Terapi Aroma Jagung Bakar

Terapi Aroma Jagung Bakar

Pukul lima sore, puluhan pedagang sudah sibuk menyeret gerobak mereka. Hiruk-pikuk mulai terasa. Menjelang malam, suasana semakin ramai. Lampu-lampu teplok mulai dinyalakan menggantikan barisan lampu yang biasanya bersinar benderang. Aroma khas jagung bakar mengudara di tempat ini.
Mereka tengah sibuk mengipas-mengipas aroma tempurung yang dibakar bercampur dengan bumbu yang meresap perlahan. Semakin lama, aroma itu semakin menusuk hidung, semakin dalam hingga langkah kaki banyak yang berhenti di tengah Jembatan Siti Nurbaya malam itu.
Dari atas jembatan, mata dapat memandang sejauh mungkin. Di atas bukit, puluhan lampu bersinar dari rumah-rumah penduduk. Bukit itu dipenuhi cahaya lampu listrik. Bintang yang bersinar di langit seolah menyatu dengan cahaya lampu di atas bukit malam itu. Tak ada kesan jika kota ini pernah diguncang hebat. Tak ada kesan jika di seberang sana masih banyak puing-puing reruntuhan yang masih belum dibersihkan. Pemandangan malam itu memang terasa damai sekali. Kerlap-kerlip lampu di tengah sungai memanjakan mata yang letih, apalagi jika melihat suasana siang di kota ini dipenuhui reruntuhan bangunan
Dibandingkan dengan siang hari, suasana malam di Jembatan Siti Nurbaya memang terasa berbeda. Jika siang hari, bisa dilihat bangunan yang sangat memprihatinkan di kawasan Nipah itu. Sebagian ada yang hancur lebur, sebagian lagi tinggal kerangka bangunan yang mengharukan, meski ada juga yang berdiri kokoh di tengah bangunan yang runtuh itu.
Jembatan Siti Nurbaya juga berada dalam kondisi memprihatinkan. Ada bekas timbunan, karena jembatan ini berlubang sesaat setelah gempa 30 September 2009 lalu. Selain jalanan yang retak dan berlubang, dua buah lampu jalan juga terlihat miring. Namun, suasana malam memang sangat ajaib. Keadaan siang yang sangat memprihatinkan berubah dengan cepat dengan suasana yang sangat tentram. Dari kejauhan kota Padang terlihat sangat indah dengan pemandangan yang menawan.
Aroma jagung bakar menggoda hidung sangat kuat. Tak terlalu sulit mencari asal aroma itu, sebab tempat itu memang khusus. Yang harus dilakukan hanyalah mencari tempat yang nyaman untuk melihat pemandangan kota Padang. Lantas, di tempat itu tinggal memesan jagung bakar, yang aromanya semakin kental menusuk hidung.
Jika semakin lama duduk menikmati pemandangan ini, semakin terasa kota Padang memang kota terindah. Aroma jagung bakar yang sangat nikmat seakan memberikan terapi terhadap kepiluan yang pernah melanda Sumatera Barat, khususnya kota Padang. Jelas terlihat dari sini, jika kota ini tak pernah mati walaupun pernah diguncang hebat. Apalagi menurut cerita penjual jagung bakar, suasana di Jembatan Siti Nurbaya mulai membaik dalam dua minggu terakhir. Sudah terjadi peningkatan pengunjung menyamai kondisi pra-gempa. Bahkan, malam minggu sudah terasa menyesak karena kemacetan mulai mewarnai jembatan ini.
Semakin banyaknya pengunjung yang berkunjung di tempat ini, menyebabkan penjual harus menyediakan lampu teplok dari minyak tanah untuk menggantikan sinar barisan lampu yang tidak bersinar terang. Walaupun lampu teplok ini temaram, namun cahayanya tak mampu memudarkan suasana yang tentram di tempat ini.
Dari atas Jembatan, bisa dilihat bagaimana geliat kota Padang. Harapan yang besar terhadap pemulihan kota Padang jelas terlihat dari kendaraan yang hilir mudik di bawah jembatan, lampu jalanan yang mulai bersinaran dan dari kejauhan. Pemandangan yang begitu menakjubkan memberikan keyakinan jika kota ini akan bangkit secepatnya.
Aroma jagung bakar yang menusuk semakin tajam juga memulihkan ingatan. Perlahan, gambaran Pasar Raya yang mengerikan berubah seketika, gambaran Pasar Sentral yang menunggu ambruk ini berubah menjadi Pasar Sentral yang megah. Gambaran Hotel Ambacang juga teringat, tempat yang paling banyak menelan korban ini tergambar lagi sebagai tempat pertemuan terindah yang terletak di pusat Kota. Makin lama, gambaran-demi gambaran tempat-tempat penting di kota Padang teringat kembali. Seperti Plasa Andalas yang menjadi ikon anak muda di kota Padang sekedar bencengkarama, cuci mata dan berkumpul melepaskan penat. Bank Nagari yang tak jauh dari sana, bimbingan belajar GAMA, Rumah Sakit BMC, Balai Kota Padang dan bangunan penting lainnya, semuanya, jelas teringat di memori otak sebagai tempat yang penting dan berdiri kokoh sebelum gempa itu datang.
