Cerdas Dengan Wisata Budaya

Rombongan Padang Field Trip tiba di PDIKM

Rombongan Padang Field Trip tiba di PDIKM

reporter P’Mails ketika mendapat undangan Sumatra and Beyond (biro jasa perjalanan) menjadi tamu Padang Field Trip. Sebuah perjalanan yang khusus untuk menambah wawasan budaya para turis. Apalagi, yang jadi turis kali ini adalah pelajar SMP Pelita Harapan Lippo Karawachi. Rangkuman perjalanannya bisa dinikmati pada halaman ini.

Rabu pagi (04/12) beberapa reporter P’Mails sudah berkumpul di Padang Ekspres. Di antaranya Amel, Deli, Fresti dan Parlen. Pukul tujuh Bang On Sudah datang menjemput bersama Bang Yono. Setelah dari Padang Ekspres, kemudian bertolak ke rumah Om KW. Sementara Desi dan Fiska menunggu di By Pass.

Sekitar pukul sepuluh rombongan P’Mails sudah sampai di PDIKM. Kedatangan tersebut hanya berselisih berapa menit dengan kedatangan rombongan pelajar dari SMP Pelita Harapan tersebut.

Sekitar setengah jam semua rombongan pelajar dari SMP Pelita Harapan dan Rombongan P’Mails diberikan waktu untuk melihat-lihat benda-benda sejarah di sekitar PDIKM. Selain melihat-lihat benda budaya tersebut. Rombongan itu juga dipersi­lahkan mencari tahu dengan pemandu yang ada di sana. Tanpa terkecuali reporter P’Mails.

Puas melihat-lihat dan bertanya seputar Minangkabau para siswa SMP Pelita Harapan tersebut akhirnya dikumpulkan guna mengikuti pembahasan tentang sosok A.A Navis bersama Yusrizal KW (Om KW).

Saat sesi pembahasan tersebut Om KW menceritakan pengalaman pribadinya bersama A.A Navis ketika Pemimpin Redaksi P’Mails itu memenangkan sebuah lomba penulisan di Jakarta tahuan 2002. “Saya sangat dekat dengan beliau tiga bulan sebelum kematiannya. Hampir tiap hari, beliau menelpon saya. Saat itu, saya merasa sekolah. Banyak sekali yang di dapat dari Pak Navis,” cerita Om KW.

Selain itu, ia juga membicarakan mengenai karya-karya, cara berbahasa, sikap hidup, dan pandangannya terhadap Islam dan Minangkabau. “Pak Navis itu ekstrim sekali. Kalau baca cerpen Manrabbuka, kita dibuatnya senam jantung. bagaimana tidak, ada orang yang baik, terten­dang kaki kiri Malaikat, malah akhirnya masuk neraka,” terang Om KW sambil senyum.

dari sisi bahasa banyak juga yang unik dari Alm. Navis. “Ia berani menggunakan bahassa daerah. Alasannya, biar mereka juga kenal dengan bahasa Minangkabau. Contohnya, ada kata diguguh, bertura-tura. Sekarang saja, jarang orang memakai kata itu,” tuturnya.

Semua pelajar antuasias mendengar paparan Om KW. Saat membuka sesi tanya jawab, Om KW dikejutkan dengan banyaknya pelajar yang melontarkan pertanyaan seputar A.A Navis seperti bagaimana A.A Navis mencari idenya dalam membuat karyanya, apa reaksi A.A Navis setelah tahu cerpennya disukai masyarakat, apa sifat yang paling tidak disenangi A.A Navis. Ada juga yang bertanya tentang alasan A.A Navis membahas masalah cina buta yang sekaligus menjadi salah satu judul cerpennya.

Om KW sangat memuji pertanyaan pelajar-pelajar itu. Menurutnya pertanyaan tersebut menarik dan memikat. Om KW jadi takut sendiri. Banyak pertanyaan yang mengarahkannya bicara “seolah-olah” menjadi Pak Navis. “Tapi saya akan jawab berdasarkan bacaan saya terhadap buku Navis, ya,” katanya.

Pertanyaan-pertanyaan menarik itu muncul tak lepas dari kekukuhan Sekolah Pelita Harapan mengajarkan sastra dari dini. Untuk anak kelas tiga SMP, Antologi Lengkap Cerpen A.A. Navis (yang tebalnya 786 halaman) menjadi bacaan wajib. Setiap murid wajib memilikinya. Bahkan, kelulusan mereka ditentukan oleh makalah tentang A.A. Navis. Makanya, pertanyaan-pertanyaan itu bertujuan untuk mendapat jawaban seddalam mungkin sehingga mereka bisa lebih kenal dengan pengarang yang terkenal dengan cerpen “Roboh­nya Surau Kami” itu.

