Bila Menunggu

Membosankan, begitulah kata yang seringkali terucap bila sedang menunggu. Apa saja, baik itu menunggu seseorang, menunggu bel istirahat berbunyi, menunggu kepastian yang tak jelas. Semua nya akan tertuju pada satu kata, membosankan.

Mungkin banyak yang setuju bila kata bosan terlontar bila kita menunggu. Siapa pun pastinya tak akan suka menunggu bila akhirnya juga akan membosankan. Tapi kenapa kita mesti menunggu? Jawabannya karena rangkaian dari proses kehidupan kita bermulai dari menunggu dan akan berlangsung menunggu demi menunggu, apapun itu. Suka tak suka, walaupun membosankan kita mesti menunggu.

Lantas tak ada kata yang lebih indah daripada membosankan apabila menunggu? Sepertinya ada, tapi mungkin kita tak pernah tertuju pada kata itu. Kita hanya terlalu menyetujui kata yang telah popular, seperti kata membosankan.

Coba sedikit setel pikiran, pinggirkan sementara kata membosankan dari memori, ketika kita sedang menunggu, mungkin itu akan membantu menemukan kata yang akan dimaksud. Rasanya memang tak mudah menyetel atau mengganti pikiran membosankan, tapi cobalah sedikit berusaha, pasti bisa.

Selain itu, saat menunggu kita hanya fokus pada satu kegaiatan, yaitu menunggu. Akibatnya, rasa bosan, jenuh, dan tak menyenangkan muncul kala kita menunggu. Kita selalu merasa tak sabaran kala menunggu. Rasa-rasanya hal yang kita tunggu sudah di depan mata, padahal masih agak jauh, hanya saja kita merasa buru-buru, sehingga tak menyadari hal-hal kecil lain yang akan bermanfaat.

Kenapa kita tak mencoba melakukan hal lain saat menunggu. Misalnya saja, saat menunggu seseorang dari rumah, kenapa tak mencoba menyalakan televisi untuk menghilangkan rasa jenuh dan mengisi kegaiatan menunggu.  Saat sedang menunggu angkot kenapa tak menyetel musik pada hape dan mencoba mendengarkannya, atau kenapa tak mencari seseorang yang diajak berkenalan dan mengobrol selama menunggu, atau lagi kenapa tak mencoba memperhatikan apa saja yang melintas di jalanan dan mencoba mencari ide dari apa yang kita lihat atau juga mencari tahu.

Tak pernah bukan kita melakukan hal itu. Coba saja kita memikirkan hal ini, pasti saja kita tak akan bertemu pada kata membosankan. Sebenarnya saat menunggu, kita mesti mencoba melihat apa yang akan kita tunggu dan melakukan hal yang tidak membosankan seperti kita menunggunya.

Ada hal lain kenapa kita juga mesti melakukan hal-hal lain saat menunggu. Resiko, itulah hal lain yang harus kita terima. Prediksi buruknya, mungkin apa yang kita tunggu tak akan datang, tak sempat datang, atau tak bisa datang. Memang, kita harus selalu berpikiran positif. Namun, adakalanya kita juga menyiapkan alternatif dari sebuah keputusan menunggu

Itulah gunanya mencari alternatif lain atau melakukan kegiatan lain. Contoh sederhanaya, seperti yang ada tadi. Misalnya saat jenuh menunggu angkot tadi, ketika kita menunggu di tempat yang kita tak kenal siapa-siapa kenapa, ketika kita mencari seseorang untuk diajak berkenalan, sdetidaknya kita telah membunuh rasa jenuh. Tapi hal lain yang mesti kita perhatikan adalah ketika tak ada angkot yang lewat, kita bisa mengajak orang yang telah kita kenal tersebut untuk sama-sama jalan. Bukankah jalan bersama daripada jalan sendiri lebih terasa tak membosankan. Sama-sama jalan hinga melihat angkot, kalau pun masuk tak ada angkot yang lewat, bisa juga memnafaatkan informasi dari ojek dan menimbang-nimbang akan naik ojek atau jalan kaki bersama.

Mungkin, menunggu juga erat kaitannya dengan kehidupan yang kita jalani. Contohnya, bila telah ikut SNMPTN dan menunggu hasilnya. Tak ada salahnya juga mencoba mencoba mengikuti cara yang yang lain atau mengikuti tes yang lain. Jadi, ketika hasil menunggu hasil SNMPTN tidak memuaskan kita sudah ada rencana lain dan tidak terlalu merasa kecewa. Begitulah, membosankan atau tidak menunggu tergantung dari bagaimana cara kita menunggu dan melakukan apa saja saat menunggu. Selain itu, berusahalah untuk  menyingkirkan kata “membosankan” dan mengubahnya menjadi kata yang kita cari tadi, yaitu menyenangkan. (***)

Tentang frestialdi

TercipTa dengan nama Fresti Aldi. Bukan nama minuman. Hanya saja mempunyai sedikit kemiripin. Entah siapa yang awalnya yang miliki nama tersebut. Yang jelas sampai sekarang enjoy aja dengan nama tersebut. Bahkan, nama tersebut juga memudahkan orang-orang untuk ingat dengan seorang Fresti Aldi. Selalu ingin menjadi yang terbaik buat orang lain. Selalu berpenempilan ceria walaupun dalam diri ada suatu masalah. Masalah itu akan akan besar kalau kita membesarkan masalah tersebut. Jangan pernah berharap sesuatu terjadi kalau kita tidak melakukan sesuatu, itulah prinsip hidup. Selalu tersenyum. Smile for All. With smile we can to be a good people. Don't worry. I can give my smile for you, for you and for you. Terakhir, selalu menggangap orang lain sama dengan kita. Jangan merasa hebat, tapi jangan juga merasa bodoh. Hargailah sebuah kelemahan. bye..
Pos ini dipublikasikan di Catatan. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Bila Menunggu

  1. sri berkata:

    setuju kalau kata menunggu terbagi menjadi dua yaitu membosankan dan menyenangkan.
    1. Membosankan jika menunggu hal yang belum pasti.
    2. Menyenangkan jika menunggu hal yang pasti

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s