Jika Harus Berpisah

SEBUAH hukum alam, setiap pertemuan pasti diakhiri dengan perpisahan. Kenyataannya memang seperti itu. Pertemuan terkadang menjadi sebuah hal yang tidak mengenakkan. Kenapa harus berpisah?

Entah kenapa, ketika mendengar kata pisah raut wajah selalu berubah berkerut dan air mata selalu ingin keluar. Perasaan sedih jelas datang begitu saja ketika kata pisah itu terucap. Tapi, bisa apa? Semua harus seperti itu, perpisahan itu memang harus terjadi. Berpisah sudah menjadi hal yang lumrah terjadi dalam hidup. Ketika lulus sekolah kita mesti berpisah dengan teman-teman sekelas. Bahkan jika ada yang memilih kuliah di luar kota juga mesti harus berpisah dengan keluarga. Perpisahan memang sebuah pilihan yang harus dijalani.

Bapisah, bukannyo bacarai, ungkapan ini seakan menjadi motivator dalam menghadapi perpisahan yang terjadi. Lagu Minang yang satu ini menjadi ngetop saat dilangsungkan acara perpisahan di sekolah dan di tempat lainnya.

Bapisah bukannyo bacarai menjelaskan jika perpisahan itu tak perlu disesali. Artinya, perpisahan tidak menutup jalan untuk tetap melakukan komunikasi, melakukan hubungan silahturrahmi satu dengan yang lainnya. Lantas bagaimana dengan rasa yang sempat tertumpah?Apakah harus begitu saja hilang?

Perpisahan memang merupakan hilangnya wujud suatu benda atau orang se¬hingga kita tak bisa lagi melihat dengan jelas bagaimana rupa orang tersebut sebagaimana yang sering kita lihat. Namun, rasa tak bisa dibohongi, rasa itu akan tetap melekat sampai kapanpun walaupun dipisahkan oleh jarak, ruang waktu bahkan dipisahkan oleh dunia yang berbeda.

Mengenang mungkin hal yang pantas dilakukan untuk kembali membangun rasa itu. Bagaimana mencoba mengingat kembali kenangan saat-saat bersama, ketika sama-sama tertawa, sama-sama menangis. Kenangan tersebut akan memberikan kekuatan baru untuk bertemu dengan perpisahan. Mengenang juga akan menimbulkan rasa rindu. Rasa rindu itu pula lah yang membuat perpisahan menjadi semakin berarti. Ketika pernah rindu berarti telah membuat berpisah menjadi suatu hal yang yang tidak menyakitkan lagi. Sebab, rindu akan membangkitkan kembali rasa yang tertinggal. Namun, apakah rindu harus dibayar dengan pertemuan? Mungkin tidak, sebab ketika pertemuan tidak berhasil maka bisa kembali pada rencana awal yaitu mengenang.

Bagaimanapun, hukum alam jika perpisahan itu harus terjadi memang harus dilaksanakan. Hanya saja, kita harus percaya jika semangat atau rasa itu suatu saat bisa tumbuh kembali oleh ruang dan waktu yang berbeda. Perpisahan hanyalah suatu masa yang terputus yang membuat kuta harus menyerahkan rasa yang sempat ada.

Padang, Januari 2010

Dipublikasi di Catatan | 3 Komentar

Tiga tokoh dapat Penghargaan dari Iluni IAIN

Padang- Reuni Akbar IAIN Imambonjol Padang tak hanya menjadi ajang temu kangen dengan alumni. Namun, pada acara malam temu kangen yang diadakan pada Sabtu (23/04) Malam, di Palanta Walikota Padang, Ikatan Alumni (ILUNI) IAIN IB  juga memberikan penghargaan dalam tiga kategori.

Penghargaan pertama diberikan kepada non alumni IAIN IB yang telah berjasa untuk melakukan tugas yang semestinya dilakukan oleh alumni IAIN. Penghargaan pertama ditujukan kepada Walikota Padang, Dr H Fauzi Bahar, M.Si yang telah berjasa menciptakan suasana religius di kota Padang. Selanjutnya, penghargaan kedua diberikan kepada Romeo Rizal pandji Alam, selaku pimpinan Bank Indonesia (BI) cabang Padang yang telah berjasa menciptakan dan menerapkan sistem Ekonomi Syariah. Sedangkan untuk tokoh ketiga yang menerima penghargaam adalah Walikota Jakarta Selatan, H Syahrul Efenddi, SH, MM selaku tokoh Gerakan Sosial Orang Rantau (Gesor)

Dalam pertemuan itu juga diberikan penghargaan kepada mantan dosen di lingkungan IAIN yang tidak mengajar lagi secara formal. Masing-masing fakultas diberikan satu dosen. Dari fakultas Adab penghargaab diberikan kepada Dr. H Nukman. Dari fakultas dakwah diberikan kepada Drs H Nazaruddin. Sementara dari Fakultas Tarbiyah pengharhaan diberikan kepada Dra Hj Nusfa. Selanjutnya dari fakultas Syariah penghargaan diberika  kepada Prof Dr H Amir Syarifuddin dan Prof Dr H Fauzan Mishra El Muhammadi dari fakultas Adab.

