Tahun Baru, Tradisi yang Membelenggu

Tahun Baru, Tradisi yang Membelenggu

Oleh Rika Rahmad Darniati

 

Penghujung tahun, 2011 akan menjadi sejarah ketika 2012 datang tepat jam 00.00 wib. Jalanan di penuhi terompet, orang-orang sibuk dengan perencanaan menyambut tahun baru, hanya tinggal hitungan detik. Persiapanpun dilakukan, beberapa panitia sibuk mempersiapkan acara penyambutan tahun baru masehi itu. Latihan, dekorasi, mereka bekerja berkuras tenaga, fikiran dan materi. Entah apalah sebabnya Indonesia, Sumatera Barat, Minangkabau khususnya yang mayoritas penduduknya muslim ini sangat bergairah menyambut tahun baru masehi dibanding dengan penyambutan tahun baru Hijriah yang merupakan tahun baru islam.

Kebudayaan adalah ide, gagasan, pola fikir masyarakat yang kemudian berbuah prilaku diwujudkan dengan perayaan tahun baru masehi. Banyak cara, banyak acara, semuanya hanya kegiatan yang menghambur-hamburkan uang dan kepuasan nafsu belaka. Pantai Padang, taman Budaya, Taman Melati, Jembatan Siti Nurbaya dan banyak lagi lainnya menjadi pusat perayaan malam tahun baru. Ratusan manusia malam ini lalu lalang, malam ini tak terasa malam hari. Hiruk pikuk bunyi teropet dan suara mesin kendaraan manjadi saksi pergantian tahun ini.

Merayakan tahun baru masehi yang sesungguhnya merupakan moment perayaan umat kristiani. Namun budaya itu seolah dekat dan melekat dengan masyarakat kita dan menjadi sebuah tradisi. Tradisi, kebiasaan yang dilakukan dengan gamblang tanpa beban. Merayakan tahun baru bagi mereka yang merayakan sesungguhnya terjebak dengan suasana hangat berbagai media cetak maupun elektronik. Berapa banyak iklan dan program acara televise menyambut tahun baru menjadikan sebagian besar kita ikut serta di dalamnya tanpa alasan rasional. Merayakan tahun baru seolah menjadi tindakan yang wajib, semua itu di pengaruhi oleh kebudayaan yang merupakan wujud pola fikir masyarakat itu sendiri. Seperti apa sikap masyarakat menanti tahun baru, itulah cerminan masyarakat muslim daerah sumatera barat saat ini.

Pertanyaannya adalah masihkah minang kabau berpegang teguh dengan filsafah adat basandi sarak, sarak basan di kitabullah, syarak mangato adaik mamakai ? Pribadi muslim yang selama ini dijunjung tinggi putra-putri minang apakah masih menjadi tradisi atau telah tenggelam di telan arus gloalisasi. Jika syar’i perintahkan “Wahai orang-orang yang beriman masuklah kedalam islam secara kaffah, dan janganlah engkau ikuti ajaran setan, karena sesungguhnya setan itu adalah musuhmu yang sangat jelas”(QS Albaqarah 108). Maka tindakan yang seharusnya kita laksanakan adalah sesuai dengan visi dan misi seorang muslim.

Sebagai seorang muslim, tidak mungkin megingkasi eksistensi diri dengan mengabaikan visi dan misi ajaran islam yang harusnya melekat dan menjadi karakter individu setiap pemeluknya. Dua hal ini merpakan quantum yang saling megisi untuk membuahkan sebuah tindakan yang mempunyai arti. Visi yang merupakan cara kita memendang diri sendiri, peran dan posisi diri kita secara menyeluruh dan mencangkup tiga dimensi sejarah, keyakinan, dan masa depan. Visi juga harus ditanamkan pada diri mencangkup seluruh nilai dan penilaian diri kita atas eksistensi diri kita di tengan pergaulan manusia, lebih substansial adalah cara pandang kita menempatkan diri dalam berhadapan dengan Allah SWT.

Visi yang berkaitan dengan eksistensi inilah sebenarnya yang melahirkan cara mengambil posisi dan membuat formulasi tentang tujuan, dan kemudian mengarahkan seluruh prilaku menuju sebuah tujuan yang ingin diraih. Maka misi yang erat kaitannya dengan cara pandang kita terhadap makna keberadaan, eksistensi diri hendaknya disadari setiap pribadi muslim dalam arti dan makna “ada”. Ada bukan hanya sekedar keberadaan fisik dan ucapan semata. Namun sikap utuh dari keimanan dan amal saleh yang terdapat dalam Alquran harus menjadi formulasi terhadap kesadaran daneksistensi diri kita sebagai muslim sejati.

Maka persoalannya adalah boleh atau tidak boleh merayakan tahun baru masehi. Kita semua sebagai seorang muslim tentunya paham makna sebenarnya tahun baru masehi. Kita juga harusnya mampu mengambil sikap bukan dengan alasan kong kalehong semata. Namun sesuai dengan nilai dan prinsip dan identitas diri seorang muslim. Jika ingin merayakan tahun baru, bukankah moment tahun baru hijriah dengan makna perubahan menuju kebaikannya lebih bermakna dari tahun baru masehi yang kita sendiri tidak mengerti maknanya. Rasa bangga dan kesetiaan terhadap nilai-nilai islamiah akan menjadikan kita merasa memiliki islam dan hidup ditengah tradisi-tradisi kehidupan yang islamiah dan qurani. Insyallah

 

Tentang frestialdi

TercipTa dengan nama Fresti Aldi. Bukan nama minuman. Hanya saja mempunyai sedikit kemiripin. Entah siapa yang awalnya yang miliki nama tersebut. Yang jelas sampai sekarang enjoy aja dengan nama tersebut. Bahkan, nama tersebut juga memudahkan orang-orang untuk ingat dengan seorang Fresti Aldi. Selalu ingin menjadi yang terbaik buat orang lain. Selalu berpenempilan ceria walaupun dalam diri ada suatu masalah. Masalah itu akan akan besar kalau kita membesarkan masalah tersebut. Jangan pernah berharap sesuatu terjadi kalau kita tidak melakukan sesuatu, itulah prinsip hidup. Selalu tersenyum. Smile for All. With smile we can to be a good people. Don't worry. I can give my smile for you, for you and for you. Terakhir, selalu menggangap orang lain sama dengan kita. Jangan merasa hebat, tapi jangan juga merasa bodoh. Hargailah sebuah kelemahan. bye..
This entry was posted in Tak terkategori. Bookmark the permalink.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s