PDIKM, Merasakan Indahnya Minangkabau

Tak lengkap kiranya kalau berkun­jung ke Padangpanjang tanpa me­ngun­jungi tempat yang satu ini. Pusat Dokumentasi dan Informasi Kebu­dayaan Minangkabau (PDIKM) atau yang lebih dikenal dengan nama Minangkabau Village (Perkampungan Minangkabau)

Sejuk, asri, indah dan nyaman itulah yang tergambar dari lokasi PDIKM ini. Pemandangan yang indah ditambah dengan paduan bangunan Rumah Gadang khas Minangkabau, ditambah lagi dengan berdirinya empat buah Rangkiang yang tersususun rapi di depannya menjadikan tempat ini betul-betul menarik dan begitu berse­jarah. Sejarahnya, tempat ini sudah berdiri sejak delapanbelas tahun yang lalu. Tempat ini baru diresmikan tanggal 17 Desember 1990. Sedangkan peletakkan batu pertamanya oleh Bapak Hasan Basri (Gubernur kala itu) pada tangal 8-8-88. Sebuah angka yang menarik untuk diingat.

Menurut, Bapak Ir Joesoef B, atau yang akrab disapa dengan Pak U, pendirian ini bertujuan untuk me­ngenal­kan kepada masyarakat khu­sus­nya generasi muda tentang sejarah, cerita dan tentang Minangkabau itu sendiri. Aslinya, kebudayaan Minangkabau itu hanya berasal dari cerita, tak ada sejarah tertulis dari Minangkabau, makanya didirikan tempat ini untuk mewujudkan cita-cita itu.

Ide pendirian ini sebetulnya digagas oleh kakek Pak U yaitu Abdul Hamid. Sementara pendanaanya berasal dari H Bustanul Arifin, Mamak (paman) dari Pak U. Cerita Pak U, tanah ini merupakan tanah kaum dan tak boleh dijual, bahkan kepada pemerintah sekalipun. Namun, demi melstarikan budaya, agar anak cucu jadi tahu asal-usulnya, hal itu terpaksa dilanggar. Untuk mengungkapkan rasa terima kasih, pemerintah pun mendirikan Balairuang di daerah Pasar Usang, Padangpanjang.

Berjalan-jalan di dalam rumah Gadang ini sangatlah mengasyikkan. Pengetahuan kita seputar Minangkabau akan bertambah dengan adanya dokumentasi foto seputar Minangkabau. Apalagi ditambah dengan kehadiran beberapa orang pemandu yang setiap saat selalu melayani kita tentang pertannyaan seputar Minangkabau.

Selain foto-foto seputar Minangkabau ditempat ini juga terdapat sebuah ruangan pustaka. Di dalamnya jelas tersusun rapi ratusan buku dan sejarah tertulis lainnya tentang Minangkabau. Kita juga dapat mencari informasinya di sini, tinggal lihat katalog, maka apa yang kita inginkan bisa didapat

Pengumpulan barang-barang dokumentasi tersebut diakui Pak U, susah-susah gampang. Ada sebahagian masyarakat yang dengan senang hati menyerahkannya. Tapi ada juga yang enggan. Bahkan ada yang didapat di negara lain seperti Belanda.

Rumah Gadang di PDIKM ini tergo­long dalam rumah gadang jenis Gajah Maharam dengan sembilan ruang, tiga lanjar dan dua buah anjuang disudut kanan dan kiri Rumah Gadang. Kalau melihat sejarah, rumah ini termasuk dalam kelarasan Koto Piliang yang dipimpin oleh Datuak Katumangguangan.

Yang menarik lainnya dari tempat ini adalah sebuah ruang di kolong. Di Rumah Gadang mana saja tak pernah kita temukan ruangan di bawah rumah gadang ini. Biasanya, masyarakat menggunakan kolong tersebut sebagai tempat berternak atau gudang. Tapi pada rumah gadang ini, ruangan di bawah ini dijadikan pelaminan. Jika ada orang yang mau merayakan pesta perkawinan disini bisa memakai tempat ini. Ke­banyakkan orang yang sering meng­guanakan jasa pelaminan ini adalah orang luar Minangkabau seperti Malaysia.

Di ruangan ini kita juga bisa mencoba berfoto di pelaminan yang didesain sendiri oleh Pak U. Bukan hanya sekedar berfoto saja, kita juga bisa menyewa pakaian adat Minangkabau ditempat ini. Benar-benar terasa nuansa Miangkabaunya. Selain itu juga, di rangan ini kerap pula diadakan pertemuan-pertemuan penting..

Di bagian luar, terhampar taman yang luas dengan aneka jenis bunga. Bunga-bunga yang indah yang tumbuh subur. Bisa dibilang tak ada tanah yang kosong tanpa tanaman dan bunga-bunga. “Dulu, sekitar 300 jenis bunga hidup disini. Macam-macam bunganya. Ada pula yang langsung didapat dari Belanda,” ujarnya. Tapi, walaupun jumlah bunga di sini tak sebanyak yang dulu, kawasan taman ini masih terasa indah.

Dengan keindahan ini makanya tak salah kalau tempat ini menjadi prioritas utama kunjungan wisata. Sudah banyak yang pernah berkunjung kesini. Terhitung, tidak hanya anak sekolah saja. Ada yang luar Minangkabau seperti Malaysia. Bu Megawati juga Pernah berkunjung kesini. Bahkan Ratu Belanda, Ratu Beatrix,  juga sudah pernah merasakan indahnya nuansa Minangkabau di tempat ini. Makanya, jangan sampai melupakan budaya Minangkabau yang begitu indah ini.

(Fresti Aldi)

Tentang frestialdi

TercipTa dengan nama Fresti Aldi. Bukan nama minuman. Hanya saja mempunyai sedikit kemiripin. Entah siapa yang awalnya yang miliki nama tersebut. Yang jelas sampai sekarang enjoy aja dengan nama tersebut. Bahkan, nama tersebut juga memudahkan orang-orang untuk ingat dengan seorang Fresti Aldi. Selalu ingin menjadi yang terbaik buat orang lain. Selalu berpenempilan ceria walaupun dalam diri ada suatu masalah. Masalah itu akan akan besar kalau kita membesarkan masalah tersebut. Jangan pernah berharap sesuatu terjadi kalau kita tidak melakukan sesuatu, itulah prinsip hidup. Selalu tersenyum. Smile for All. With smile we can to be a good people. Don't worry. I can give my smile for you, for you and for you. Terakhir, selalu menggangap orang lain sama dengan kita. Jangan merasa hebat, tapi jangan juga merasa bodoh. Hargailah sebuah kelemahan. bye..
Pos ini dipublikasikan di Catatan dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s