jump to navigation

Hidup dalam Ramalan Agustus 29, 2009

Posted by frestialdi in Artikel untuk mereka.
add a comment

Seorang teman saya datang membawa sebuah majalah remaja ke kelas. Sementara itu,  teman yang lainnya juga bermaksud meminjam majalah tersebut. Banyak juga yang mengantri meminjam majalah tersebut, termasuk saya, saya juga ingin membacanya. Tapi, siapa cepat dia dapat, begitulah kata yang punya majalah.

Seorang teman saya mendapat kesempatan meminjamnya lebih dulu. Majalah tersebut dibolak-baliknya hingga mendapatkan halaman yang diinginkannya. Saya yang tak jauh dari tempatnya juga ikut membolak-balik mata mengikuti arah buku yang dibaliknya. Sampailah pada akhirnya pada halaman yang diinginkannya. Saya hanya mengikut saja padanya, karena dia duluan meminjam, jadi mau tak mau saya harus ikut membaca apa yang dibacanya.

Ia membaca sebuah halaman horoskop atau yang lebih populer dikenal dengan nama zodiak. Ia tampak asyik sekali membaca kata demi kata yang ada pada horoskop yang ia miliki sesuai dengan angka kelahiran. Setelah membacanya, ia senyum-senyum sendiri dan tertawa sendiri lalu berlalu meninggalkan majalah itu dan meninggalkan tanda tanya saya, ada apa dengan teman saya ini? Apa dia, akh, tidak mungkin dia tidak waras, dia kan termasuk teman yang pintar di kelas saya.

Saya mendapatkan hal yang sama setiap kali teman yang lain membacanya. Sama seperti teman yang tadi, ia hanya membuka satu halaman, yaitu halaman horoskop. Tapi kejadiannya tak terlalu aneh seperti teman yang pertama tadi, senyum-senyum dan tertawa sendiri setelah membaca kata demi kata, sugesti demi sugesti yang ada.

Ternyata banyak teman saya yang terlalu percaya pada sebuah horoskop. Mereka malah menganggapnya sebagai sesuatu yang benar. Malahan, ada juga yang mengangapnya sebagai sesuatu yang menjadi pijakannya dalam melakukan berbagai hal, tak hanya  masalah percintaan saja tentunya, termasuk masalah keuangan, kesehatan dan lainnya. Kita ternyata terlalu hidup dalam sebuah pengaturan hidup, pengaturan dalam 12 sifat dan karakter. Benarkah, dari jutaan penduduk dunia ini, hanya ada 12 orang yang mempunyai karakter atau sifat yang sama dalam satu hari, atau mungkin satu minggu dan satu bulan.

Sebenarnya, saya juga bukan orang yang anti pada ramalan. Saya membacanya, tapi tidak menjadikannya pandangan hidup ke depan, menjadikannya sebuah tempat untuk mempertaruhkan nasib, mengikuti apa yang yang dikatakannya. Saya membacanya hanya sekedar ingin mengetahui semata, melihat-lihat adakah yang benar ramalannya? Atau sama sekali tak benar?

Menyingung benar tak benarnya semua ramalan, rasanya ada satu hal yang salah pada diri kita selama ini. Kita hanya melihat suatu ramalan hanya dari kebenarannya saja dan mencoba menghubung-hubungkan dengan apa yang terjadi dengan diri kita. Sebenarnya, ada hal yang tak ada hubungannya dengan diri kita, tapi karena kita terlalu percaya pada sebuah ramalan kita malah mencoba membenar-membenarkan fakta yang mungkin tak benar sama sekali. Apakah pernah kita berkata? Wah, ini salah ramalannya? Saat membaca ramalan, pasti kita hanya melihat dari sudut kebenaran dan mencoba tertawa, menganggap itulah kebenaran hidup yang sebenarnya. Sementara itu, pada sisi ketidakbenaran kita tak pernah untuk mengungkapnya sama sekali.

Seseorang yang membaca ramalan menerima sebuah sugesti, begitu para peramal menyebutnya. Maka seseorang yang telah menerima sugesti akan mencari cara untuk mewujudkan sugesti yang diterimanya itu. Contohnya begini, seorang teman saya yang suka membaca ramalan tadi diramal oleh seseorang. Si peramal bilang, kalau teman saya itu akan mendapatkan seorang pacar seorang yang berkulit putih, mau tak mau teman saya tersebut mencari orang yang berkulit putih dan menjahui orang yang tidak berkulit putih untuk dijadikannya pacar. Ketika teman saya tersebut mendapatkan pacar yang berkulit putih, maka dia menyebutnya sebagai kebenaran dari sebuah ramalan, padahal itu merupakan bagian dari sugesti yang diterimanya. Artinya hidupnya telah diatur. Teman saya tadi menjadi orang pemilih, dan tak percaya pada kenyataan hidup, hanya percaya pada sugesti dari ramalan, mencoba mencari kebenaran ramalan.