Selain penghargaan tokoh non IAIN dan dosen, alumni juga memberikan penghargaan kepada mahasiswa berprestasi yang juga berasal dari kalangan aktifis kampus. Masing-masing fakultas diberikan satu orang mahasiswa yang berhak menerima penghargaan.

Sementara itu, Fauzi Bahar, dalam memberikan sambutannya menuturkan jika ia memiliki kekuatan emosional yang tinggi dengan institusi IAIN Imam Bonjol. Dalam sehari itu saja (Sabtu red) Fauzi Bahar tiga kali datang ke IAIN. Yang pertama dalam rangka memberikan seminar pada pembukaan acara alumni, selanjutnya melantik anggota resimen mahasiswa dan juga menghadiri acara temu kangen pada Sabtu lalu.

Sedangkan Rektor IAIN Imambonjol Padang juga mengucapkan terima kasih kepada tokoh dan dosen yang telah mendapat penghargaan dari tiga kategori tersebut. Bagi Sirajuddin Zar, hal tersebut merupakan apresiasi dari alumni kepada tokoh, dosen purnawirawan dan mahasiswa. Dalam malam temu kangen tersebut turut hadir alumni IAIN yang juga telah berkiprah di tengah masyarakat seperti Anggota DPD, Emma Yohana, Anggota DPRD Sumbar Irdinansyah Tarmizi yang sekaligus ketua ILUNI IAIN dan beberapa tokoh lainnya. [fresti aldi]

Dipublikasi di Berita | Meninggalkan komentar

Band Jadul Yang Pernah Berjaya

Band Indonesia yang Populer Masa Lalu

Grup band seperti God Bless, Koes Plus, Panbers, Bimbo, The Favourite’s Group, D’lloyd, The Mercys, The Rollies, AKA memang terasa agak asing di telinga remaja hari ini. Sebab, mereka populer bukan pada zaman sekarang, melainkan jauh hari sebelum kita lahir. Kehadiran merekalah yang menjadi cikal bakal grup band di Indonesia hingga hari ini. Bagaimana ceritanya?

Agak sulit untuk mengungkapkan sejarah grup band di tanah air, sebab tak ditemukan data yang konkrit tentang awal muncul dan lahir grup band pertama di tanah air. Namun, dari data yang ditemukan, nama Idris Sardi (pemain biola sekaligus ayah kandung Lukman Sardi) disebut-sebut sebagai orang yang turut andil menciptakan kelahiran grup band beraliran pop di tanah air.

Diceritakan bahwa Idris Sardi pertama kalinya bereksperimen untuk mengarasemen lagu Sunda “Antosan” yang dinyanyikan oleh Lilis Suryani pada tahun 1964. Idris Sardi mencoba menggabungkan antara elemen musik kalsik dan musik pop dengan perpaduan orkestra. Perpaduan inilah awal cikal bakal kelahiran aliran band bergenre pop progresif.

Setelah nama Idris Sardi, juga muncul nama-nama lain yang ikut meramaikan band di tanah air pada masa silam. Mulai dari Rhapsodia, The Rollies, Giant Step, Harry Rusli, Rasela, The Rhythm Kings, AKA, SAS, Godbless, Superkid , Shark Move dan Favourite’s Group. Nama-namanya memang agak janggal di telinga remaja saat ini, namun pada masa silam, nama mereka menjadi buah bibir di era 70-an.

Di tahun 1975, Guruh Soekarno Putra dan anak-anak Gipsy mencoba untuk menawarkan musik band baru dengan menggabungkan unsur gamelan Jawa dengan unsur rock. Ini jauh berbeda dengan hal yang dilakukan Harry Roesli. Karena Harry Roesli mencoba untuk mentradisonalkan musik rock. Grup band Prambors Rasisonia juga membuat suatu revolusi baru dalam blantika musik Indonesia yaitu dengan menkreasikan gabungan musik pop, klasik dan rock.

