Hidup dalam Ramalan

Seorang teman saya datang membawa sebuah majalah remaja ke kelas. Sementara itu,  teman yang lainnya juga bermaksud meminjam majalah tersebut. Banyak juga yang mengantri meminjam majalah tersebut, termasuk saya, saya juga ingin membacanya. Tapi, siapa cepat dia dapat, begitulah kata yang punya majalah.

Seorang teman saya mendapat kesempatan meminjamnya lebih dulu. Majalah tersebut dibolak-baliknya hingga mendapatkan halaman yang diinginkannya. Saya yang tak jauh dari tempatnya juga ikut membolak-balik mata mengikuti arah buku yang dibaliknya. Sampailah pada akhirnya pada halaman yang diinginkannya. Saya hanya mengikut saja padanya, karena dia duluan meminjam, jadi mau tak mau saya harus ikut membaca apa yang dibacanya.

Ia membaca sebuah halaman horoskop atau yang lebih populer dikenal dengan nama zodiak. Ia tampak asyik sekali membaca kata demi kata yang ada pada horoskop yang ia miliki sesuai dengan angka kelahiran. Setelah membacanya, ia senyum-senyum sendiri dan tertawa sendiri lalu berlalu meninggalkan majalah itu dan meninggalkan tanda tanya saya, ada apa dengan teman saya ini? Apa dia, akh, tidak mungkin dia tidak waras, dia kan termasuk teman yang pintar di kelas saya.

Saya mendapatkan hal yang sama setiap kali teman yang lain membacanya. Sama seperti teman yang tadi, ia hanya membuka satu halaman, yaitu halaman horoskop. Tapi kejadiannya tak terlalu aneh seperti teman yang pertama tadi, senyum-senyum dan tertawa sendiri setelah membaca kata demi kata, sugesti demi sugesti yang ada.

Ternyata banyak teman saya yang terlalu percaya pada sebuah horoskop. Mereka malah menganggapnya sebagai sesuatu yang benar. Malahan, ada juga yang mengangapnya sebagai sesuatu yang menjadi pijakannya dalam melakukan berbagai hal, tak hanya  masalah percintaan saja tentunya, termasuk masalah keuangan, kesehatan dan lainnya. Kita ternyata terlalu hidup dalam sebuah pengaturan hidup, pengaturan dalam 12 sifat dan karakter. Benarkah, dari jutaan penduduk dunia ini, hanya ada 12 orang yang mempunyai karakter atau sifat yang sama dalam satu hari, atau mungkin satu minggu dan satu bulan.

Sebenarnya, saya juga bukan orang yang anti pada ramalan. Saya membacanya, tapi tidak menjadikannya pandangan hidup ke depan, menjadikannya sebuah tempat untuk mempertaruhkan nasib, mengikuti apa yang yang dikatakannya. Saya membacanya hanya sekedar ingin mengetahui semata, melihat-lihat adakah yang benar ramalannya? Atau sama sekali tak benar?

Menyingung benar tak benarnya semua ramalan, rasanya ada satu hal yang salah pada diri kita selama ini. Kita hanya melihat suatu ramalan hanya dari kebenarannya saja dan mencoba menghubung-hubungkan dengan apa yang terjadi dengan diri kita. Sebenarnya, ada hal yang tak ada hubungannya dengan diri kita, tapi karena kita terlalu percaya pada sebuah ramalan kita malah mencoba membenar-membenarkan fakta yang mungkin tak benar sama sekali. Apakah pernah kita berkata? Wah, ini salah ramalannya? Saat membaca ramalan, pasti kita hanya melihat dari sudut kebenaran dan mencoba tertawa, menganggap itulah kebenaran hidup yang sebenarnya. Sementara itu, pada sisi ketidakbenaran kita tak pernah untuk mengungkapnya sama sekali.

Seseorang yang membaca ramalan menerima sebuah sugesti, begitu para peramal menyebutnya. Maka seseorang yang telah menerima sugesti akan mencari cara untuk mewujudkan sugesti yang diterimanya itu. Contohnya begini, seorang teman saya yang suka membaca ramalan tadi diramal oleh seseorang. Si peramal bilang, kalau teman saya itu akan mendapatkan seorang pacar seorang yang berkulit putih, mau tak mau teman saya tersebut mencari orang yang berkulit putih dan menjahui orang yang tidak berkulit putih untuk dijadikannya pacar. Ketika teman saya tersebut mendapatkan pacar yang berkulit putih, maka dia menyebutnya sebagai kebenaran dari sebuah ramalan, padahal itu merupakan bagian dari sugesti yang diterimanya. Artinya hidupnya telah diatur. Teman saya tadi menjadi orang pemilih, dan tak percaya pada kenyataan hidup, hanya percaya pada sugesti dari ramalan, mencoba mencari kebenaran ramalan.

Kenapa kita tak menyebut horoskop sebagai sebuah prediksi. Sebuah prediksi bisa saja terjadi atau bisa saja tidak terjadi, tak seperti ramalan yang kita sudah terbiasa untuk mempercayainya. Prediksi juga tak memberikan kita sebuah sugesti, prediksi tak mengharuskan kita untuk percaya. Sekarang tinggal bagaimana kita menjadikan hidup kita, apakah mau diatur dengan 12 gambaran singkat atau kita yang mengaturnya. Semuanya berada ditangan kita, pada keputusan kita. Kita pasti tahu yang terbaik. (***)

Tentang frestialdi

TercipTa dengan nama Fresti Aldi. Bukan nama minuman. Hanya saja mempunyai sedikit kemiripin. Entah siapa yang awalnya yang miliki nama tersebut. Yang jelas sampai sekarang enjoy aja dengan nama tersebut. Bahkan, nama tersebut juga memudahkan orang-orang untuk ingat dengan seorang Fresti Aldi. Selalu ingin menjadi yang terbaik buat orang lain. Selalu berpenempilan ceria walaupun dalam diri ada suatu masalah. Masalah itu akan akan besar kalau kita membesarkan masalah tersebut. Jangan pernah berharap sesuatu terjadi kalau kita tidak melakukan sesuatu, itulah prinsip hidup. Selalu tersenyum. Smile for All. With smile we can to be a good people. Don't worry. I can give my smile for you, for you and for you. Terakhir, selalu menggangap orang lain sama dengan kita. Jangan merasa hebat, tapi jangan juga merasa bodoh. Hargailah sebuah kelemahan. bye..
Pos ini dipublikasikan di Catatan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s