Kenapa kita tak menyebut horoskop sebagai sebuah prediksi. Sebuah prediksi bisa saja terjadi atau bisa saja tidak terjadi, tak seperti ramalan yang kita sudah terbiasa untuk mempercayainya. Prediksi juga tak memberikan kita sebuah sugesti, prediksi tak mengharuskan kita untuk percaya. Sekarang tinggal bagaimana kita menjadikan hidup kita, apakah mau diatur dengan 12 gambaran singkat atau kita yang mengaturnya. Semuanya berada ditangan kita, pada keputusan kita. Kita pasti tahu yang terbaik. (***)

Bila Menunggu Agustus 29, 2009

Posted by frestialdi in Artikel untuk mereka.
1 comment so far

Membosankan, begitulah kata yang seringkali terucap bila sedang menunggu. Apa saja, baik itu menunggu seseorang, menunggu bel istirahat berbunyi, menunggu kepastian yang tak jelas. Semua nya akan tertuju pada satu kata, membosankan.

Mungkin banyak yang setuju bila kata bosan terlontar bila kita menunggu. Siapa pun pastinya tak akan suka menunggu bila akhirnya juga akan membosankan. Tapi kenapa kita mesti menunggu? Jawabannya karena rangkaian dari proses kehidupan kita bermulai dari menunggu dan akan berlangsung menunggu demi menunggu, apapun itu. Suka tak suka, walaupun membosankan kita mesti menunggu.

Lantas tak ada kata yang lebih indah daripada membosankan apabila menunggu? Sepertinya ada, tapi mungkin kita tak pernah tertuju pada kata itu. Kita hanya terlalu menyetujui kata yang telah popular, seperti kata membosankan.

Coba sedikit setel pikiran, pinggirkan sementara kata membosankan dari memori, ketika kita sedang menunggu, mungkin itu akan membantu menemukan kata yang akan dimaksud. Rasanya memang tak mudah menyetel atau mengganti pikiran membosankan, tapi cobalah sedikit berusaha, pasti bisa.

Selain itu, saat menunggu kita hanya fokus pada satu kegaiatan, yaitu menunggu. Akibatnya, rasa bosan, jenuh, dan tak menyenangkan muncul kala kita menunggu. Kita selalu merasa tak sabaran kala menunggu. Rasa-rasanya hal yang kita tunggu sudah di depan mata, padahal masih agak jauh, hanya saja kita merasa buru-buru, sehingga tak menyadari hal-hal kecil lain yang akan bermanfaat.

Kenapa kita tak mencoba melakukan hal lain saat menunggu. Misalnya saja, saat menunggu seseorang dari rumah, kenapa tak mencoba menyalakan televisi untuk menghilangkan rasa jenuh dan mengisi kegaiatan menunggu.  Saat sedang menunggu angkot kenapa tak menyetel musik pada hape dan mencoba mendengarkannya, atau kenapa tak mencari seseorang yang diajak berkenalan dan mengobrol selama menunggu, atau lagi kenapa tak mencoba memperhatikan apa saja yang melintas di jalanan dan mencoba mencari ide dari apa yang kita lihat atau juga mencari tahu.

Tak pernah bukan kita melakukan hal itu. Coba saja kita memikirkan hal ini, pasti saja kita tak akan bertemu pada kata membosankan. Sebenarnya saat menunggu, kita mesti mencoba melihat apa yang akan kita tunggu dan melakukan hal yang tidak membosankan seperti kita menunggunya.

Ada hal lain kenapa kita juga mesti melakukan hal-hal lain saat menunggu. Resiko, itulah hal lain yang harus kita terima. Prediksi buruknya, mungkin apa yang kita tunggu tak akan datang, tak sempat datang, atau tak bisa datang. Memang, kita harus selalu berpikiran positif. Namun, adakalanya kita juga menyiapkan alternatif dari sebuah keputusan menunggu

Itulah gunanya mencari alternatif lain atau melakukan kegiatan lain. Contoh sederhanaya, seperti yang ada tadi. Misalnya saat jenuh menunggu angkot tadi, ketika kita menunggu di tempat yang kita tak kenal siapa-siapa kenapa, ketika kita mencari seseorang untuk diajak berkenalan, sdetidaknya kita telah membunuh rasa jenuh. Tapi hal lain yang mesti kita perhatikan adalah ketika tak ada angkot yang lewat, kita bisa mengajak orang yang telah kita kenal tersebut untuk sama-sama jalan. Bukankah jalan bersama daripada jalan sendiri lebih terasa tak membosankan. Sama-sama jalan hinga melihat angkot, kalau pun masuk tak ada angkot yang lewat, bisa juga memnafaatkan informasi dari ojek dan menimbang-nimbang akan naik ojek atau jalan kaki bersama.

Mungkin, menunggu juga erat kaitannya dengan kehidupan yang kita jalani. Contohnya, bila telah ikut SNMPTN dan menunggu hasilnya. Tak ada salahnya juga mencoba mencoba mengikuti cara yang yang lain atau mengikuti tes yang lain. Jadi, ketika hasil menunggu hasil SNMPTN tidak memuaskan kita sudah ada rencana lain dan tidak terlalu merasa kecewa. Begitulah, membosankan atau tidak menunggu tergantung dari bagaimana cara kita menunggu dan melakukan apa saja saat menunggu. Selain itu, berusahalah untuk  menyingkirkan kata “membosankan” dan mengubahnya menjadi kata yang kita cari tadi, yaitu menyenangkan. (***)