Takut Bila Melanggar

Takut karena Melanggar

Oleh: Fresti Aldi

 

Salah satu atribut yang aku kenakan hari itu tidak sesuai dengan peraturan. Sampai di depan gerbang ada sedikit kecemasan. Di depan gerbang telah berdiri seorang guru yang biasanya ditakuti oleh semua murid karena kedispilinannya. Ada perasaan takut dalam hati. Tapi, sebuah ide melintas  di otak.

 

Akhirnya, dengan sedikit trik dan tipuan aku bisa juga menembus gerbang sekolah tanpa dicegat oleh sang guru dan kedapatan melanggar aturan. Perasaan senang jelas sekali karena bisa lewat dari pantuan sang guru sedangkan teman-teman yang lain harus dicegat. Agak kejam, tapi demi keselamatan.

 

Aku salah ternyata, di dalam lingkungan sekolah aku melihat guru yang berdiri di depan gerbang itu lagi. Perasaan senang tadi berubah kembali menjadi ketakutan. Aku takut lagi jika harus tertangkap basah karena melanggar peraturan. Aku lagi-lagi menghindar dan selamat lagi sampai jam pelajaran habis. Namun, pas pulang aku juga mesti berhati-hati jika bertemu lagi dengan guru yang sama dan harus dihukum. Dan akhirnya selamat lagi.

 

Karena hari itu sukses. Beberapa hari kemudian aku kembali melanggar aturan dengan tapi dengan kasus yang berbeda. Kembali sang guru berdiri lagi di depan gerbang, mengamati setiap siswa yang lewat, kalau-kalau ada yang melanggar. Otakku berputar-putar lagi dan ingat sesuatu yaitu mencoba trik beberapa hari yang lalu, dan berhasil lagi.

 

Tapi di dalam lingkungan sekolah ada rasanya yang hilang karena aku melanggar peraturan. Perasaan demi perasaan takut, menghindar dan menghindar dari sang guru membuatku memahami suatu hal yang hilang dari diriku selama melanggar peraruran.

 

Kebebasan, itulah yang telah terampas dari diriku karena telah melanggar peraturan. Aku tak mendapatkan kebebasan yang didapatkan oleh teman-temanku. Aku hanya berada pada lingkungan tertentu saja, artinya aku hanya bebas melakukan aktivitas ditempat yang tidak ada guru yang mencegat. Tak bebas pergi ketempat yang ada banyak guru.

 

Selanjutnya yang membuatku tak bebas adalah rasa ketakutan. Aku seringkali merasa takut. Kemana-kemana takut jika bertemu guru yang menjaga di depan gerbang tadi dan hukumannya pasti lebih berat dari yang biasanya. Jadinya aku hanya bisa berdiam-diri.

 

Begitu juga di kelas kebebasan itu kembali terampas dan ketakutan itu kembali datang. Aku tak bebas kemana-mana. Hanya duduk di kursi paling belakang dan harus mendengar suara guru samara-samar serta dengan konsentrasi yang samara-samar pula. Selain itu, ketika ada instruksi dari guru untuk maju ke depan dan menjawab pertanyaan yang diberikan aku semakin takut juga maju, padahal aku tahu jawabannya. Namun, karena aku melanggar peraturan dan takut diketahui guru aku terpaksa menyimpan jawabanku di kursi belakang menyimpan semua kelebihan yang kumiliki hanya karena melanggar.

 

Saat sang guru berjalan ke belakang, padahal bukan ke kursi ku, aku sudah takut duluan. Segera mungkin kusembunyikan diriku dan menutup atribut yang kulanggar, benar-benar gerakku terasa tak bebas. Tapi begitulah kenyataannya. Aku harus berulang-ulang terampas kebeebasannya dan kembali ketakutan karena ulahku sendiri melanggar peraturan.

 

Suatu hari, aku tak berhasil meloloskan diri dari sang guru. Ketika itu ada razia mendadak ke kelas-kelas. Kelasku di razia, setiap murid diperiksa apakah atributnya sesuai dengan ketetapan. Akhirnya aku ‘ditangkap’ dan dihukum, betapa malunya aku dengan teman-teman yang tidak melanggar aturan. Kami (karena yang tertangkap bukan hanya aku, tapi ada beberapa siswa) pun disuruh berjanji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama, disamping diberikan hukuman.

 

Setelah hari itu, aku mencoba mengikuti aturan dan aku serasa merdeka karena aku tak merasa terkurung lagi. Aku sudah merasa bebas. Bebas ke kantin, bebas keruangan guru. Tak mesti cari jalan pintas lagi jika masuk kelas. Aku juga tak pernah takut lagi jika duduk di bangku depan. Aku  juga mendapatkan nilai plus ketika maju ke depan kelas dan menjawab pertanyaan sang guru, jawabanku tak lagi tersimpan. Intinya, aku merasa lebih tenang dengan cari aman dengan tidak melanggar aturan. Padahal, kalau dipikir-pikir tak ada yang salah juga dengan aturan yang diberikan, semuanya menjadikan kita lebih disipilin, teratur dan lebih baik.

 

Tentang frestialdi

TercipTa dengan nama Fresti Aldi. Bukan nama minuman. Hanya saja mempunyai sedikit kemiripin. Entah siapa yang awalnya yang miliki nama tersebut. Yang jelas sampai sekarang enjoy aja dengan nama tersebut. Bahkan, nama tersebut juga memudahkan orang-orang untuk ingat dengan seorang Fresti Aldi. Selalu ingin menjadi yang terbaik buat orang lain. Selalu berpenempilan ceria walaupun dalam diri ada suatu masalah. Masalah itu akan akan besar kalau kita membesarkan masalah tersebut. Jangan pernah berharap sesuatu terjadi kalau kita tidak melakukan sesuatu, itulah prinsip hidup. Selalu tersenyum. Smile for All. With smile we can to be a good people. Don't worry. I can give my smile for you, for you and for you. Terakhir, selalu menggangap orang lain sama dengan kita. Jangan merasa hebat, tapi jangan juga merasa bodoh. Hargailah sebuah kelemahan. bye..
Pos ini dipublikasikan di Catatan dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s