Bukan Baju yang Putih, Tapi Hati yang Suci

Sudah menjadi kebisaan, jika lebaran datang kita menyambutnya dengan semeriah mungkin. Wajar, setelah satu bulan menahan hawa nafsu, momen lebaran pun dimanfaatkan udah merayakan kemenangan. Namun, terkadang banyak hal yang tidak semestinya dilakukan untuk merayakan hari kemengan tesebut.

Berbagai persiapan telah dilakukan. Jauh-jauh hari ada yang sudah membuat kue, mengecat rumah, membeli perabotan baru. Tak ketinggalan, baju baru juga mesti ada dalam perayaan ini. Nah kalau tidak, ada yang sampai tidak mau ikut shalat idul fitri gara-gara tak punya baju lebaran.

Parahnya, semuanya serba baru. Baju, celana sepatu, bahkan perlengkapan sholat sekalipun mesti baru. Nah pengeluaran di hari raya pun semakin besar. Padahal, momen perayaan lebaran bukan waktunya untuk berfoya-foya atau menmghamburkan uang.

Puasa, kita diajarkan untuk bagaimana menjaga hawa nafsu. Bagaimana hidup sederhana. Lantas kenapa Ramadhan telah usai kita tidak hidup seperti bulan ramadhan, hidup sederhana dan apa adanya. Puasa tidak pernah mengajarkan untuk berfoya-foya seperti itu. Wajar saja jika kita mempersiapkan segala sesuatunya, namun jangan terlalu berlebihan.

Banyak dari kita yang harus menggunakan atribut yang serba baru. Hal ini tentu saja menimbulkan dampak yang negatif. Ketika kebiasaan ini sudah membudaya di negeri ini, perlengkapan baru seakan menjadi hal yang sangat penting ada ketika lebaran tiba. Sebuah kebiasaan yang sama sekali buruk.

Orang-orang atau kita sendiri cenderung lebih memikirkan atribut baru ketimbang memang hal lain yang dirasa penting. Misalkan baju baru lebih berharga ketimbang berinfaq, atau perlengkapan lainnya yang memang penting. Begitukah budaya kita. Entah dari kapan kebiasaan ini mulai membuadaya. Yang jelas kebiasaan ini membuat pola kehidupan masyarakat kita berubah menjadi masyarakat yang konsumtif. Bahkan memang tak jarang orang yang berperilaku serrba berlebihan saat lebaran. Tentunmya ini akan menimbulkan perilaku sombong.

Padahal kalau kita telisik lebih jauh, tak pernah ada ajaran yang mewajibkan kita harus memakai hal yang serba baru saat ramadhan datang. Kemungkinan terbesar adalah kesalahpahaman dari masyarakat kita.

Maksudnya adalah, saat lebaran datang kita harus benar kembali putih dan suci pada fitrahnya. Namun, masyarakat kita mengangap kesucian ini terlahir dari hal yang serba baru. Jika ingin suci pakailah yang baru. Mungkin itu yang menjadi pegangan kita selama ini sehingga kebiasaan yang seperti ini sulit untuk merubahnya.

Kesalahan selanjutnya adalah kesucian yang dimaksud memang adalah lahir dan bathin. Namun, kita ternyata lebih mengutamakan kesucian yang berkaitan dengan lahir. Segala sesuatui yang tampak itulah yang menjadi prioritas utama. Padahal jusrtu kesucian bathinlah yang berpengaruh dalam hal ini.

Nah, mari kita membuka mata kita kalau masih banyak hal yang terpentinng yang harus kita lakukan di hari kemenangan tersebut. Tanpa pakaian baru kita masih bisa bersilahturrahmi dan bermaaf-maafan sesama kita. Mungkin ini akan lebih membuat perayaan idul fitri kita bnar-benar begitu menang dan bermakna.

Tentang frestialdi

TercipTa dengan nama Fresti Aldi. Bukan nama minuman. Hanya saja mempunyai sedikit kemiripin. Entah siapa yang awalnya yang miliki nama tersebut. Yang jelas sampai sekarang enjoy aja dengan nama tersebut. Bahkan, nama tersebut juga memudahkan orang-orang untuk ingat dengan seorang Fresti Aldi. Selalu ingin menjadi yang terbaik buat orang lain. Selalu berpenempilan ceria walaupun dalam diri ada suatu masalah. Masalah itu akan akan besar kalau kita membesarkan masalah tersebut. Jangan pernah berharap sesuatu terjadi kalau kita tidak melakukan sesuatu, itulah prinsip hidup. Selalu tersenyum. Smile for All. With smile we can to be a good people. Don't worry. I can give my smile for you, for you and for you. Terakhir, selalu menggangap orang lain sama dengan kita. Jangan merasa hebat, tapi jangan juga merasa bodoh. Hargailah sebuah kelemahan. bye..
Pos ini dipublikasikan di Catatan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s