Ruang kecil yang bernama P’mails

Ulang tahun P'mails ke 4

Ulang tahun

P’mails adalah Rumah yang Punya Taman Indah

Oleh : Fresti Aldi

Kami beradu argumen saat tahu P’mails tak lagi terbit. Memang tak terlalu penting memperdebatkan antara rumah dan taman sebagai analogi dari P’mails. Tapi tentunya kami punya alasan tersendiri mengapa memperdebatkan antara rumah dan taman.

Alasan menganalogikan P’mails sebagai taman karena di P’mails kami diberi ruang untuk berkreativitas dan benar-benar memupuk bakat yang kami punya untuk menghasilkan sebuah yang bernilai lebih. Sedangkan menganalogikan rumah karena di P’mails kami benar-benar mendapatkan sebuah keluarga.

Benar saja P’mails terlahir sebagai taman. Sejak P’mails ada tak sedikit yang telah menanam bunga di sana. Masih saya ingat, ketika masih berseragam putih abu-abu. Hari itu saya mencoba untuk masuk ke sebuah tanah yang belum saya kenal. Entalah, saya tak terlalu yakin apakah saya mampu membuat sesuatu di tanah kosong tersebut karena saya tak mempunyai apa-apa yang mungkin bisa di tanam.

Tanah kosong itu bukanlah seperti tanah kebanyakkan. Ia mempunyai banyak kandungan humus yang apa saja ditanam bisa ada bisa tumbuh di sana. Sebagai contoh, saya tak yakin apakah dulu saya punya hobi untuk menjadi seorang wartawan. Tapi berkat P’mails saya, saya menemukan itu. Menemukan keyakinan yang membuat saya berani memilih jalur jurnalistik sebagai masa depan saya.

Saya kira kenapa P’mails begitu bisa membuat keyakinan itu benar-benar tumbuh adalah ketika P’mails berani memberi kepercayaan bagi kami para pelajar untuk bisa menerbitkan apa saja yang bisa kami buat. Itulah yang membuat P’mails terasa berbeda dari kebanyakkan media lainnya.

Tak hanya belasan orang yang singgah di P’mails. Jika dikalkulasikan lebih rinci ada puluhan pelajar yang menanam di P’mails. Akhirnya benar saja, yang penganalogian P’mails sebagai taman itu, sebab P’mails memang telah banyak menumbuhkan kreativitas dari pelajar-pelajar di Sumatera Barat.

P’mails sebagai rumah juga benar. Sebab ada banyak persaudaraan yang di jalin di P’mails. Tidak hanya diajarkan bagaimana menulis (sebenarnya memang tidak ada yang mengajar di P’mails) tapi disisi lain kami juga diajarl\kan bagaiaman saling memotivasi sesame reporter, bagaimana saling mengarahkan sesame reporter. Itulah yang membuat jalinan persaudaraan itu semakin erat.

Datang ke P’mails kami tak hanya untuk mengantarkan karya saja. Terkadang banyak diantara kami yang juga hanya datang sekedar ingin janjian dengan reporter yang berbeda sekolah dan hanya untuk sekedar bertemu. Di pertemuan itu, banyak yang kami bahas, mulai dari urusan sekolah hingga hal lainnya hingga kami pun merasa seperti saudara di P’mails.

Ada banyak tawa yang kami rasakan di P’mails. P’mails memang tempat persinggahan yang layak bagi kami yang mengenakan seragam sekolah. Kehidupan remaja jadi lebih bermanfaat di P’mails ketika kami sama-sama memanfaatkan dengan menulis.

Senin sampai Minggu pun menjadi hari yang tak biasa. Jika senin kami diajarkan bagaimana mencari ide untuk menyipakan karya. Selasa kami diajarkan untuk menuliskan ide. Jika Rabu datang kami pun diajarkan untuk bekerja lebih keras hingga saat kamis dan Jumat datang kami diajarkan bertanggung jawab dengan garis merah hingga Sabtu kami diajarkan untuk bersyukur atas apa yang telah dilakukan seminggu dan Minggu adalah hari yang paling menyenangkan ketika harus menikmati hasil kerja dan membacanya terbit di halaman P’mails.

