Penjajal Koran, Masih adakah???

Terkadang mereka juga memanfaatkan koran sebagai media pembelajaran

Terkadang mereka juga memanfaatkan koran sebagai media pembelajaran

Tak banyak kita temukan penjajal Koran pada zaman sekarang ini. Tidak seperti dahulu, menjajalkan koranm bisa menjadi usaha sampingan bagi sebahagian pelajar untuk menambah uang jajan mereka. Tapi sekarang kemana perginya loper Koran tersebut?

Biasanya, kita tinggal cari di sekitar persimpangan lampu merah, maka berpuluh-puluh anak kecil dengan Koran ditangan mereka siap menjajalkan berita. Dengan suara sedanya mereka mulai meneriaki dagangan mereka. “Koran, Koran,” suara itu taka sing lagi ditelinga kita.

Tapi sekarang, persimpangan lampu merah itu sepi akan loper-loper Koran itu. Jika berhenti dipersimpangan lampu merah, kita hanya melihat pengemis dan yang mendiami lokasi tersebut. Loper korannya kemana? Sukur-sukur kita bisa temukan satu diantara mereka. Tapi biasanya jarang sekalli kita temukan para loper Koran itu.

Apa yang melatarbelakangi hilanganya para penjajal berita tersebut dari jalanan. Apakah karena Undang-Undang dari pemerintah yang melarang mereka berada dijalan. Tapi, sepertinya tidak demikian. Kalau memang disebabkan Undang-Undang dari pemerintah kenapa masih banyak pengemis dan pengamen yang masih dijalanan. Lantas apakah yang sebenarnya yang melatarbelakangi menghilangnya para penjajal berita itu?

Jawaban yang mungkin tepat adalah menjajalkan Koran tidak lagi memberikan uang saku tambahan bagi mereka. Tapi bagaimana juga mereka bisa bertahan dengan kondisi dunia yang serba kejam. Dari mana lagi mereka bisa mendapatkan jajan lagi. Mengamenkah?

Alasan lain yang lebih masuk akal mungkin karena semakin majunya televisi yang lebih menyajikan beragam berita. Satu channel saja bisa menyajikan tiga atau empat kali siaran berita setiap hari. Dengan banyaknya cahnnel lebih memudahkan orang-orang mendapatkan berita yang beragam.

Belum lagi kepraktisan jaringan internet yang siap kapan saja memberikan informasi kepada penggunanya. Tinggal klik, bisa menemukan ribuan berita dalam waktu beberapa detik. Bahkan, lewat telepon genggam saja kita bisa menerima puluhan berita setiap harinya.

Seperti itukah yang terjadi. Tapi perusahan Koran dan majalah tidak ada yang bangkrut. Kenapa dengan loper Koran. Atau faktor distribusi Koran yang lebih sederhana. Orang-orang lebih banyak membeli Koran dengan cara langganan dan antar kerumah atau kantor mereka masing-masing.

Alasan yang masuk akal memang. Tapi berkurangnya para loper Koran ini membuat membuat kita sedikit risih. Kalau memang sebahagian pengemis dan pengamen di persimpangan lampu merah itu memang mantan loper Koran. Kasihan juga, padahal menjual Koran lebih mulia dan tidak berbahaya.

Menjadi penjual Koran, mereka tidak perlu bertarung dengan lampu merah, was-was kalau merah berubah hijau, tidak perlu berlari-lari mengejar puluhan mobil. Tidak perlu bergelantungan diatas mobil. Jika dibandingan dengan pengemis dan pengamen yang seringkali menjual keibaan di lampu merah, penjajal koran tidak perlu dihardik oleh penguna kendaraan bermotor. Jika para pengguna kendaraan bermotor tersebut tidak berniat membeli Koran, mereka hanya tersenyum manis tidak dengan jawaban yang sinis.

Seringkali kita temui dijalanan, tapi pedulikah kita

Orangtua dan orang-orang terdekat mereka juga tidak khawatir mereka dijalanan. Mereka bisa menjual Koran mereka di stasiun, halte dan tempat keramaian lainnya. Ini jauh berbeda denga kondisi pengemis dan pengamen dijalanan. Terkadang pengemis dan pengamen juga seringkali mendapat perlakuaan yang kejam dari orang-orang disekitar lampu merah.

Kalau begini kondisinya apakah tidak ada cara penyelesaiannya. Tidak bisakah mereka menjual Koran yang diantar kerumah-rumah. Ini jauh lebih baik daripada menjual keibaan dijalanan. Tidak perlu menungu harapan yang tak pasti. Tapi siapakah yang peduli?

Tentang frestialdi

TercipTa dengan nama Fresti Aldi. Bukan nama minuman. Hanya saja mempunyai sedikit kemiripin. Entah siapa yang awalnya yang miliki nama tersebut. Yang jelas sampai sekarang enjoy aja dengan nama tersebut. Bahkan, nama tersebut juga memudahkan orang-orang untuk ingat dengan seorang Fresti Aldi. Selalu ingin menjadi yang terbaik buat orang lain. Selalu berpenempilan ceria walaupun dalam diri ada suatu masalah. Masalah itu akan akan besar kalau kita membesarkan masalah tersebut. Jangan pernah berharap sesuatu terjadi kalau kita tidak melakukan sesuatu, itulah prinsip hidup. Selalu tersenyum. Smile for All. With smile we can to be a good people. Don't worry. I can give my smile for you, for you and for you. Terakhir, selalu menggangap orang lain sama dengan kita. Jangan merasa hebat, tapi jangan juga merasa bodoh. Hargailah sebuah kelemahan. bye..
Pos ini dipublikasikan di Catatan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s