Diskusi KUI, Ketika Tontonan Televisi Miskin Nilai Pendidikan

Setelah mendiskusikan Nasionalisme pada pertemuan bulan lalu, Komunitas Untuk Indonesia mengadakan acara lagi di Aula STMIK Indonesia pada 27 Juli 2008. Diskusi ini dihadiri lebih dari 50 orang peserta. Sebagai moderator adalah Yusrizal KW dan Kak Pakar hari ini adalah Eka Vidya Putra. Diskusi ini juga menghadirkan Sumartono Mulyodihardjo, seorang komunikator Indonesia juga Wakil Ketua Komisi Penyiaran Indonesia daerah Sumbar.

Seperti biasa, lagu ciptaan Ismail Marzuki yang berjudul Indonesia Pusaka mengalun indah diiringi Pemusik Indonesia yang dimainkan oleh Andi (gitar dan harmonica), Afid (vokalis dan gitaris), dan Mamad (biolis). Nyanyian yang ini tentu menambah kecintaan remaja Indonesia, baik pelajar maupun mahasiswa, kepada Indonesia tercinta.

“Ketika Tontonan di Televisi Miskin Nilai Pendidikan” menjadi pilihan topik diskusi hari ini. Rasionalnya, kualitas tak lagi dipedulikan dalam tayangan televisi kini. Bisa dibilang sudah mendominasi tontonan masyarakat Indonesia. Anehnya, maraknya tayangan minim mutu menentukan rating sebuah program televisi. Realitanya kini, masyarakat Indonesia berperilaku konsumtif karena pada dasarnya manusia memiliki rasa ingin tahu. Pihak televisi juga belum mementingkan kecerdasan masyarakat Indonesia. Asal laku, mutu nggak mutu, tayang terus.

Masyarakat tidak menyadari tayangan bermasalah itu telah mematikan akal budi. Belum memahami bahwa tidak semua tayangan yang mendidik, masih ada tayangan yang melecehkan akal sehat dan meruntuhkan moral. Televisi telah menjadi Tuhan yang menghancurkan fungsi keluarga yang berperan utama dalam mendidik anak dan dalam mengenal dunia dari usia dini. Begitu Abel Tasman, pengamat televisi Indonesia berpendapat.

Penelitian dari Yayasan Pengembangan Media Anak (YPMA) tahun 2006, seperti yang ditulis P’Mails edisi 147, jumlah jam menonton pada anak-anak usia sekolah dasar berkisar antara 30-35 jam seminggu, ditambah dengan sekitar 10 jam untuk bermain video game (masih hiburan yang menyangkut televisi). Waktu ini sangat berlebihan untuk hiburan konsumsi remaja dan anak. Diperkirakan dalam setahun saja, pelajar Indonesia menghabiskan waktunya dengan menonton televisi selama 1600 jam. Sangat minim jika dibandingkan dengan jumlah jam belajar anak di sekolah dasar negeri selama setahun, yaitu sekitar 740 jam.

Menurut Ketua Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat, Sasa Djuarsa Sendjaja, suatu tayangan dinilai bermasalah apabila mengandung unsur kekerasan (fisik, sosial, dan psikologis) baik dalam bentuk tindakan verbal maupun non verbal, pelecehan terhadap kelompok masyarakat maupun individual, penganiayaan terhadap anak serta tidak sesuai dengan norma kesopanan dan kesusilaan.

Alizar, salah seorang peserta diskusi mempertanyakan sikap KPI dalam menindak permasalahan minimnya pendidikan dalam program televisi. Begitu juga Ilham Mustafa yang juga menanyakan bentuk pengawasan KPI. Fresti Aldi malah mempertanyakan peran Lembaga Sensor Indonesia. “Apakah hanya untuk menyensor adegan yang tidak senonoh? Apakah Lembaga Sensor Indonesia tidak menyensor tayangan-tayangan yang tidak layak, tidak bermutu, dan tidak mendidik?” tanya alumni SMA N 6 Padang ini.

Bapak Sumartono, selaku Wakil Ketua KPI Daerah Sumbar menjelaskan, KPI hanya berhak untuk mengawasi lembaga penyiaran dan mengawasi isi siaran. Jika sudah tidak sesuai, maka KPI akan menegur lembaga penyiaran tersebut. Untuk tindak lanjutnya dilakukan oleh Departemen Komunikasi dan Informasi.

