Menitip rindu

Maaf jika menuliskan ini. Maaf  juga jika terlalu berani menuliskannya disini. Ini karena rasa di sesak di dada terlalu kuat dan memaksa mencairkannya lewat rangkaian kalimat-kalimat berikut. Ini juga bukan tulisan untuk “garis merah” yang biasa kita kejar menjelang Jumat datang, jadi harap maklum jika kalimatnya kurang sesuai.

Sekedar melepaskan sesak di dada. Sudah terlalu lama memendam sesak ini, tapi ternyata tak bisa. Sekarang sesak ini sudah semakin membukit dan ketakutan akan memuncak semakin dekat, lebih baik dicairkan saja lewat tulisan ini.

Begini teman, rekan atau kakak maupun adik-adik semuanya. Semenjak berita itu, semuanya pergi begitu saja. Kemana? Entalah! Memang begitu, kita tak saling komunikasi lagi, tak saling tegur sapa, tak saling memberi semangat dan ribuan tak saling yang pernah kita lakukan sebelumnya.

Itu hanya hal kecil, yang lebih penting dari itu adalah sebuah pertanyaan sederhana, apakah media tempat kita berkarya mau dilepas begitu saja? Sudah beberapa kali merundingkan persoalan ini dan sudah berapa kali juga tak pernah mendapatkan jalan keluarnya. Kelihatannya memang remeh temeh, tapi apa kita tak pernah sadar ini adalah tempat berharga yang pernah kita punya dan begitu mudakah kita melepaskan tempat berharga ini.

Mungkin saya adalah orang bodoh yang tak bisa berbuat apa-apa untuk apa yang kita punya. Dan sesungguhnya kita semua bodoh, kendatipun banyak yang hebat berdiri disamping kita dengan hal yang mengejutkan yang  dilakukan. Tapi, saya percaya jika orang bodoh ditambah orang bodoh tidak sama dengan orang-orang bodoh melainkan kebodohan kita semakin berkurang. Jadi saya rasa kita punya kekuatan bodoh untuk tidak menjadi bodoh dan mempertahankan media kita.

Teman-teman saya tak habis pikir, bagaimana kita begitu saja melupakan tempat kita berkreativitas ini? Dulu kita masih ingat beberapa kali pertemuan banyak kita yang meneteskan airmata karena begitu cintanya kita kepada media kita ini. Tapi kenapa saat-saat genting yang kita lalui beberapa waktu lalu kita sama sekali tak pernah bisa berbuat apa-apa bahkan untuk meneteskan airmata untuk perpisahan itu.

Sudah saya coba untuk berpikir realistis jika sudah saatnya saya tak memikirkan hal ini karena saya tahu keputusan yang telah diambil pemilik  perusahan tak bisa dirubah lagi karena itu kita atau saya mesti menerimanya. Tapi apa? Saya sudah coba juga untuk mengalihkankanya kepada kegiatan lain yang mungkin mampu membuat saya menjadi sedikit realistis. Tak bisa, saya menyerah karena begitu susah melupakan apa yang namanya P’MAILS  tempat kita sama-sama belajar. Entalah kalau kita tak butuh lagi pelajaran dari P’mails tapi tetap saja rindu kepada P’mails tak bisa dibendung.

Teman-teman, apa tak rindu saat kita sama-sama mengejar garis merah setiap minggunya? Saya pikir saya rindu. Bagaimana dengan teman-teman? Bercanda, saling motivasi sharing dan kekeluargaan yang kita bangun itu semakin memanggil untuk menitipkan rindu.

Sudalah teman, terlalu panjang untuk sekedar mengungkap semuanya jika nasib kita sudah tak tahu arah lagi akibat kebijakan ini. Yang jelas lewat tulisan ini saya ingin menitipkan rindu ini. Mungkin sebahagian teman-teman telah mendapatkan rumah baru pengganti P’mails, selamat semoga betah dan bagi teman teman yang belum mendapatkan penganti semoga lain kali mendapatkan pengganti, semoga saja.

Padang, 16 Maret 2010

Tentang frestialdi

TercipTa dengan nama Fresti Aldi. Bukan nama minuman. Hanya saja mempunyai sedikit kemiripin. Entah siapa yang awalnya yang miliki nama tersebut. Yang jelas sampai sekarang enjoy aja dengan nama tersebut. Bahkan, nama tersebut juga memudahkan orang-orang untuk ingat dengan seorang Fresti Aldi. Selalu ingin menjadi yang terbaik buat orang lain. Selalu berpenempilan ceria walaupun dalam diri ada suatu masalah. Masalah itu akan akan besar kalau kita membesarkan masalah tersebut. Jangan pernah berharap sesuatu terjadi kalau kita tidak melakukan sesuatu, itulah prinsip hidup. Selalu tersenyum. Smile for All. With smile we can to be a good people. Don't worry. I can give my smile for you, for you and for you. Terakhir, selalu menggangap orang lain sama dengan kita. Jangan merasa hebat, tapi jangan juga merasa bodoh. Hargailah sebuah kelemahan. bye..
Pos ini dipublikasikan di Catatan dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s