Menyeberanglah di Jembatan Penyeberangan

Jembatan penyeberangan kurang termanfaatkan di kota Padang. Padahal, itu baik, selain zebra cross, sebagai tempat menyeberang aman.

Saya mencoba mencari tahu berapa banyak jumlah jembatan penyeberangan di kota Padang. Setelah tanya sana-sini, mengingat tempat-tempat yang pernah saya kunjungi di dalam kota Padang ini, ternyata ada tiga. Pertama di Blok A, kedua dekat Plasa Andalas dan yang ketiga di Minang Plasa.

Setelah saya mencoba secara serius mengamati, sejauh mana orang memanfaatkan jembatan penyeberangan, akhirnya saya mendapatkan jawaban: Masyarakat belum memanfaatkan jembatan penyeberangan yang sengaja disediakan untuk mereka, demi keselamatan dan kenyamanan mereka menyeberang. Jembatan itu sepi.

Padahal sesuai pengamatan saya beberapa hari lalu, jembatan itu masih dalam kondisi yang baik, tidak ada yang rusak. Di depan Plasa Andalas misalnya, jembatan itu dibuat setelah Plasa itu diresmikan. Tapi belum terlalu banyak orang yang menginjakkan kakinya di sana.

Satu hal yang terlihat di sana mungkin adalah kondisinya yang tidak terawat dan banyak sampah yang bertebaran, terumata debu-debu. Di tangga dekat Plasa Andalas itu, orang berjualan. Kalaupun ada yang menyentuh bagian atas jembatan itu hanya dihuni oleh para pengemis yang mungkin memanfaatkan jembatan tersebut untuk tempat peristirahatannya.

Saya masih ingat, ketika saya sekolah dulu. Waktu itu, saya masih takut menyeberang di jalan raya. Apalagi di Minang Plasa. Selain lokasi penyeberangan di jalan. Kalau tidak salah di depan Minang plasa itu masih dipagar. Jalan satu-satunya menyeberang memang di jembatan penyeberangan. Lumayan banyak orang yang menyeberang di jembatan itu.

Tapi sekarang, sejak pagar di depan Minang itu dijebol dan dibuat semacam Mini Zebra Cross hampir tidak ada lagi orang yang memanfaatkan jembatan penyeberangan. Jika lewat di sana saya hanya melihat jembatan itu kosong. Kadang memang kalau turun di sana saya ingin menyeberang di jembatan penyeberangan itu. Tapi malu juga kalau sendiri-sendiri jalan di jembatan penyeberangan yang kosong itu. Mungkin itu juga yang dirasakan sebahagian orang sehingga tak ada lagi yang mau memanfaatkan jembatan penyeberangan itu.

Yang ditakutkan jika masih memanfaatkan zebra cross buatan tadi akan menimbulkan kecelakaan. Bayangkan pengendara mobil tidak akan mengurangi kecepatannya di sana karena bukan tempat penyeberangan. Malahan kalau menyeberang di sana yang dirasakan rasa takut karena mendadak saja kendaraan akan melintas dengan kecepatan tinggi.

Di depan Plasa Andalas lain lagi yang terjadi. Kendati pun ada jembatan penyeberangan, orang-orang lebih senang melangkahi taman atau area di bawah jembatan penyeberangan itu. Kalau pun tak mau melangkahkan taman mereka juga rela berjalan beberapa meter untuk mencari tempat yang kosong untuk menyeberang ketimbang menelusuri tangga demi tangga yang ada di jembatan penyeberangan, Padahal kalau mau menyeberang dari seberang plasa bisa memakai jembatan penyeberangan bisa langsung sampai di sekitar Plasa Andalas.

Kalau di dipasar raya atau dekat Blok A mungkin jembatan penyeberangannya tidak digunakan karena jalanan disekitar sana memang tidak terlalu berbahaya. Artinya disana kan pasar, jadi tidak mungkin kalau kendaraan melaju dengan kondisi yang tidak lambat. Orang menyeberang dengan rasa aman.

Kalau boleh berpendapat, bagaimana kalau di sekitar daerah yang ramai atau daerah yang sering terjadi kecelakaan pejalan kaki dibangun jembatan penyeberangan. Alasannya tentu saja demi keamanan dan keselamatan. Sekarang jumlah kendaraan tidak sedikit. Kalau ada nenek-nenek, kakek-kakek atau orang tua jadi tidak kerepotan menyeberang. Apalagi kalau pelajar terutama pelajar SD.

Setidaknya pihak yang terkait atau yang bertangung jawab terhadap itu bisa mengkampanyekan menyeberanglah di jembatan penyeberangan. Yang paling penting juga adalah bagaimana membiasakan diri kita untuk menyeberang di jembatan penyeberangan dan tanamkan juga rasa takut kalau menyeberang di bawah jembatan penyeberangan akan terjadi kecelakaan.

Fresti Aldi

(Tulisan ini pernah terbit di Padang Ekspree Minggu halaman Citizien Joernalism)

Tentang frestialdi

TercipTa dengan nama Fresti Aldi. Bukan nama minuman. Hanya saja mempunyai sedikit kemiripin. Entah siapa yang awalnya yang miliki nama tersebut. Yang jelas sampai sekarang enjoy aja dengan nama tersebut. Bahkan, nama tersebut juga memudahkan orang-orang untuk ingat dengan seorang Fresti Aldi. Selalu ingin menjadi yang terbaik buat orang lain. Selalu berpenempilan ceria walaupun dalam diri ada suatu masalah. Masalah itu akan akan besar kalau kita membesarkan masalah tersebut. Jangan pernah berharap sesuatu terjadi kalau kita tidak melakukan sesuatu, itulah prinsip hidup. Selalu tersenyum. Smile for All. With smile we can to be a good people. Don't worry. I can give my smile for you, for you and for you. Terakhir, selalu menggangap orang lain sama dengan kita. Jangan merasa hebat, tapi jangan juga merasa bodoh. Hargailah sebuah kelemahan. bye..
Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s