Indonesiaku, Negara Maritimku

Indonesia, Negara Maritim Kita

Oleh: Fresti Aldi

Indonesia adalah negara kaya. Baik itu daratan maupun kelautan. Banyak potensi yang dapat dibanggakan. Diantaranya wilayah darat yang memiliki banyak potensi sumber daya alam untuk menopang perekonomian Indonesia. Selain itu, wilayah kelautan juga tak kalah penting. Dua pertiga dari luas negara Indonesia adalah laut. Sehingga 14 persen dari garis laut di dunia dimiliki oleh Indonesia. Sebanyak 17.504 juga bernaung di laut Indonesia.

Tak salah jika banyak orang-orang yang menyebutkan jika Indonesia adalah negara surga dengan kekayaan alam yang melimpah ruah. Sebagai bangsa yang mendiami surga itu tentunya ada rasa kebanggaan yang kita  miliki dengan kondisi yang demikian. Hanya saja, sampai kapan kita akan terus berbangga dan tidak melakukan apa-apa untuk mempertahankan negeri surga ini? Bisa jadi, suatu saat surga ini akan berubah menjadi neraka yang tidak mungkin akan kita banggakan lagi.

Ini bisa saja terjadi melihat kenyataan yang terjadi. Potensi laut kita sudah mulai tak terjamah lagi. Nelayan kita masih banyak yang berekonomi dibawah cukup. Padahal jika Indonesia merupakan negara laut yang kaya, harusnya nelayan yang merupakan salah satu pihak yang ikut serta berperan dalam menciptakan negara kelautan menjadi negara maritim juga ikut diuntungkan. Tapi begitulah kenyaatan yang terjadi. Nelayan yang miskin, sementara tak ada cara untuk memberikan kesadaran kepada nelayan kita untuk mempotensikan kelauatan kita.

Mungkin juga berhubungan tingkat pendidikan. Rata-rata nelayan di Indonesia memiliki pendidikan yang rendah. Menjadi nelayan hanya merupakan pilihan karena tak ada pekerjaan yang lebih layak didapatkan. Padahal, jika kita pandai mengolah kelautan, penghasilan sebagai nelayan tidak akan mengecewakan.

Pendidikan diIndonesia juga tak mengenalkan secara utuh tentang kelauatan. Misalkan saja, wawasan kelauatan. Ini hanya kita dapatkan melalui pelajaran geografi. Tapi satu displin ilmu yang khusus mengajarkan tentang kelauatan belum ada di bangku pendidikan. Dalam satu disiplin ilmu yang khusus tentang kelautan ini seharusnya diajarkan bagaimana mengolah potensi laut, mengetahui potensi laut Indonesia, mengetahui luas teritorial negara indonesia dan hal-hal lain yang menyangkut kelautan Indonesia. Di bangku sekolah kita hanya diajarkan tentang negara Indonesia yang kaya dengan laut dan kita sebagai rakyat Indonesia harus bangga dengan potensi ini.

Boleh jadi, pengajaran yang demikian yang menyebabkan kita tak bisa berbuat apa-apa untuk mengolah dan mempertahankan kelautan Indonesia. Dan itu berdampak sampai hari ini, dengan tak adanya orang mudaatau kita yang peduli dengan kekayaan laut di negara Indonesia. Yang lebih parah jika hanya mengunjungi satu daerah yang memiliki potensi laut yang Indah, kita seorang muda Indonesia hanya bisa mengeluarkan kamera dan tersenyum manis di depan lensa untuk mengekspresikan kebanggaan itu. Entah itu bangga atau hanya menambah daftar koleksi photo, juga tak jelas, kenyataannya memang demikian.

Tapi, jika kurikulum di Indonesia sudah mulai menyentuh arah untuk mempotensikan kelautan Indonesia dengan mempelajari tentang bagaimana mengolah laut, mengenal batas terotial dan lain sebagainya tentunya generasi muda mendatang tak akan sama dengan generasi muda yang narsis sekarang. Generasi muda mendatang tentunya akan menjasi generasi yang memikirkan tentang potensi kelautan Indonesia.

Generasi muda mendatang yang telah dibekali pemahaman demikian juga akan bertindak dengan kasus yang terjadi beberapa tahun lalu dengan terlepasnya beberapa pulau milik kita pada negara asing. Kejadiannya mungkin tidak seperti lalu yang hanya diam membiarkan Sipadan, Ligitan terlepas dan tidk menjadi bagaian dari negara kita.

Selain pendidikan, tentunya banyak hal lain yang perlu kita lakukan untuk mempotensikan negara kelauatan Indonesia. Pembangunan negara kelautan mungkin tidak diartikan secara verbal yaitu membangun fasilitas-fasilitas tertentu. Maksud pembangunan laut adalah bagiamana membuat laut lebih berpotensi sehingga julukan Indonesia sebagai negara maritim tidak lagi sebagai paradigma tetapi telah menjadi kenyataan yang sesungnguhnya. Banyak hal yang seharusnya kita lakukan untuk membangun paradigma yang demikian sehingga menjadi suatu kenyataan yang menyebutkan negara Indonesia adalah negara maritim.

Menurut catatan Prakoso Bhairawa Putera (LIPI) yang dimuat dalam suara Karya 10 Januari 2010 ada Ada lima aspek atau pilar yang dapat menjadi modal utama dalam menopang penguatan pembangunan negara maritim modern di Indonesia. Kelima aspek tersebut meliputi: Kesadaran geografis, penegakan kedaulatan yang nyata di laut, memberikan kontribusi akan keberadaan negara maritim yang modern dengan mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, meletakkan pentingnya penataan ruang wilayah maritim dan penegakan sistem hukum maritim.

Kelima pilar tersebut harus diwujudkan untuk menciptakan pembangunan Negara maritim. Namun, yang paling terpenting dari lima pilar tersebut adalah kesadaran geografis. Mungkin selama ini masyarakat Indonesia belum memiliki kesadaran geografis sehingga kurang memahami potensi kelautan negara Indonesia. Sebab nyatanya masyarakat Indonesia masih terkurung dalam mimpi Indonesia negara kelauatan, sementara tak bisa melakukan apa-apa, hanya larut dalam mimpi-mimpi tersebut. Kita hanya bisa berbangga tanpa berbuat apa-apa. Sudah saatnya kita keluar dari mimpi tersebut dan melakukan banyak hal untuk menimbulkan kesadaran akan negara maritim negara kita.

(***)

Tentang frestialdi

TercipTa dengan nama Fresti Aldi. Bukan nama minuman. Hanya saja mempunyai sedikit kemiripin. Entah siapa yang awalnya yang miliki nama tersebut. Yang jelas sampai sekarang enjoy aja dengan nama tersebut. Bahkan, nama tersebut juga memudahkan orang-orang untuk ingat dengan seorang Fresti Aldi. Selalu ingin menjadi yang terbaik buat orang lain. Selalu berpenempilan ceria walaupun dalam diri ada suatu masalah. Masalah itu akan akan besar kalau kita membesarkan masalah tersebut. Jangan pernah berharap sesuatu terjadi kalau kita tidak melakukan sesuatu, itulah prinsip hidup. Selalu tersenyum. Smile for All. With smile we can to be a good people. Don't worry. I can give my smile for you, for you and for you. Terakhir, selalu menggangap orang lain sama dengan kita. Jangan merasa hebat, tapi jangan juga merasa bodoh. Hargailah sebuah kelemahan. bye..
Pos ini dipublikasikan di Catatan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s