Reporter P’Mails yang menyaksikan diskusi itu geleng-geleng kepala. “Kenapa kita tidak ada, ya, belajar sastra kayak gini,” celetuk Fiska. Amel menganggukkan kepala sambil menanyakan harga buku. “Ah, tak habislah duit empat juta, tu,” seloroh Bang On.

Pukul dua belas sesi tersebut ditutup sekalian dengan penyerahan kenang-kenangan dan sertifikat dari SMP Pelita Harapan. Sebagai balasan, Fresti juga menyerahkan beberapa eksemplar tabloid P’Mails sebagai bentuk ucapan terima kasih mengikutkan tabloid pelajar Sumbar sebagai tamu dalam perjalanan ini.

Selesai dari PDIKM, rombongan lalu melanjutkan perjalanan ke Rumah Makan Pak Datuak untuk makan siang. Di sana reporter P’Mails diberi sedikit wejangan mengenai cara berbisnis selagi muda oleh Om Ridwan Tulus dari Sumatera and Beyond.Om Ridwan menceritakan tentang pengalamannya merintis usaha pariwisata. Maklum, Sumatera and Beyond Om Ridwan ditunjuk SMP Pelita Harapan tersebut untuk mengatur perjalanannya.

Om Ridwan banyak memberikan motivasi kepada reporter P’Mails. Rencana selanjutnya, Om Ridwan akan mengadakan pertemuan dengan reporter P’Mails untuk sekedar tukar pikiran dan memberikan motivasi tentang cara mudah berbisnis tanpa modal. Om Ridwan juga menjelas­kan kalau zaman sekarang, banyak celah untuk berbisnis, jadi tak perlu ragu untuk berbisnis. “Yang penting jadilah merah diantara putih atau putih di antara merah,” terang Om Ridwan.

Om Ridwan juga membuka tawaran kerja sama bagi siapa saja yang mau berbisnis. Syaratnya cukup gampang. “Yang penting rajin dan bisa berbahasa inggris, lalu juga bisa menguasai teknologi informasi. Sekarang sudah tersedia banyak blog gratis, manfaatkanlah untuk berpro­mosi,” jelas Om Ridwan.

Di rumah makan Pak Datuak, rombongan SMP Pelita Harapan dan P’Mails akhirnya berpisah. Amel menjadi orang yang paling menyanyangkan perpisahan itu. Soalnya Amel sudah begitu dekat dengan beberapa orang dari rombongan tersebut termasuk dengan guru SMP Pelita Harapan, Miss Sofia . “Kirimkan lagi kami tabloidnya, ya,” ujar Miss Sofia di akhir perpisahan.

Dari Rumah Makan Pak Datuak, Rombongan P’Mails kembali lagi ke PDIKM untuk menyesaikan tugasnya, mewawancara pemimpin PDIKM, Pak Ir Joesoef B. Para reporter langsung menodong bapak pimpinan PDIKM tersebut.

Puas bertanya-tanya, sekitar pukul tiga sore rombongan P’mails kembali menuju Padang dengan semangat baru dan ilmu baru tentunya.

(Fresti Aldi)

Tentang frestialdi

TercipTa dengan nama Fresti Aldi. Bukan nama minuman. Hanya saja mempunyai sedikit kemiripin. Entah siapa yang awalnya yang miliki nama tersebut. Yang jelas sampai sekarang enjoy aja dengan nama tersebut. Bahkan, nama tersebut juga memudahkan orang-orang untuk ingat dengan seorang Fresti Aldi. Selalu ingin menjadi yang terbaik buat orang lain. Selalu berpenempilan ceria walaupun dalam diri ada suatu masalah. Masalah itu akan akan besar kalau kita membesarkan masalah tersebut. Jangan pernah berharap sesuatu terjadi kalau kita tidak melakukan sesuatu, itulah prinsip hidup. Selalu tersenyum. Smile for All. With smile we can to be a good people. Don't worry. I can give my smile for you, for you and for you. Terakhir, selalu menggangap orang lain sama dengan kita. Jangan merasa hebat, tapi jangan juga merasa bodoh. Hargailah sebuah kelemahan. bye..
Pos ini dipublikasikan di Catatan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s