Rasanya terlalu panjang jika harus mendeskripsikan apa yang kami lakukan di P’mails, apa yang kami rasakan sebagai reporter P’mails. Yang menjadi kesimpulan adalah kami merasa bangga dan senang selama di P’mails.

Hanya saja, sekarang kami sedikit kecewa sebab P’mails harus berjeda rasanya memang menyedihkan. Artinya kami kehilangan taman tempat kami menulis, berkreativitas. Kami juga kehilangan rumah tempat kami tertawa, mengobrol bahkan mendiskusikan apapun yang kami rasa bermanfaat. Kami sediih jika P’mails harus tak ada lagi.

Walau bagaimana pun kami tetap menerima sebuah keputusan. Kami diajarkan juga untuk itu. Tapi rumah dan taman yang kami buat mau dibawa kemana? Dalam perdebatan sesama reporter P’mails, muncul sebuah kalimat. “Kita hanya kehilangan taman dan masih punya kebun kita hanya kehilangan rumah tidak ikatan persaudaraan”

Artinya kami sudah bisa membangun semangat atas kehilangan tempat untuk berkreasi. Kami sadar kami hanya kehilangan ruang, sementara karya kami maasih bisa ditanam di tempat lain. Namun, ketika ciri khas P’mails yaitu media anak sekolah itu harus hilang kami sedih.

Kami kira, hanya kami sebagai reporter P’mails yang merasakan hal itu. Sebab, mau tidak mau waktu kami lebih banyak di P’mails. Ternyata sebagian pelajar lainnya yang tidak terlibat sebagai reporter P’mails juga merasa kehilangan. Sebab katanya mereka juga kehilangan bacaan yang unik. Mereka kehilangan bacaan yang dasyhat seperti P’mails.

Satu pelajaran lagi, P’mails nyatanya juga memberikan efek positif terhadap pelajar. Banyak pelajar yang mulai suka membaca berkat P’mails. Sebab bacaan yang dibacanya benar-benar seputar pelajar. Selain itu, bacaan yang mereka baca juga merupakan hasil teman-teman sesama pelajar.

Ketika P’mails harus dihentikan kita telah membunuh minat baca remaja khususnya pelajar. Ketika P’mails harus dihentikan kita juga telah merobohkan ruang bagi pelajar untuk berkreativitas.

Lantas adakah media lain yang seperti P’mails yang mengutamakan pelajar dan pendidikan. Jika ada, kami mungkin tak terlalu kecewa jika P’mails harus dihentikan sebab kami bingung mau dimana kami harus menanam sementara kami tak punya tanah yang sesubur P’mails, kami tak punya ruang yang seperti P’mails. Apakah kreativitas para pelajar harus ditenggelamkan begitu saja?

Tentang frestialdi

TercipTa dengan nama Fresti Aldi. Bukan nama minuman. Hanya saja mempunyai sedikit kemiripin. Entah siapa yang awalnya yang miliki nama tersebut. Yang jelas sampai sekarang enjoy aja dengan nama tersebut. Bahkan, nama tersebut juga memudahkan orang-orang untuk ingat dengan seorang Fresti Aldi. Selalu ingin menjadi yang terbaik buat orang lain. Selalu berpenempilan ceria walaupun dalam diri ada suatu masalah. Masalah itu akan akan besar kalau kita membesarkan masalah tersebut. Jangan pernah berharap sesuatu terjadi kalau kita tidak melakukan sesuatu, itulah prinsip hidup. Selalu tersenyum. Smile for All. With smile we can to be a good people. Don't worry. I can give my smile for you, for you and for you. Terakhir, selalu menggangap orang lain sama dengan kita. Jangan merasa hebat, tapi jangan juga merasa bodoh. Hargailah sebuah kelemahan. bye..
Pos ini dipublikasikan di Catatan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s