Ujian Nasional, Jangan Menakutkan Lagi

Kelulusan SMA dan SMP sudah diumumkan. Banyak diantara kita yang senang dengan hasil kelulusan tersebut. Apalagi bagi yang lulus tentunya. Untuk bisa melangkah ke jenjang yang lebih tinggi memang harus menunggu kepuitusan yang satu ini.

Namun, ada yang hal yang sangat mengganjal bagi kita. Masalah kelulusan seakan menjadi masalah sepele tapi juga menakutkan. Betapa tidak, siswa diminta untuk lulus dengan nilai yang telah ditetapkan pemerintah atau dengan standar kelulusan. Hal ini tentunya membuat takut sebagian pelajar yang duduk di kelas IX atau kelas XII.

Positifnya, dngan pemerintah menetapkan standar yang demikian akan memacu semangat belajar apara siswa sehingga mmereka akan takut kalau-kalau mereka tidak lulus. Namun, tampaknya ketakutan tersebut membuat sebuah problema yang akhir-akhir ini terus terjadi dari tahun-ketahun.

Masalah saat Ujian Nasional berlangsung, cenderung terjadi kecurangan. Baik itu yang dilakukan pemerintah maupun oknum terkait. Masalah ini seolah-olah dibiarkan oleh pemerintah. Apalagi dengan pemerintah yanmg tidak mengganti system peendidikan di Negara ini. Tujuan nasional bangsa yang ingin mencerdaskan anak bangsa, berubah menjadi mencurangkan anak bangsa.

Ini bisa kita lihat dari kejadian-kejadian yang terjadi saat ujian berlangsung. Baik itu tentang kebocoran soal sampai dengan beredarnya kunci-kunci jawaban. Padahal pemerintah sudah memberikan pernyataan bahwa kecurangan tidak akan terjadi tahun ini. Tapi, apa yang terjadi? Begitu banyak tayangan di televisi tentang kecurangan yang terjadi saat Ujian Nasional. Bahkan kunci-kunci jawaban palsu pun beredar tanpa arah.

Salah siapa? Salah kita semua baik pemerintah selaku orang yang paling bertanggung jawab dalam hal ini. Maupun pihak kita pelajar sendiri yang terlalu ktakutan untuk menghadapi Ujian Nasional. Namun, menurut sebahagian pihak ktakutan ini tentunya cukup beralasan bagi siswa yang ingin mereka bisa melanjutkan ke jenjang selanjutnya.

Kalaulah kita perhatikan. Sistem kelulusan yang seperti ini memang perlu diterapkan. Namun, sepertinya pemerintah terlalu gegabah dalam mengambil sikap. Pemerintah tidak melihat kondisi pendidikan kita dan pemerintah juga terlalu egois dalam mengganti kurikulum.

Tapi jika kita perhatikan juga, dengan harus menetapkan 6 mata pelajaran, seakan membuat pelajaran lain tersingkirkan. Ada juga pendapat yang mengatakan bahwa, apa gunanya belajar yang lain, yang diuji juga enam mata pelajaran. Padahal masih banyak bakat-bakat terpendam siswa di bidang lain. Contohnya saja, dalam bidang seni, olahraga dan lainnya. Namun, saying harapan mereka harus sirna hanya karena terkendala dengan satu mata pelajaran. Hal tersebut juga membuat mereka dinyatakan ‘tidak lulus ‘ dan mengubur bakat-bakat anak bangsa.

Seperti inikah nasib pendidikan bangsa ini. Secara tak langsung kita telah diajarkan buat curang, apakah bangsa kita mau jadi bangsa yang curang dan ujung-ujungnya peringkat Negara terkorup lagi-lagi jatuh kepada Negara kita. Apakah pemerintah tidak melihat hal ini. Apakah mata pemerintah kita telah tertutup dengan mutu pendidikan yang didambakan.

Bicara soal mutu, sekarang ini pendidikan Negara kita dengan system yang seperti ini hanya mengejar kwantitas kelulusan bukan kwalitas. Akhirnya lagi berdampak kepada kwalitas bangsa ini.

Hendaknya pemerintah kembali mengkaji hal ini. Pemerintah kembali mengembalikan kelulusan kepada sekolah. Kalaupun memang ingin mengukur standar pendidikan Negara ini. Bukan dengan nilai tersebut menentukan kelulusan. Satu hal lagi yang perlu diperhatikan, jangan hanya memfokuskan pada beberapa mata pelajaran saja tapi juga pada semua mata pelajaran, agar terjadi keadilan. Mudah-mudahan saja pendidikan Negara kita bisa meningkat

Tentang frestialdi

TercipTa dengan nama Fresti Aldi. Bukan nama minuman. Hanya saja mempunyai sedikit kemiripin. Entah siapa yang awalnya yang miliki nama tersebut. Yang jelas sampai sekarang enjoy aja dengan nama tersebut. Bahkan, nama tersebut juga memudahkan orang-orang untuk ingat dengan seorang Fresti Aldi. Selalu ingin menjadi yang terbaik buat orang lain. Selalu berpenempilan ceria walaupun dalam diri ada suatu masalah. Masalah itu akan akan besar kalau kita membesarkan masalah tersebut. Jangan pernah berharap sesuatu terjadi kalau kita tidak melakukan sesuatu, itulah prinsip hidup. Selalu tersenyum. Smile for All. With smile we can to be a good people. Don't worry. I can give my smile for you, for you and for you. Terakhir, selalu menggangap orang lain sama dengan kita. Jangan merasa hebat, tapi jangan juga merasa bodoh. Hargailah sebuah kelemahan. bye..
Pos ini dipublikasikan di Catatan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s