Jam Sekian Lewat Sekian

Jam Sekian Lewat Sekian

Saya menghadiri sebuah rapat yang katanya “penting”. Dalam undangan, ditulislah, atau mungkin disepakatilah waktu yang akan ditentukan jam sekian lewat sekian. Karena, rapatnya “penting” saya mesti bersiap-siap dari awal agar tak terlambat menghadiri rapat penting itu.

Tepat jam sekian lewat sekian itu, saya telah berada pada tempat rapat penting itu. Namun, tak seorang pun menampakan batang hidungnya, jangankan batang hidungnya, batang tubuh mereka juga tak pernah terlihat pada jam sekian lewat sekian itu.

Jadilah saya menunggu sekitar satu setengah jam. Dalam hati, saya mengomel sendiri “ini bukan terlambat, tapi sudah molor.” Tapi  begitulah kejadiannya, satu setengah jam bukan waktu yang sebentar untuk sebuah kata ‘keterlamatan”. Semangat saya dari rumah yang awalnya sudah berapi, malam padam seketika.

Anehnya, sang tuan rumah yang punya undangan berlaku tak sopan. Kenapa saya bilang tidak sopan? Bayangkan saja, saya sudah menunggu satu setengah jam, tapi mereka masih saja asyik beraktivitas yang bukan diluar rapat ini, kelihatannya main-main. Tak selangkah pun kakinya masuk kedalam ruangan rapat penting ini.

Setelah acara dimulai dan dimulai, seorang teman yang juga kesal atas keterlambatan ini menanyakan perihal keterlambatan ini yang molor satu setengah jam dari jam sekian lewat sekian itu. Lucunya, sang punya acara berkata “Acara ini sengaja kami mulai jam sekian lewat sekian karena sebagaian tamu penting yang menjadi bagian dari acara ini datang biasanya terlambat, jadi kami sengaja membuat lebih awal di undangan.”

Saya jadi heran, kenapa orang-orang selalu berpikiran demikian. Selalu berpikiran lebih kuno dari orang kuno. Menganggap terlambat adalah sebuah hal yang biasa. Padahal, banyak pepatah yang mengatakan. Waktu adalah uang, kalau seperti ini Negara kita memang tak bias kaya jika semua orang masih berpikiran kuno kuno. Negara kita juga tak akan menjadi lebih cerdas jika mengabaikan pepatah yang satunya lagi, waktu adalah ilmu. Entahlah, apa yang telah melanda pikiran orang-orang kita, saya harap ada sebuah alat yang dapat menyetel pemikiran kuno ini, membuang kebiasan ngaret ini, agar bangsa kita lebih baik dalam segala hal. (***)

Tentang frestialdi

TercipTa dengan nama Fresti Aldi. Bukan nama minuman. Hanya saja mempunyai sedikit kemiripin. Entah siapa yang awalnya yang miliki nama tersebut. Yang jelas sampai sekarang enjoy aja dengan nama tersebut. Bahkan, nama tersebut juga memudahkan orang-orang untuk ingat dengan seorang Fresti Aldi. Selalu ingin menjadi yang terbaik buat orang lain. Selalu berpenempilan ceria walaupun dalam diri ada suatu masalah. Masalah itu akan akan besar kalau kita membesarkan masalah tersebut. Jangan pernah berharap sesuatu terjadi kalau kita tidak melakukan sesuatu, itulah prinsip hidup. Selalu tersenyum. Smile for All. With smile we can to be a good people. Don't worry. I can give my smile for you, for you and for you. Terakhir, selalu menggangap orang lain sama dengan kita. Jangan merasa hebat, tapi jangan juga merasa bodoh. Hargailah sebuah kelemahan. bye..
Pos ini dipublikasikan di Catatan dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s