Grup Band Koes Plus yang cukup populer pada zamannya dikenal sebagi pelopor lahirnya grup band dengan aliran pop dan rock n roll. Tak kalah uniknya, Panjaitan bersaudara atau Panbers meramaikan musik tanah air pada tahun 1969 yang personilnya merupakan kakak-beradik kandung keluarga Panjaitan.

Grup band D’LLoyd juga tak kalah populernya di era 70-an. Lagu-lagunya seperti Keagungan Tuhan, Tak Mungkin, Oh Di Mana, Karena Nenek, Semalam di Malaysia, Cinta Hampa dan Mengapa Harus Jumpa sampai sekarang masih sering didengar bahkan diaransemen ulang oleh penyanyi dan grup band baru.

Lantas Bagaimana dengan God Bless? God Bless adalah grup musik rock yang telah menjadi legenda di Indonesia. Dasawarsa 1970-an bisa dianggap sebagai tahun-tahun kejayaan mereka. Salah satu bukti nama besar mereka adalah sewaktu God Bless dipilih sebagai pembuka konser grup musik rock legendaris dunia, Deep Purple di Jakarta pada tahun 1975.

Lain lagi dengan grup band Bimbo. Band yang berdiri pada tahun 1967 ini lebih eksis pada tahun 80-an dengan lagu-lagunya yang bertemakan kritik sosial. Bahkan, pada tahun 2007, di usia band mereka yang senior mereka masih sempat menelorkan album baru. Diantaranya menampilkan karya terbaru Taufiq Ismail yang berpola kritik sosial yaitu Jual Beli dan Hitam Putih.

Nama lain yang disebut-sebut cukup fenomenal pada zaman dahulu adalah band A.KA. singkatan dari Apotik Kali Asin. Apotik tersebut milik orang tua Ucok Harahap, tempat mereka bermarkas dan latihan. Band yang berdiri di tahun 1967 ini digawangi oleh Ucok Harahap. Mereka lebih sering membawakan lagu rock dengan lirik berbahasa inggris.

pANBERS

Kalau kita melihat perkembangan band di tanah air yang pesat, tentunya kehadiran band-band baru di tanah air seperti Kerispatih, Dewa, D’masiv, Viera, Armada, ST 12, dan lainnya tak terlepas dari sejarah band legendaris di atas. Setidaknya mereka telah berusaha berkarya demi perkembangan band Indoneisa yang semakin membaik hingga hari ini. [fresti aldi/ panbers.com, wikipedia, kaskus dan berbagai sumber]

Dipublikasi di Artikel | 5 Komentar

Saya Menyukai Pasaraya Kala Pagi

Pasaraya memang menyimpan banyak cerita. Cerita tentang pedagang kaki lima, tentang macet, tentang kesembrautan. Terakhir, yang membuat saya terkadang jengkel adalah tentang jalan di Pasar yang sangat padat. Saya selalu kesulitan untuk berjalan dari arah Matahari menuju Permindo. Semua bertumpuk di jalan raya, seperti pedagang kaki lima, pejalan kaki hingga pengendara sepeda motor dan mobil.

Tapi pagi ini, saya sedikit lega. Sekitar pukul tujuh pagi, suasana masih damai dan lengang. Tak ada lalu lalang kendaraan, tak ada pedagang kaki lima yang bersorak-sorak berjualan di sepanjang jalan.

Ini pertama kali saya berjalan pagi-pagi di Pasaraya, hari ini saya berangkat dari rumah untuk menuju kampus. Biasanya saya hanya berangkat ke kampus dari kos saja. Sehingga jarang sekali saya melewati Pasar, apalagi pagi-pagi sekali.

Yang ada hanya jalanan lengang, bebarapa pejalan kaki seperti saya juga terasa nyaman berjalan. Di kiri kanan, terlihat toko yang masih tutup. Satu-satu ada yang baru membuka kedainya. Ada juga petugas kebersihan yang menjalankan tugasnya, menyapu sekitar jalanan.

Sepertinya saya menyukai Pasaraya kala pagi. Saya suka pasaraya yang lengang, saya menyukai pasaraya yag tak menghambat ketika saya harus berjalan melewati Pasaraya. Sebab, tak semua orang juga ke Pasar untuk membeli sesuatu. Seperti saya, melewati Pasar hanya untuk menunggu angkot yang lewat Pasaraya. Saya rasa, Pasaraya mesti direshufle. Pasaraya mesti direnovasi, saya ingin Pasaraya yang nyaman untuk dikunjungi seperti tadi pagi.

