indonesia takut mengeluarkan pendapat,” tuturnya. Redho juga membela rekannya puan. Ia sepakat jika dibatasi. Menururnya partai yang banyak tidak akan efesien. Ia juga menambahkan bahwa kenyataannya banyak parpol yang kurang memikirkan kwalitas dan kwantitas. Pendapat yang sama juga datang dari Arif. Ia menilai banyak partai yang mempunyai ideologi yang sama, tapi mengapa tidak disatukan saja.

Rahmat Fauren tetap pada prinsipnya. Menurutnya jika dibatasi berarti telah melanggar Pasal 28 yaitu hak untuk berkumpul. “Bagaimana masyarakat bisa mengenal partai tersebut,” tuturnya. Pendapat Rahmat Fauren juga diamini oleh Indah Citra Mawaddah.

Namun, Tika mencoba menengahi perdebatan ini. “Disini dituntut peran KPU agar bisa menyeleksi partai dengan benar, dengan melakukan verivikasi. Jika tak ada verivikasi bmungkin akan lahir banyak partai, untuk KPU, agar lebih betul-betul menyaring partai,” jelasnya.

Yang menarik pada pemilu kali ini juga masalah suara Partai Demokrat yang mencapai 20 persen lebih. Para pelajar ini juga memberikan komentarnya.

“Kemengan tersebut karena figur yang ada dibalik Partai Demokrat. Banyak masyarakat yang menganggap kepemimpinan SBY yang baik, sehingga mereka juga menggangap kalau caleg-caleg dari Demokrat juga begitu,”terang Tika. Itu juga diakui Redho. Menurutnya SBY sudah nyolong start dengan menerbitkan buku sebelum kampanye. Selain itu menurut Redo kuatnya barisan Demokrat juga salah satu faktor penentu kemenangan Demokrat.  Arif Vandi juga melihat kalau Demokrat memiliki finansial yang bagus untuk mendukung kampanye. Redho menambahkan lagi jika faktor kemangan ini juga karena strategi kampanye, taktik kampanye juga kan menentukan.

“Demokrat Indonesia menyadur gaya kampanye Demokrat Amerika Serikat. Dengan mengumpulkan masa dan berdiri di dalam lingkaran kerumunan masa. Sama apa yang dilakukan dengan Obama,” jelas Redho.

Willy Adrian juga berkomentar tentang gaya kampanye masing-masing partai. Menurutnya, kampanye sejumlah partai banyak yang tidak mendidik. “Seharusnya tidak dengan mendatangkan artis, mungkin bisa dengan membagikan buku atau bazaar buku,” tambah Arif.

Luar biasa, walaupun rata-rata mereka banyak yang belum ikut memilih, tapi mereka sangat sangat peduli dengan pemilihan umum yang ada. Bahkan mereka juga menggantungkan sejuta harapan pada pemilu pendatang, termasuk pa pemilihan presiden Juli mendatang.

Arif Vandi berharap agar KPU bersama elemen-elemen yang terkait bisa evaluasi dari pemilu sebelumnya. Ia berharap tak ada lagi logistik yang bermasalah dan yang paling terpenting baginya adalah tidak ada lagi masyarakat yang golput. Sementara itu, Ridho kecewa dengan KPU. Tapi dibalik kekecewaannnya ia berharap agar pada pemilu presiden mendatang berjalan dengan lancar dan KPU bisa lebih baik.

Pemilu yang diidamkan?

Kendatipun pemilu legislatif lalu banyak meninggalkan masalah. Namun, tentu saja sebagai warga negara kita ingin yang lebih baik. Ingin agar pemilu yang mendatang berjalan dengan lancar, lantas pemilu apakah yang diinginkan teman-teman kita ini?

Indah Citra Mawaddah membuka mulut untuk pertama kalinya. Ia berharap agar setelah pemilu selesai pemimpin bisa mengerti masyarakatnya, pemimpin yang diharapkan semua orang. Ia juga berharap kalau yang memilih tidak mesti berumur 17 tahun saja, tapi semua pelajar yang sudah duduk di bangku SMA harus juga ikut memilih. “tidak harus menunggu 17 tahun, sebab anak SMA juga punya hak,” tegasnya.

Arif Vandi mencoba memberikan usulnya utuk pemilu mendatang. Ia menginginkan pemilu On line. Menurutnya menggunakan sistem tersebut akan menghemat dan mempermudah. Tapi, sayangnya teman-temanya meragukan hal itu. Rahmat Fauren menilai biaya akan lebih mahal dengan penyediaan komputer pada setiap TPS. Sedangkan dengan logistik sekarang, menurut Fauren sudah mahal, apalagi dengan sistem yang diusulkan Arif.

Ditengah kepesimisan teman-temannya, Arif berusaha untuk terus menyakini teman-temannya. Ia menilai dengan sekali klik akan mempermudah pemilih. Ia mengusulkan penggunaan sistem komputerisasi tersebut bisa bekerja sama dengan warnet, tidakl harus satu TPS satu komputer atau lebih. “Apalagi banyak yang ahli komputer banyak,” jelasnya.

Lagi banyak yang meragukan usul Arif. Fauren lagi-lagi menolak. Ia yakin itu akan memakan biaya yang mahal, apalagi tidak semua daerah bisa dialiri listrik. Dengan begitu, menurutnya akan memakan biaya yang banyak.  Ditengah-tengah keseriusan itu Wiily berceletuk. “Kalau begitu kenapa tidak pakai sms saja, biar saya yang akan menyumbangkan pulsanya,” candanya.

Arif tetap yakin dengan caranya agar lebih baik. “kan tidak mesti Juli mendatang.  Bisa lima tahun lagi, sepuluh tahun lagi atau beberapa tahun lagi,” harapnya. Semua teman-teman pun paham dengan ide Arif, kecuali Fauren. Sebelum akhirnya memanas dan tak akan kelar, moderator pun menengahi perdebatan itu.

Akhirnya diskusi selesai, P’mails mengucapkan terima kasih banyak kepada teman-teman yang sudah bersedia datang, sampai ketemu pada diskusi bulan depan. Semoga pemilu mendatang berjalan dengan lancar. (Fresti Aldi dan Borry Fonanda, SMAN 10 Padang)

Tentang frestialdi

TercipTa dengan nama Fresti Aldi. Bukan nama minuman. Hanya saja mempunyai sedikit kemiripin. Entah siapa yang awalnya yang miliki nama tersebut. Yang jelas sampai sekarang enjoy aja dengan nama tersebut. Bahkan, nama tersebut juga memudahkan orang-orang untuk ingat dengan seorang Fresti Aldi. Selalu ingin menjadi yang terbaik buat orang lain. Selalu berpenempilan ceria walaupun dalam diri ada suatu masalah. Masalah itu akan akan besar kalau kita membesarkan masalah tersebut. Jangan pernah berharap sesuatu terjadi kalau kita tidak melakukan sesuatu, itulah prinsip hidup. Selalu tersenyum. Smile for All. With smile we can to be a good people. Don't worry. I can give my smile for you, for you and for you. Terakhir, selalu menggangap orang lain sama dengan kita. Jangan merasa hebat, tapi jangan juga merasa bodoh. Hargailah sebuah kelemahan. bye..
Tulisan ini dipublikasikan di Catatan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s