Hari Tanpa Televisi 2008 pada 20 Juli lalu diharapkan dapat menyadarkan masyarakat Indonesia agar tidak ketergantungan pada televisi. Pacar-pacar Indonesia, sebutan untuk remaja yang mencintai Indonesia, tak ingin lagi televisi menghancurkan bangsa, tak ingin menyita waktu belajarnya, tak ingin waktu bersama keluarganya terbuang sia-sia. Kini mereka punya pendapat dan menawarkan solusi. Saatnya remaja-remaja Indonesia buka mulut.

Ade, mahasiswa UNP ini tak setuju jika televisi membodohi penontonnya. Buktinya tak sedikit remaja yang kreatif dan intelek. Pendapat ini disetujui Lily Devani dari SMA Pembangunan Padang. Menurutnya, masih ada program-program yang bermanfaat dan bernilai pendidikan. Tapi, ia tak membantah bahwa masih ada teman-teman yang terlalu lengah dan terlalu asyik menonton televisi. Akibatnya, mereka kurang peduli dengan sekolah dan lingkungan sekitarnya. Minim waktu untuk belajar, membaca, bergaul, dan berdiskusi.

Maghriza Novita Syahti dari Psikologi UNP menawarkan solusi untuk masalah ini. Kita harus menyadari bahwa keluarga adalah agen sosialisasi utama, jangan sampai televisi menggantikan posisi itu. Pemerintah juga harus lebih tegas dengan mengatur jadwal siaran televisi. Saatnya setiap program televisi diberi pelabelan sehingga menghindari penyimpangan perilaku remaja. Pihak penyiaran pun harus mengkondisikan jadwal tayangnya untuk anak-anak dan remaja untuk menonton tayangan yang bermutu dan mendidik.

Nilna R. Isna dari Kesehatan Masyarakat UNAND gemas dengan realita televisi sekarang. Ia berharap orangtua menyingkirkan televisi dari ruang makan atau ruang keluarga. Kedua tempat sentral itu menyeret anggota keluarga untuk menonton televisi pada waktu yang harusnya disediakan untuk keluarga

“Jika perlu televisi ditaruh saja di gudang atau di kamar orang tua, jadi kami menjadi malas untuk menonton televisi,” cetusnya.

Sebagai remaja yang selalu ada untuk Indonesia, pacar-pacar Indonesia ini berpesan. Mereka berharap, teman-teman Indonesia mampu memilih tayangan yang berkualitas. Stop sinetron yang membuat penonton cengeng, berburuk sangka kepada orang lain, berbuat anarkis, atau stop menonton tindakan rekonstruksi ulang sebuah peristiwa kriminal yang secara tidak langsung mengajarkan tindakan kriminal. Pacar Indonesia tidak ingin teman-teman merusak cintanya kepada Indonesia. Saatnya kita memperhatikan Indonesia yang menginginkan Indonesia sempurna dan pulih dari setiap kekurangannya. Mutia Ulfah, mahasiswi IAIN Imam Bonjol Padang dalam pesannya menginginkan Indonesia melihat yang baik-baik, mendengar yang baik-baik, membaca yang baik-baik dan berbuat yang baik-baik. Jika tidak, ia masih pacar Indonesia yang mencintai Indonesia apa adanya. Jangan ada yang mencela Indonesia lagi, jangan sampai ada yang berbuat anarkis, tetapi mari kita tutupi setiap kekurangan Indonesia dengan perubahan sedikit demi sedikit.

Semua bertepuk untuk pacar Indonesia. Acara ditutup diiringi lagu Pacar Indonesia, lirik oleh Yusrizal KW dan musik oleh pemusik Indonesia, Afid, Mamad dan Andi. (Maghriza Novita Syahti)

Tentang frestialdi

TercipTa dengan nama Fresti Aldi. Bukan nama minuman. Hanya saja mempunyai sedikit kemiripin. Entah siapa yang awalnya yang miliki nama tersebut. Yang jelas sampai sekarang enjoy aja dengan nama tersebut. Bahkan, nama tersebut juga memudahkan orang-orang untuk ingat dengan seorang Fresti Aldi. Selalu ingin menjadi yang terbaik buat orang lain. Selalu berpenempilan ceria walaupun dalam diri ada suatu masalah. Masalah itu akan akan besar kalau kita membesarkan masalah tersebut. Jangan pernah berharap sesuatu terjadi kalau kita tidak melakukan sesuatu, itulah prinsip hidup. Selalu tersenyum. Smile for All. With smile we can to be a good people. Don't worry. I can give my smile for you, for you and for you. Terakhir, selalu menggangap orang lain sama dengan kita. Jangan merasa hebat, tapi jangan juga merasa bodoh. Hargailah sebuah kelemahan. bye..
Pos ini dipublikasikan di Catatan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s