[Fakultas Dakwah, IAIN IB Padang/15.29]

Dipublikasi di Melihat Dunia | 1 Komentar

Mengintip Sejarah fotografi

Dunia fotografi, makin hari makin enak untuk disimak. Beberapa orang banyak yang mulai menjamah dunia fotografi. Dan, yang paling menarik lagi, tak hanya profresional saja yang menggeluti dunia fotografi. Beberapa remaja pun ambil bagian dalam dunia fotografi. Buktinya, banyak remaja yang mulai menenteng kamera dan jepret-jeprat sana sini, kemudian upload via facebook.

Menurut sejarah, fotografi sudah muncul jauh-jauh sebelum masehi. Dalam buku The History of Photography karya Alma Davenport, terbitan University of New Mexico Press tahun 1991, disebutkan bahwa pada abad ke-5 Sebelum Masehi (SM). Dijelaskan jika seorang pria yang bernama Mo Ti menemukan sebuah  fenomena ketika dinding ruangan yang gelap terdapat pinhole atau semacam lubang kecil. Dari lubang kecil tersebut akan tereflesikan pemandangan luar secara terbalik. Fenomena ini dikenal dengan fenomena camera obsura yang menjadi kamera yang pertama kali dipakai untuk menggambar dan memotret.

Secara artian fotografi berarti proses atau metode untuk menghasilkan gambar atau foto dari suatu objek dengan merekam pantulan cahaya yang mengenai obyek tersebut pada media yang peka cahaya. Fotografi biasanya mengunakan kamera. Dari dulu hingga hari ini, perkembangan kamera sudah mengalami perkembangan yang pesat. Mulai dari zaman kamera obsura hingga zaman digital yang berkembang hari ini.

Foto Heliografi adalah alat pertama kali yang ditemukan dalam dunai fotografi. Tahun, 1826, Joseph Nicephore yang pertama kali menemukan foto heliografi. William Henry Fox Talbot menemukan proses positif/negatif yang disebut Tabotype. Tidak ketinggalan juga Andre Adolphe Eugene Disderi memperkenalkan rotating camera yang dapat merekam delapan citra berbeda dalam satu film. Setelah hasilnya dicetak di atas kertas albumen, citra tersebut dipotong menjadi delapan bagian terpisah dan direkatkan pada lembaran kartu. Kartu ini menjadi inspirasi penyebutan visiting card. Lantas tahun 1902, Arthur Korn membuat teknologi phototelegraphy yang mengubah citra menjadi sinyal yang dapat ditransmisikan melalui kabel. Wire-Photos digunakan luas di daratan Eropa pada tahun 1910 dan transmisi antarbenua dimulai sejak 1922. Sedangkan penggunaan Vest Pocket Kodak menggunakan 127 film ditemukan pada tahun 1912. Sedangkan negatif film pertama kali ditemukan oleh John Hendri Fox Talbot dari inggris. Negatif film tersebut di buat selama 40 detik dibawah terik matahari.

Selanjutnya, dunia fotografi seakan mendapat angin. Tahun 1920, Yasujiro Niwa menemukan peralatan untuk transmisi phototelegraphic melalui gelombang radio. Tiga tahun setelah itu, Doc Harold Edgerton menemukan xenon flash lamp dan strobe photography. Sedangkan tayangan berwarna Tayangan berwarna pertama dari Technicolor bertajuk Flowers and Trees dibuat oleh Disney pada tahun 1932. Sedangkan tahun 1936, Ihagee membuat Ihagee Kine Exakta 1. Kamera SLR 35mm yang pertama. Agfacolor membuat print film modern yang pertama dengan materi warna positif/negatif ditemukan tiga tahun berikutnya.

Kamera pun mengalami pekembangan teknologi. Citra digital ditemukan baru tahun 1957. Citra digital ini ditemukan oleh Russell Kirsh dengan menggunakan komputer.  Sedangkan, AGFA memperkenalkan kamera otomatis yang pertama, Optima pada tahun 1959. Bahkan hingga sekarang, jenis kamera pun sudah banyak yang ditemukan. Hingga hari ini, jenis kamera pun beragam, mulai dari merek, kualitas pengambilan gambar, hasil dengan berbagai merek dan bentuk. Tinggal pilih saja, sesuai dengan saku dan kebutuhan. Bahkan juga sekarang kita sering mengenal kamera dengan jenis digital dan analog.