Kipasan jagung bakar kembali merebak di malam ini. Aromanya kembali menusuk di hidung. Kerlap lampu di kapal-kapal Sungai Batang Harau kembali memberikan kesegaran otak. Cahaya-cahaya lampu yang terang dari puncak bukit menenangkan hati ini. Kembali teringat bagaimana kota Padang yang tercinta ini sebelum digoyang dashyat sekuat 7,9 SR.
Padang begitu indah kala itu. Bayangan indah kota ini teringat kembali. Entah aroma jagung bakarkah yang mampu mengembalikan ingatan itu? Yang jelas di puncak jembatan ini, kota Padang tergambar sebagai kota yang mampu menjadi kota hebat lagi. Semilir angin perlahan tambah memberikan kesegaran terhadap jiwa yang sempat pilu, mengingat kota Padang saat ini.
Rasanya, kota ini mampu bangkit dengan cepat. Gempa 30 September lalu memang menyisakan tangis sangat lama. Akan tetapi, gambaran Padang dari puncak jembatan ini memberikan keyakinan jika kota Padang bisa bangkit dengan cepat sebab dari sini jelas terlihat bagaimana kehidupan kota yang telah bersinar benderang. Di kawasan Nipah memang agak gelap karena rata-rata bangunan di kawasan ini banyak yang roboh. Namun, dari kejauhan, menara-menara masih berkelap-kelip dengan indahnya. Lampu di bukit sana, masih benderang, hiruk pikuk masih sibuk. Sungai Batang Harau juga tak henti-hentinya memberangkat nelayan yang ingin melaut meninggalkan Muara Padang dan hilang berlalu menuju lautan lepas.
Ini jelas memberikan gambaran kota Padang perlahan mulai sembuh dari sakitnya. Artinya, masyarakat kota Padang telah kembali menemukan semangat mereka yang sempat digoyang. Keadaan ini jelas memberikan kabar gembira terhadap pertumbuhan Padang pasca gempa.
Sudah hampir tiga bulan kejadian gempa itu berlalu. Memang di sana-sini masih banyak puing-puing berserakan yang belum dibereskan. Tapi melihat semangat masyarakat kota Padang yang mulai membaik seakan mengalahkan semuanya. Semangat itu terlihat dari pengunjung Jembatan Siti Nurbaya yang ramai, dari desingan kendaraan di bawah jembatan, dari kapal yang bergerak satu demi satu, dan dari benderangnya bukit di sana. Semangat ini jauh lebih penting dari apapun. Sebab, jika semangat ini telah dipunyai, keinginan untuk kembali membangun rumah-rumah yang rusak, yang roboh tidak lah terlalu sulit. Bahkan membangun kembali Padang seperti dahulu kala sangat mungkin terjadi.
Padang, kota tercinta, yang masih tetap kujaga dan kubela ini pasti lebih baik dari sebelumnya. Gempa lalu hanya sebuah ujian. Yang jelas, kota ini mampu lebih baik dari pasca gempa. Kita harus percaya ini. Kumpulkanlah semangat yang sempat tercecer itu untuk sama-sama kita kembali membangun Sumatera Barat, khususnya kota Padang.
Jika semangat belum juga terkumpulah, cobalah merasakan aroma jagung bakar di Jembatan Siti Nurbaya ini dan lihatlah betapa kota Padang masih menjadi indah untuk di pandang. Lihat juga aktivitas kota Padang dari tempat ini, pasti kau akan menemukan keyakinan jika kota ini akan bangkit secepatnya. (Fresti Aldi)

***Untuk gempa 30 September

Tentang frestialdi

TercipTa dengan nama Fresti Aldi. Bukan nama minuman. Hanya saja mempunyai sedikit kemiripin. Entah siapa yang awalnya yang miliki nama tersebut. Yang jelas sampai sekarang enjoy aja dengan nama tersebut. Bahkan, nama tersebut juga memudahkan orang-orang untuk ingat dengan seorang Fresti Aldi. Selalu ingin menjadi yang terbaik buat orang lain. Selalu berpenempilan ceria walaupun dalam diri ada suatu masalah. Masalah itu akan akan besar kalau kita membesarkan masalah tersebut. Jangan pernah berharap sesuatu terjadi kalau kita tidak melakukan sesuatu, itulah prinsip hidup. Selalu tersenyum. Smile for All. With smile we can to be a good people. Don't worry. I can give my smile for you, for you and for you. Terakhir, selalu menggangap orang lain sama dengan kita. Jangan merasa hebat, tapi jangan juga merasa bodoh. Hargailah sebuah kelemahan. bye..
Pos ini dipublikasikan di Catatan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s