Launching Buku

“Waktu itu, kami sedang kuliah Bahasa Arab. 15 Menit lagi kuliah berakhir. Hanya ada tanya jawab biasa antara mahasiswa dengan dosen. Tapi, tiba-tiba bumi bergoncang hebat. Goncangan paling dashyat yang pernah kualami. Bahkan jalan saja jadi sempoyongan. Semua orang berlari keluar kelas. Di pintu utama semua orang berdesak-desakan. Bahkan, sepatu yang kukenakan entah copot dimana. Tak terpikirkan olehku bagaimana mencari sepatu itu. Yang  terpikir hanyalah bagaimana caranya keluar dari kelas ini dengan cepat. Sesudah di luar, gedung perkuliahan terlihat sangat memprihatinkan. Banyak yanng roboh, bahkan rumah-rumah sepanjang perjalanan  menuju kos juga banyak yang roboh. Kos ku juga ikut roboh. Tapi, alhmadulillah aku selamat, begitu juga dengan keluarga yang di Padang Panjang,” cerita Rizki Diana Rangkuti mengingat peristiwa gempa 2009 lalu.

Tak ada yang tak ingat peristiwa gempa setahun silam. Kejadian tersebut terjadi begitu cepat. Banyak duka yang ditinggalkan setelah peristiwa tersebut. Ada yang kehilangan rumah, kampus yang rusak, bahkan kehilangan saudara atau orang terdekat. Semua bencana tersebut tentunya menyisakan sedih yang mendalam.

Tahun ini, bulan ini tepatnya 30 September 2010 tepat setahun gempa yang melanda Sumatera Barat. Banyak yang sulit melupakan kejadian tersebut. Bahkan, membekas di memori hingga hari ini.

Setahun bencana gempa, banyak hal yang dilakukan untuk mengenang peristiwa tersebut. Ada yang mengenang dengan melakukan doa bersama kepada korban gempa. Ada yang melakukan asksi penggalangan dana. Ada pula yang mencoba menuliskannya dan menerbitkannya dalam bentuk buku.

Begitu yang dilakukan mahasiswa jurusan Jurnalistik, Fakultas Dakwah IAIN Imam Bonjol Padang. Mahasiswa semester III tersebut rencananya akan menerbitkan buku “Sebuah Catatan Hati” mengenang satu tahun gempa.

Buku tersebut akan dilanching pada hari Senin (04/10) di Aula Fakultas Dakwah IAIN Imam Bonjol Padang. Lewat buku tersebut, mahasiswa jurnalistik akan bercerita tentang pengalaman gempa yang melanda Sumbar ini.

Ada yang mencoba menuangkan tentang bentuk kekesalan yang terjadi di kampung halamannya. Semisalnya, Gusfanetti yang mengeluhkan tentang lambanan penanganan yang dilakukan oleh orang-orang di kampungnnya.

Ada juga yang mencoba menceritakan pengalamannya saat gempa datang. Pengalaman mencoba menyelematkan diri atas gempa yang melanda. Bahkan ada juga yang bercerita tentang kesulitan pulang kampung yang dihadapinya saat gempa terjadi.

Macam-macam tulisan yang ada dalam buku kumpulan catatan hati tersebut. Yang jelas buku tersebut mencoba mengenang peristiwa yang kita rasakan setahun yang lalu. Menurut Arjuna, ketua acara launching buku ini, buku ini sebenarnya adalah catatan tulisan mahasiswa jurnalistik waktu masih semester II. Hanya saja saat itu, buku ini belum bisa diselesaikan karena kenadala yang dihadapi. Namun, karena bulan ini bertepatan momennya dengan setahun bencana gempa, makanya penerbitan buku ini dilakukan dan dipercepat.

Dalam proses penerbitan tersebut, dilakukan oleh semua mahasiswa jurnalistik. Buku ini selain untuk mengenang peristiwa gempa lalu, juga untuk mejdai tempat praktik bagi mahasiswa jurnalistik untuk menulis. “Setelah diterbitkan buku ini, mudah-mudahan semangat untuk menulis terus berkembang dari teman-teman,” ujar Aidina Fitra.

Buku ini rencananya akan dijual di sekitar kampus. Rencananya, juga akan diadakan penggalangan dana untuk salah seorang pelajar korban gempa yang saat ini kakinya patah. Dalam soal penggalangan dana, tinggal menunggu konfirmasi dengan keluarga korbann.

Bahkan, dalam rencana launching ini, akan diadakan diskusi dan tanya jawab seputar gempa yang melanda Sumbar 2009 lalu. Tanya jawab ini juga seputar gempa Sumbar. Mungkin ada mahasiswa yang ingin menyampaikan ceritanya tentang bencana yang melanda mahasiswa. Mungkin akan ada keluhan atau cerita yang memprihatinkan tentang peristiwa ini. Buku ini bukan untuk mengingat-ngingat tentang peristiwa tersebut. “Buku ini adalah catatan hati mahasiswa. Mungkin akan menjadi pengobat trauma atas peristiwa tersebut,” ujar Arjuna.

Fresti aldi

Tentang frestialdi

TercipTa dengan nama Fresti Aldi. Bukan nama minuman. Hanya saja mempunyai sedikit kemiripin. Entah siapa yang awalnya yang miliki nama tersebut. Yang jelas sampai sekarang enjoy aja dengan nama tersebut. Bahkan, nama tersebut juga memudahkan orang-orang untuk ingat dengan seorang Fresti Aldi. Selalu ingin menjadi yang terbaik buat orang lain. Selalu berpenempilan ceria walaupun dalam diri ada suatu masalah. Masalah itu akan akan besar kalau kita membesarkan masalah tersebut. Jangan pernah berharap sesuatu terjadi kalau kita tidak melakukan sesuatu, itulah prinsip hidup. Selalu tersenyum. Smile for All. With smile we can to be a good people. Don't worry. I can give my smile for you, for you and for you. Terakhir, selalu menggangap orang lain sama dengan kita. Jangan merasa hebat, tapi jangan juga merasa bodoh. Hargailah sebuah kelemahan. bye..
Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s