Perbedaannya, kamera digital merekam dengan piksel sedangkan kamera analog merekam dengan film negatif berwarna, slide film negatif dan slide hitam putih. Perbedaan lainnya adalah kamera analog sudah hampir mampu menangkap seluruh warna yang dipantulkan oleh matahari dan kamera analog juga cukup sensitive. Sedangkan kamera digital belum mampu menangkap semua warna yang dipantulkan oleh matahari namun warna yang dihasilkan lebih kontras. Kamera digital juga kurang sensitif. (fresti aldi/ berbagai sumber)

 

 

 

Dipublikasi di Artikel | Meninggalkan komentar

Saya Pelupa

Umurku baru 20 tahun, tapi penyakit lupa sudah bersarang di benakku. Aku sering melupakan apa pun. Bahkan hal-hal yang sebenarnya tak harus kulupakan. Kacamata, handphone, buku dan semuanya lupa. Aku sering lupa dimana menaruhnya. Padahal baru beberapa menit saja aku menaruhnya.

Aku bahkan sering bermasalah mengingat apapun. Aku lupa nomor handphoneku sendiri. Ketika mengisi pulsa, seringkali aku melupakan beberapa angka nomor handphoneku.  Aku terpaksa melirik kontak nama yang ada di handphoneku. Masalah angka, aku memang sulit mengingatnya. Aku bahkan tak ingat jumlah uang dalam saku yang kubawa dari rumah saat berpergian.

Orang yang sudah lama tak berjumpa juga sering terlupakan. Bahkan, teman-teman SMA yang akhirnya ketemu lagi, aku lupa siapa namanya. Beberapa orang yang ketemui lagi juga sulit kutebak.

“Kayaknya pernah kenal, tapi dimana ya?”

Kalimat tersebut selalu kusebut dalam hati melihat orang yang rasanya-rasanya kukenal. Padahal baru beberapa bulan saja aku tak bertemu dengannya. Entalah, aku jadi sering melupakan apapun akhir-akhir ini. Mengingat jalan, mengingat nomor, mengingat nama. Bahkan berangkat kuliah, aku sering berbalik beberapa kali karena selalu ada-ada saja yang tertinggal.

Suatu saat, aku takut tak bisa mengingat apapun. Aku takut melupakan apapun. Aku takut jika suatu saat semua yang pernah kuingat terhapus begitu saja. Aku ingin mengingat semuanya. Aku tak ingin melupakan apa pun. Umurku masih 20 tahun, terlalu dini untuk menjadi pelupa. *

[ Asrama Jurnalistik, 03 April 2011 // 07.56]

Dipublikasi di Catatan | 1 Komentar

Cerita Sore di RTH Imambonjol

Ruang Taman Hijau (RTH) Imambonjol, sore ini menarik perhatian. Lapangannya dipenuhi oleh anak-anak yang saling berkejaran, berebut bola dan saling memasukkannya ke dalam gawang lawan.

Mereka berlari sesukanya, kadang-kadang sebuah sentakan dan teriakan terdengar dari pelatihnya. Sementara, di sisi RTH sudah banyak orang-orang yang memfokuskan pandangan ke lapangan hijau. Daya juga tak mau ketinggalan untuk ikut memfokuskan pandangan bersama banyak orang di sana.

Saya sudah mengambil posisi duduk di pinggir lapangan. Di lapangan hijau, lapangan sudah “diacak-acak” oleh anak-anak yang saya prediksi masih duduk di bangku sekolah dasar. Lapangan sudah dibagi menhadi beberapa bagian. Bebarapa bagian diisi dengan pertandingan sepakbola, beberapa bagian lagi ada yang sekedar pemanasan bersama pelatihnya.

Saya mengganti posisi ke tempat yang lebih padat. Dari percakapan orang-orang disamping saya, saya menyimpulkan jika mereka adalah orangtua anak-anal yang sedang berlari dilapangan hijau. Beberapa diantaranya tak mau memasuki lapangan. Ia asik berlari-lari di pinggir lapangan sesukanya. Perkiraan saya, anak yang berlari di pinggir lapangan tersebut baru menduduki kelas 1 atau 2 SD. Saya menyimpulkannya melihat postur tubuhnya.

Apakah maraknya pertandingan sepakbola di televisi memberikan efek terhadap orangtua memasukkan anaknya ke sekolah bola. Apakah ini hanya sekedar tren atau memang murni kemauan. Dan bagaimana dengan keinginan si anak? Apakah mereka ikhlas menjalani aktifitas tersebut atau hanya sekedar ikut-ikutan mengiyakan kata orangtuanya. Saya rasa tak ada yang bisa memaksakan bakat seoarang anak. Semua terletak pada keinginan masing-masing anak. Jika mereka senang, tak ada salahnya. Dan jika tidak senang, tak usah terlaku dipaksakan.

 

[Asrama Jurnalistik, 31 Maret 2011  // 20. 18]

Dipublikasi di Melihat Dunia | 1 Komentar