Dakwah Lewat Teater

Meminta Maaf Lewat Penampilan Teater

Lebaran memang sudah berlalu. Namun, meminta maaf bisa dilakukan kapan saja. Tidak harus melalui momen lebaran. Bahkan, cara yang dilakukan untuk meminta maaf pun ada berragam. Ada yang langsung datang dan menjabat tangan, ada yang mengirim ucapan, mengirim sms, mengirim kado dan lain sebagainya.

Teater  Imambonjol juga punya cara tersendiri untuk menyatakan maaf. Lewat penampilan sederhana, mereka menyampaikan pesan dan permintaan maaf terhadap semua masyarakat IAIN Imam Bonjol. Baik itu, mahasiswa, dosen, hingga karyawan.

Jalan kesucian, begitu judul naskah yang ditampilkan di lapangan parkir Gedung Serba Guna IAIN Imam Bonjol Padang. Penampilan yang dilaksnakan pada Kamis (23/09) pagi itu mengangkat tentang realita manusia yang tidak pernah lepas dari kesalahan dan dosa.

Diperankan oleh anggota teater Imambonjol, penampilan ini memperlihat tentang seseorang yang terikat. Seseorang yang terikat tersebut diangkat oleh dua orang pria masuk ke dalam pangung. Dibelakangnya mengikut beberapa wanita sambil mengucapkan kata-kata secara serentak.

Lelaki yang terlilit kain tersebut diletakkan dalam panggung yang berada di lapangan parkir tersebut. Perlahan wanita-wanita bergerak dengan gesturnya masing-masing. Wanita lain juga mengikuti sambai membuka balutan kain yang melilit tokoh utama. Begitu hingga lilitan tersebut lepas. Sementara itu, mereka terus mengungkapkan dialog yang berhubungan betapa manusia tidak lepas dari kesalahan dan yang lain ikut menghujat pria yang terlilit.

Pria yang lepas dari lilitan tersebut dibawa keluar pangung. Ternyata, pemantasan belum selesai. Sesosok kepala muncul dari belakang pangung. Sosok kepala yang menembus kain latar pangung berteriak memanggil-manggil. Dari ujung penonton juga ada yang mengenakan jubah yang menutup seluiruh tubuhnya juga memanggil manggil. Orang-orang lainnya juga saling berteriak.Begitu sampai penampilan itu habis dan diikuti dengan musikalisasi puisi yang juga menyampaikan permintaan maaf.

Menurut Taufik Hidayatullah Ihsan, sutradara dan penulis naskah tersebut. Naskah ini bercerita tentang orang-orang yang tengah mencari jalan kesucian. Orang-orang yang tak luput dari kesalahan. Orang-orang yang selalu bergumul dengan dosa dan salah.

“Tak ada Gading yang tak gading yang tak retak. Hanyalah omong kosong belaka. Semua gading akan pecah. Tak ada guna kesucian yang bersih karena noda akan selalu menggerogoti. Noda-noda hilang akan selalu membekas. Begitulah terus perputarannya. Hingga manusia selalu tak pernah luput atas salah. Hanya bagaimana cara mempertahankan gading tersebut, bagiamana cara menjaga kesucian tersebut. Begitu yang mungkin bisa dilakukan,” ujar Mahasiswa Ekonomi Islam semester V ini.

Menurutnya lagi, penampilan ini dilakukan sebenarnya setelah lebaran. Nama penampilan ini adalah pesta fitri. Namun, karena kuliah baru masuk tanggal 20, jadi dipilih tanggal 23 saja. “Masih banyak mahasiswa yang belum masuk, kalau tanggal segini, sudah ada banyak mahasiswa yang masuk,” ujar cowok berkacamata tersebut.

Sedangkan mengenai persiapan, untuk penampilan ini tidak ada persiapan apa-apa. Namanya happening art, jadi adalah juga sebagai wadah untuk melatih bakat anggota teater. Para pemain satu hari sebelum acara diberikan naskah dan gambaran naskah. Sedangkan tugas mereka adalah mencari pengembangan terhadap naskah yang telah diberikan.

Selain itu, penampilan tersebut diakui Taufik juga untuk memberi penyuguhan terhadap masyarakat IAIN atas pesan yang terkandung dalam penampilan tersebut. Penampilan tersebut akan memberikan gambaran terhadap mahasiswa lain, betapa dosa dan kesalahan adalah sebuah hal yang tak bisa dihindari dari kehidupan manusia. “Ya mungkin semacam halal bi halal versi Teater Imambonjol lah acara ini,” tutur Taufik.

Sebelum penampilan yang berdurasi 30 menit ini ditampilkan. Seperti acara dan tradisi Teater Imam Bonjol, diadakan pembacaan puisi di tengah lapangan untuk menarik penonton. Tak hanya, anggota teater yang membacakan puisi, bahkan mahasiswa lain juga diberi kesempatan untuk membacakan puisi dan setelah penonton yang terkumpul cukup banyak, barulah diadakan penampilan.

Begitu cara yang dilakukan teater Imambonjol. “Semoga apa yang kita tampilkan tidak hanya sebuah penampilan seni tapi juga menanamkan pesan-pesan terhadap penonoton,” ujar Taufik Mengakhiri. (fresti aldi)

Tentang frestialdi

TercipTa dengan nama Fresti Aldi. Bukan nama minuman. Hanya saja mempunyai sedikit kemiripin. Entah siapa yang awalnya yang miliki nama tersebut. Yang jelas sampai sekarang enjoy aja dengan nama tersebut. Bahkan, nama tersebut juga memudahkan orang-orang untuk ingat dengan seorang Fresti Aldi. Selalu ingin menjadi yang terbaik buat orang lain. Selalu berpenempilan ceria walaupun dalam diri ada suatu masalah. Masalah itu akan akan besar kalau kita membesarkan masalah tersebut. Jangan pernah berharap sesuatu terjadi kalau kita tidak melakukan sesuatu, itulah prinsip hidup. Selalu tersenyum. Smile for All. With smile we can to be a good people. Don't worry. I can give my smile for you, for you and for you. Terakhir, selalu menggangap orang lain sama dengan kita. Jangan merasa hebat, tapi jangan juga merasa bodoh. Hargailah sebuah kelemahan. bye..
Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s